Narang harus berjuang lebih keras.
Ditempat lain pencarian Tanah Dalam oleh Beng bersama Urip pun Dimah
harus terhenti lagi, karena sebentar lagi malam juga langit yang
terlihat sangat mendung.
"Senyum? Tentu dia tersenyum, tapi itu hampir tak terlihat, senyum
yang lebih banyak disembunyikan ketika ada yang diingat, ketika dia
teringat kekasihnya, ingat saat mata bertemu dan jantung berdetak
lebih kencang.
Tentu masa lalu akan membekas, walau secara teknis mereka lupa, atau
setidaknya akal waras telah berusaha mengambil porsi di ruang yang
nyata.
Ah,,, sudahlah, Arya telah mati membawa segumpal cerita cintanya
bersama Kemala" Urip meletakkan cangkir kaleng kosong diatas meja yang
telah lapuk.
Tempat istirahat mereka sekarang merupakan rumah kayu dimana Arya dulu
pernah menghabiskan waktu, mengisi hari dengan berusaha membuang
kecerdasan, hingga akhirnya bertemu Kemala, perempuan yang telah
mengajarkan banyak hal pada Arya.
Mata Urip tertuju pada tulisan yang terpahat di bagian tepi meja KEMALA.
"Kau pernah bertemu Kemala?" tanya Dimah.
"Tidak" jawab Urip.
"Aku bisa merasakan cinta mereka" sambung Urip lagi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengambil Gambar
Aku sempatkan mengambil gambar sederhana pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...
-
Tubuh Dewi masih terlihat sangat letih, letih tubuh juga perasaan. Dewi masih enggan untuk menemui Arya. Selalu timbul perasaan malu jika t...
-
Segala kemampuan yang dimiliki Beng bukanlah berarti menjadikan sesuatunya bisa lebih mudah. Jantung Urip berdegub lebih kuat begitu meng...
-
Waktu dan ruang selalu setia memberi kesempatan kepada alam dan seisinya untuk larut dalam pencariannya masing-masing, mempersilahkan hidup ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar