Meninggalkan Angga, Pram, Salma juga tetua didalam hutan.
Kopi masih hangat, setelah hujan mereda dingin sudah jamak menguasi.
Aku memilih duduk di teras, tak ingin memikirkan apapun. Tak lama, apa
yang aku harapkan dari awal telah berubah, seluler menggoda, mengajak
membuka gmail kemudian mengetik susunan kalimat.
Untuk apa?
Kamu?
Jalan hidup semakin mengantarku pada penuaan, namun masih saja
menyisakan bodoh, seolah lebih menegaskan bahwa aku yang tak pernah
mau belajar dari yang telah terjadi. Sama sekali tak bisa menjadikan
lebih nyata dari apa yang sudah susah-susah aku pahami tentang
kehidupan. Aku tidak pernah mau memetik pelajaran. Hanya berusaha
mencari sebab dan akibat dari kejadian hidup.
Tahun demi tahun sudah terlalui, juga semua kenyataan jelas terpampang
seharusnya sudah cukup untuk aku juga kau memutuskan yang terbaik.
Kenyataannya tidak, aku malah takut kehilanganmu. Egois.
Alih-alih perbaikan, yang ada malah menyusun pembenar, meminta
diwajarkan, dan jika sudah terpepet maka aku akan mengatakan bahwa tak
bisa mendustakan hati dan perasaanku.
Aku suka kau, tak pernah peduli jika itu semua jauh dari kemungkinan.
Apa akibatnya.
Sedang esok menanti, lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang? aku tak
bisa menjawab. Aku hanya tahu masih sulit kehilanganmu.
Esok biar esok.
Entah bagaimana denganmu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengambil Gambar
Aku sempatkan mengambil gambar sederhana pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...
-
Tubuh Dewi masih terlihat sangat letih, letih tubuh juga perasaan. Dewi masih enggan untuk menemui Arya. Selalu timbul perasaan malu jika t...
-
Segala kemampuan yang dimiliki Beng bukanlah berarti menjadikan sesuatunya bisa lebih mudah. Jantung Urip berdegub lebih kuat begitu meng...
-
Waktu dan ruang selalu setia memberi kesempatan kepada alam dan seisinya untuk larut dalam pencariannya masing-masing, mempersilahkan hidup ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar