Helai daun kering jatuh tertiup angin, kedua pihak masih saling
melempar senyum ejek yang sebenarnya lebih pada kehati-hatian dari
mereka untuk menunggu kemungkinan, sebelum keputusan yang jelas akan
fatal, tak ada suara mereka lagi, terasa sekali jika mereka bakal
kehilangan tata krama. Barang kali akan menjadi harga yang pantas
untuk mendapatkan monyet empat muka yang disebut sebagai monyet
keseimbangan itu, walau mereka juga sadar jika akan ada kemungkinan
terburuk sekalipun itu berarti harus menjadikan jiwa mereka sebagai
tumbal.
Nungkai menoleh kearah Nisa berharap Nisa mengerti apa yang harus
dilakukan tanpa harus memancing Mudya yang bisa memperburuk keadaan.
Benar tanpa ada kalimat dari Nungkai sekalipun Nisa sudah mengerti apa
yang dimaksud oleh Nungkai, namun Nisa ragu mengambil tindakan karena
dia melihat perempuan tua yang bersama Mudya sedang memejamkan mata,
dan itu terlihat seperti sedang mempersiapkan sihir.
"Percayalah" ucap Nungkai pada Nisa.
Tak mungkin rasanya jika Mudya tidak mengerti gelagat dari keduanya,
namun Mudya yang merasa diatas angin karena ditemani perempuan tua itu
hanya tertawa merendahkan, seolah sudah pasti Mudyalah yang akan
memenangkan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengambil Gambar
Aku sempatkan mengambil gambar sederhana pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...
-
Tubuh Dewi masih terlihat sangat letih, letih tubuh juga perasaan. Dewi masih enggan untuk menemui Arya. Selalu timbul perasaan malu jika t...
-
Segala kemampuan yang dimiliki Beng bukanlah berarti menjadikan sesuatunya bisa lebih mudah. Jantung Urip berdegub lebih kuat begitu meng...
-
Waktu dan ruang selalu setia memberi kesempatan kepada alam dan seisinya untuk larut dalam pencariannya masing-masing, mempersilahkan hidup ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar