Bagaimana mungkin aku percaya pada pikiran, yang disetiap hembusan
nafas selalu menawarkan hidangan yang tak terbatas, merayu seluruh
komponen tubuh untuk mendengar khotbahnya. Memberi gambaran tentang
esok, minggu depan, bulan depan, tahun depan, bahkan jika mungkin
seratus tahun kedepan. Tentang kamu, atau tentang apa saja yang dapat
ditangkap pikiran tentu akan diubahnya menjadi pengandaian yang
menggoda untuk dicermati.
Ya, lebih celakanya lagi ketika pikiran mengasapi perasaan, hingga
memaksa otak cerdas untuk menghitung setiap kemungkinan yang
memungkinkan.
Nah sukses!. Pikiran mendapat pengikut, diawali dengan mulut yang
telah sedia untuk berkalimat manis, atau jemari yang tak henti
mengetik kalimat puja, menyusun kemungkinan yang serba, olah karya
otak cerdas.
Sedangkan alam yang tak pernah dusta akan terlihat seperti pendusta.
Bukankah jika kau tanam padi maka alam akan menumbuhkan padi, tak
mungkin menumbuhkan jati, tak sedikitpun berani mendusta apalagi
ingkar. Pun alam tak pernah jera ketika kejujurannya hanya mendapat
cibir. Ketika kejujurannya hanya mendapat kalimat "cuma itu? . Ah.."
Pikiran selalu diimani manusia, demi bisa menyandang predikat manusia
yang lebih tinggi derajat. Hingga bersedia menanggung beban berat akan
tanggung jawab semesta beserta isinya.
Bukan, aku tidak percaya esok, juga masa lalu. Masa lalu adalah
sekarang, esokpun juga sekarang.
Apapun masa laluku sekarang inilah hasilnya, tak perlu sesal apalagi
bangga. Inilah aku, yang nyata-nyata jelata. Jelata hasil dari malas
pada masa lalu. Hari ini kau bisa lihat aku, aku dari hasil dari masa
laluku.
Apapun esok, hari ini jua. Apa yang aku lakukan pada hari ini tentu
menentukan esok. Ya.. Hari ini aku malas, dan esok kau sudah tahu
jawabnya saat ini jua.
Hidup adalah pertanyaan masing-masing, bersama kesunyian pun kericuhan
masing-masing.
Akan tetapi aku pun kau bagian dari alam, sedangkan alam tak
sedikitpun dusta. Bukankah sekarang kita sedang mengimani pikiran
untuk ikut membangkang dari skenario alam. Seperti pembangkangan
iblis. Yang enggan sujud kepada Adam, walaupun itu perintah Tuhan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengambil Gambar
Aku sempatkan mengambil gambar sederhana pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...
-
Tubuh Dewi masih terlihat sangat letih, letih tubuh juga perasaan. Dewi masih enggan untuk menemui Arya. Selalu timbul perasaan malu jika t...
-
Segala kemampuan yang dimiliki Beng bukanlah berarti menjadikan sesuatunya bisa lebih mudah. Jantung Urip berdegub lebih kuat begitu meng...
-
Waktu dan ruang selalu setia memberi kesempatan kepada alam dan seisinya untuk larut dalam pencariannya masing-masing, mempersilahkan hidup ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar