"Setiap terjawab dari apa yang kau tanyakan selalu menyisakan
pertanyaan baru, lalu bagaimana aku bisa memenuhi pertanyaan yang
sebenarnya kau sendiri buat?
Angga lebih cerdas dari kau. Dia diam dia tidak bertanya, apalagi
menjawab. Angga temanmu tahu bahwa apa yang dia tidak mengerti malah
jawaban yang sebenarnya, karena mengerti hanya ada di pikiran dan itu
semu. Setinggi apapun yang kau cari akan berakhir pada tidak tahu.
Maka diamlah, luruhkan apa-apa yang ada di kepalamu. Biar, biar tak
perlu kau pikirkan esok atau apa yang telah berlalu, niscaya semesta
sekalian alam akan mengajari apa yang kau tidak pernah tahu" terdengar
agak parau suara laki-laki yang sudah berdiri di depan Pram.
"Siapa kau?"
"Bukankah kau mencariku? aku Nungkai"
Jauh dari yang Pram bayangkan, Pram tidak menyangka akan bertemu
Nungkai secepat itu.
"Angga pun kekasihnya sudah siap dengan segala kemungkinan sejak awal
mereka berjumpa, mereka sudah tahu jika segalanya tidak akan mudah,
tapi permainan yang mereka mainkan setidaknya akan memberi arti akan
hidup, setidaknya mereka menemukan arti dari apa itu kekasih"
"Bagaimana kau bisa tahu Angga" Pram terkejut karena Nungkai banyak
mengetahui tentang Angga.
Nungkai tidak menjawab, tapi senyum Nungkai sudah menjelaskan lebih
dari yang Pram harap.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengambil Gambar
Aku sempatkan mengambil gambar sederhana pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...
-
Tubuh Dewi masih terlihat sangat letih, letih tubuh juga perasaan. Dewi masih enggan untuk menemui Arya. Selalu timbul perasaan malu jika t...
-
Segala kemampuan yang dimiliki Beng bukanlah berarti menjadikan sesuatunya bisa lebih mudah. Jantung Urip berdegub lebih kuat begitu meng...
-
Waktu dan ruang selalu setia memberi kesempatan kepada alam dan seisinya untuk larut dalam pencariannya masing-masing, mempersilahkan hidup ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar