Bagaimana mungkin masih dalam kendali sadar jika cinta telah meracuni ditiap alir darah, penolakan akal hanya akan menambah besar rasa kerinduan. Belenggu fisik menjadi abai, ikatan norma cerdas menjadi longgar
Hidup saatnya menampakkan ujud asli, tanpa rekayasa seperti yang norma dan etika ajarkan, semakin mendarah norma dan etika sosial maka makin dalam penyiksaan yang terasa.
Lalu kau bungkus cinta dengan kalimat, hingga yang kau cinta tersentuh kalimat sampai terluka. Mungkin kau tak pernah percaya terhadap rasa yang terasa dan bukan perasaan, sehingga tak cukup bahasa mata yang tak sedikitpun membersit dusta.
Tidakkah kau lalu menyalahkan hidup, yang telah mengantarmu pada keindahan tak terlukiskan, atau kau mulai menyadari, benar yang dikatakan bahwa kenikmatan tak lebih dari bisik kesesatan. Lalu bagaimana? haruskah kita bercengkrama dengan derita dan hampa sepanjang masa, seperti kata mereka bahwa itulah kebaikan.
Tapi sayang aku lebih mengabdi pada hidup dan hidup tidak pernah mengenal apapun, bukan pikiran yang mengenal prasangka baik atau buruk hingga terlontar kalimat baik atau buruk.
1.11.2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengambil Gambar
Aku sempatkan mengambil gambar sederhana pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...
-
Tubuh Dewi masih terlihat sangat letih, letih tubuh juga perasaan. Dewi masih enggan untuk menemui Arya. Selalu timbul perasaan malu jika t...
-
Segala kemampuan yang dimiliki Beng bukanlah berarti menjadikan sesuatunya bisa lebih mudah. Jantung Urip berdegub lebih kuat begitu meng...
-
Waktu dan ruang selalu setia memberi kesempatan kepada alam dan seisinya untuk larut dalam pencariannya masing-masing, mempersilahkan hidup ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar