"Jiwaku bukanlah di tubuhku, bukan dihati tapi diapa yang aku bangun
dalam pikiranku. Aku menguasai mantra atas dasar logika bukan atas
dasar percaya" bisik Urip ditelinga kanan Salma.
Salma merasa tubuhnya seperti terikat yang hanya bisa membiarkan Urip
memeluk dari belakang dengan kedua tangan Urip terasa mulai nakal .
Salma terlihat pucat ketika Urip mendekatkan wajah ke lehernya hingga
terasa sekali hangat nafas Urip menerpa kulitnya yang lembut seperti
mentega.
Peluk yang sudah terlalu lama Salma lupakan.
"Kau gila" ucap Salma dengan bibir setengah bergetar tak mampu menahan
dorongan dari dalam tubuh dewasanya sendiri.
Bulan terdiam membiarkan apa yang sedang terjadi. Iblis tersenyum dan
malaikat setia mencatat secara rinci tiap hembusan nafas birahi dari
keduanya. Angin dengan sinis membersitkan kalimat caci "jangan pernah
menganggap lemah atau lebih sesuatu, anggapan yang kau ukurkan
terhadap sesuatu itulah sebenarnya keberadaanmu sendiri"
Barangkali keduanya sedang belajar mengerti apa arti kehidupan, yang
bukan sebesar atau sekecil yang pernah terdengar, kecuali keduanya
akan melalui sendiri.
Tak ada yang perlu disesali atau dibanggakan tapi keduanya harus
hadapi dengan kelegaan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengambil Gambar
Aku sempatkan mengambil gambar sederhana pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...
-
Tubuh Dewi masih terlihat sangat letih, letih tubuh juga perasaan. Dewi masih enggan untuk menemui Arya. Selalu timbul perasaan malu jika t...
-
Segala kemampuan yang dimiliki Beng bukanlah berarti menjadikan sesuatunya bisa lebih mudah. Jantung Urip berdegub lebih kuat begitu meng...
-
Waktu dan ruang selalu setia memberi kesempatan kepada alam dan seisinya untuk larut dalam pencariannya masing-masing, mempersilahkan hidup ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar