Suatu ketika ada seorang pemimpin umat, yang belakangan beliau di
agungkan sebagai nabi besar. Namun semasa awal beliau menyebar syiar
sering diperolok sebagai majnun alias gila, beliau tak bisa
menghentikan kalimat syiar itu karena beliau sangat tahu dengan
senyata-nyatanya tentang apa yang disampaikan.
Wajar sekali ketika orang tidak mengerti akan menolak, menghujat
sesuatu yang baru didengar, jika yang baru didengar itu berbeda dengan
kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan sosial. Walau bukan sekali
orang yang tidak mengerti itu mendengar penyampaian maka tetap akan
menganggap gila penyampai jika orang tersebut masih tidak mengerti.
Aneh.
Jalan untuk menjadi waras, tidak aneh maka nabi harus merelakan,
membuang apa yang dia ketahui tentang kebenaran. Maka setelah itu nabi
akan waras seperti kebanyakan orang, hidup berlaku keji, keji adalah
hal umum, jika nabi seperti yang umum berarti normal.
Sayang nabi tidak melakukan.
Kasih aku mencintaimu dengan tak wajar.
Dan aku suka kamu tak seperti apa yang bisa aku sendiri gambarkan. Kau
lebih bagiku, lebih dari yang kau sendiri kira.
Aku tak akan pernah bisa menyatakan kebenaran seperti nabi.
12.04.2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengambil Gambar
Aku sempatkan mengambil gambar sederhana pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...
-
Tubuh Dewi masih terlihat sangat letih, letih tubuh juga perasaan. Dewi masih enggan untuk menemui Arya. Selalu timbul perasaan malu jika t...
-
Segala kemampuan yang dimiliki Beng bukanlah berarti menjadikan sesuatunya bisa lebih mudah. Jantung Urip berdegub lebih kuat begitu meng...
-
Waktu dan ruang selalu setia memberi kesempatan kepada alam dan seisinya untuk larut dalam pencariannya masing-masing, mempersilahkan hidup ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar