Kerinduan yang ada sudah tak memerlukan alasan. Alasan sekedar dalih menutupi rasa yang teramat sulit diucap. Cinta mungkin sederhana dalam ujud kalimat, tapi rasa teramat sulit diurai, dan ketika cinta berlabuh di hati, terasa mabuk kepayang, lalai dengan yang lain kecuali dia semata yang ada. Kalimat darinya bak pelepas segala gulana jiwa. Ah.. Cinta.
Ketika cinta menghedaki langkah yang lebih pasti, aku mulai terjebak. "Andai aku memilikinya" selalu itu kalimat yang terlintas, ketika galau jiwa mulai menyusup dan menampakkan ujudnya.
Bukankah kalimat memiliki menjadi terasa lebih besar porsi kuasa atas yang dimiliki. Apakah cinta berarti meguasai atas yang dicintai, bukankah aku sering semauku atas sesuatu yang aku miliki. Bukankah itu berarti menjajah? Memiliki, aku jadi ragu.
Atau cinta kita artikan kepercayaan kepada yang kita cintai, mungkinkah?
Atau...
1.28.2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengambil Gambar
Aku sempatkan mengambil gambar sederhana pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...
-
Tubuh Dewi masih terlihat sangat letih, letih tubuh juga perasaan. Dewi masih enggan untuk menemui Arya. Selalu timbul perasaan malu jika t...
-
Segala kemampuan yang dimiliki Beng bukanlah berarti menjadikan sesuatunya bisa lebih mudah. Jantung Urip berdegub lebih kuat begitu meng...
-
Waktu dan ruang selalu setia memberi kesempatan kepada alam dan seisinya untuk larut dalam pencariannya masing-masing, mempersilahkan hidup ...
2 komentar:
abourcase“Aku mencintai-Mu dengan dua cinta: cinta yang penuh gairah dan cinta yang Kau berhak atasnya
Kusebut cinta yang penuh gairah
Karena aku tak bisa mengingat selain diri-Mu
Kusebut cinta yang Kau berhak atasnya
Karena Kau telah menyikap hijab hingga aku bisa melihat-Mu
Tak patut pujian untuk diriku karena hal ini dan itu
Segala pujian hanya untuk diri-Mu”
Rabi’ah Adawiyah
Sungguh bersyukur teramat dalam ketika kalimat yang tersampaikan telah terasa dijiwa mbak yang tenang, terasa ruh ikhlas tersisip diantara kalimat, tentu akan aku coba pahami lagi hingga terasa di kehidupan, walau setengah dari hatiku bertanya mungkinkah aku menerima kesucian itu sedang aku terlahir setengah iblis.
Posting Komentar