"...tak banyak orang yang bisa memahami apa yang telah dilalui dan
seharusnya dia segera mencari penggantimu, agar jangan semakin dalam
sakit menusuk. Aku yakin dia lelah dengan semua, aku bisa merasakan
betapa kecewa itu nyata, pun juga akan sulit untuk menghapus semua
yang ada dalam ingatannya.
Kau bukanlah untuknya Rip, segeralah sadar, walaupun cinta itu ada,
yakinlah itu hanya seperti mimpi panjang yang tak akan pernah usai
dan pasti sangat tidak mengenakan mengharap peluk yang tak kunjung
tiba. Kau kejam, kau egois, apa yang kau pikirkan.
Rip, kini aku tahu bahwa benar yang orang-orang katakan tentangmu, kau
lebih gila dari semua orang yang pernah aku temui" ujar Dimah sambil
menata perbekalan, sedang Beng hanya tersenyum mendengar Dimah ngomel.
Ketiganya pagi itu berangkat menuju Tanah Dalam atas undangan yang
telah disampaikan melalui Lehar. Langit cerah, tanah masih basah bekas
hujan tadi malam.
"Jaman sedemikian modern dengan berbagai kemudahan tekhnologi masih
saja orang Tanah Dalam mengirim undangan menggunakan jasa atar, maka
yang diantar hanya sebilah ranting kering.
Kan bisa sms ..." celetuk Urip sementara tangan kanannya masih
memegang ranting yang diberikan Lehar malam itu. Urip sebenarnya hanya
berusaha mengalihkan perhatian, menghidari Dimah yang semakin sewot.
Ternyata berakibat positif untuk Urip, karena Dimah yang tadinya
tampak serius kini terlihat menahan tawa menutupi geli mendengar Urip,
sedang Beng tertawa mendengar betapa konyol Urip.
"Namanya sudah Tanah Dalam, semua orang sudah tahu akan keberadaannya
yang jauh di dalam hutan. Nah..., sekarang aku tanya, mengapa kita
nggak menuju Tanah Dalam dengan menggunakan mobil saja, atau
setidaknya menggunakan transportasi lain yang lebih sederhana, sepeda
motor barangkali" jawab Beng.
3.05.2013
3.04.2013
Urip
Urip terpaku mendengar ucapan Narang. Dia sadar apa kedepan yang dia
bakal hadapi. Tak jauh beda dirinya dengan Arya yang membiarkan
kekasihnya membeku menjalani hari-hari yang terasa melelahkan.
"Kasih maafkan aku" ucap Urip lirih penuh sesal.
bakal hadapi. Tak jauh beda dirinya dengan Arya yang membiarkan
kekasihnya membeku menjalani hari-hari yang terasa melelahkan.
"Kasih maafkan aku" ucap Urip lirih penuh sesal.
Pilihan Narang
Narang tergugah, ketika Lehar menyampaikan tegur padanya, terasa ada
yang menyentuh lubuk hati. Bukankah dia telah bekerja keras menjalani
pilihan hidup demi mimpinya. Dia sadar untuk apa seharusnya dia
diadakan dan memang kekuatan itu ada dalam darahnya yang mengalir.
Seharusnya dia perlu berfikir sebelum mengambil keputusan, masa bodoh
dengan kesetiaan
"Bertindak dengan cerdas seharusnya, itu yang barang kali datu
harapkan, tapi sayangnya insting makhluk sosial lebih menuntunku,
walaupun itu berarti menjadikanku harus binasa seperti Arya yang
lenyap bersama kisah cintanya yang selalu digenggam juga kesetiaannya
kepada orang-orang yang dicintai" ucap Narang untuk memastikan bahwa
dia tahu apa yang seharusnya dilakukan.
yang menyentuh lubuk hati. Bukankah dia telah bekerja keras menjalani
pilihan hidup demi mimpinya. Dia sadar untuk apa seharusnya dia
diadakan dan memang kekuatan itu ada dalam darahnya yang mengalir.
Seharusnya dia perlu berfikir sebelum mengambil keputusan, masa bodoh
dengan kesetiaan
"Bertindak dengan cerdas seharusnya, itu yang barang kali datu
harapkan, tapi sayangnya insting makhluk sosial lebih menuntunku,
walaupun itu berarti menjadikanku harus binasa seperti Arya yang
lenyap bersama kisah cintanya yang selalu digenggam juga kesetiaannya
kepada orang-orang yang dicintai" ucap Narang untuk memastikan bahwa
dia tahu apa yang seharusnya dilakukan.
2.28.2013
Kehadiran Lehar
":...Ada yang menggeser pohon pembatas antara Tanah Luar dengan Tanah
Dalam, dan kita berada di Tanah Luar yang berbatasan langsung tentu
akan merasa kurang enak karena pohon pembatas itu bergeser kearah
Tanah Dalam, walaupun mereka tak menuduh kita secara..." Nungkai
menghentikan kalimat.
"Ada apa Nung..." belum lagi melanjutkan kalimatnya namun tangan
Nungkai telah menyentuh pundak Beng, tanda agar menahan dulu
pertanyaan, pun yang lain sudah faham.
Udara dingin terbawa angin masuk kedalam ruang, hanya sunyi dan tak
terjadi apapun.
"Seharusnya tamu mengucapkan salam sebelum masuk ruang" suara Nungkai
memecah menimbulkan sedikit gema.
Belum lagi selesai tanya dalam hati namun suara parau setengah tawa
telah tepat berada disebelah kiri Dimah hingga mengagetkannya lebih
awal.
"Masalah, ya... Masalah, kami yang orang Tanah Dalam tidak sebersitpun
menganggap pergeseran itu sebagai masalah. Masalah tak akan pernah ada
kecuali kepada orang yang memang bermasalah, selama seseorang tidak
bermasalah maka masalah itu tak pernah ada. Jangan kau ambil hati
ucapanku saudaraku" ucap Lehar sambil meletakkan ranting kering diatas
meja.
Kehadiran Lehar sangat mengejutkan yang lain, mereka tak tahu kapan
kehadiran Lehar, semua terbungkam seolah kelu lidah. Apalagi Dimah,
bahkan untuk bernafaspun dia rasa tak mampu.
Suasana perselisihan terselubung terasa kental, Nungkai terdiam, dia
sangat tahu diri jika harus berhadapan dengan Lehar yang sangat
kesohor di Tanah Luar. Menurut kabar Lehar telah berusia 190 tahun,
desas-desusnya beliau sudah tidak lagi ada di alam nyata, namun malam
itu mungkin tak akan bisa dilupakan oleh semua yang hadir, mereka baru
kali ini bisa bertatap muka dengan seorang legenda, namun tidak bagi
Nungkai.
Tak seperti nama besarnya, Lehar hanya memiliki tubuh yang kecil,
mungkin tinnginya tak lebih dari 155 cm, tidak terlalu kurus, dengan
warna kulit yang terlalu pucat. Ada sangat jelas bahwa Lehar adalah
orang yang terlalu banyak menghabiskan waktu sendirian.
"Urip..., aku turut berduka atas tewasnya Arya, dia sudah aku
peringatkan waktu itu, tapi dia keras kepala, dia terlalu lemah
dihadapan Wahab pun Yana. Rupanya aku telah salah dengan mengirim Dewi
untuk membantu Arya, Dewi...,bernasib tak jauh beda dengan Arya.
Apa kau juga akan memilih jalan seperti Arya?
Dan kau Narang, putra dari Ladu yang kesohor dipengobatan. Mengapa kau
harus memilih berkumpul disini? seharusnya kau dirumah, damailah dalam
keluarga, disana kau lebih berguna"
Apapun yang diucapkan Lehar terasa sangat menekan dan menimbulkan
firasat yang sangat buruk, hanya Nungkai yang terlihat mulai tenang,
bahkan wajah Nungkai telah berubah licik.
"Nungkai, keputusan tersulit bukanlah menghadapi mati, namun bagaimana
kita sadar bahwa untuk hiduppun kita tidak berhak. Tak perlu kau
repot, aku tidak akan lama, simpan mantramu, aku bukan orang yang
bermasalah, tentu aku tak memiliki masalah yang bisa aku tinggalkan
disini. Cukup kau tahu itu" Lehar menggakhiri kalimat dengan senyum
yang ramah tapi membersit arti yang lain.
Dalam, dan kita berada di Tanah Luar yang berbatasan langsung tentu
akan merasa kurang enak karena pohon pembatas itu bergeser kearah
Tanah Dalam, walaupun mereka tak menuduh kita secara..." Nungkai
menghentikan kalimat.
"Ada apa Nung..." belum lagi melanjutkan kalimatnya namun tangan
Nungkai telah menyentuh pundak Beng, tanda agar menahan dulu
pertanyaan, pun yang lain sudah faham.
Udara dingin terbawa angin masuk kedalam ruang, hanya sunyi dan tak
terjadi apapun.
"Seharusnya tamu mengucapkan salam sebelum masuk ruang" suara Nungkai
memecah menimbulkan sedikit gema.
Belum lagi selesai tanya dalam hati namun suara parau setengah tawa
telah tepat berada disebelah kiri Dimah hingga mengagetkannya lebih
awal.
"Masalah, ya... Masalah, kami yang orang Tanah Dalam tidak sebersitpun
menganggap pergeseran itu sebagai masalah. Masalah tak akan pernah ada
kecuali kepada orang yang memang bermasalah, selama seseorang tidak
bermasalah maka masalah itu tak pernah ada. Jangan kau ambil hati
ucapanku saudaraku" ucap Lehar sambil meletakkan ranting kering diatas
meja.
Kehadiran Lehar sangat mengejutkan yang lain, mereka tak tahu kapan
kehadiran Lehar, semua terbungkam seolah kelu lidah. Apalagi Dimah,
bahkan untuk bernafaspun dia rasa tak mampu.
Suasana perselisihan terselubung terasa kental, Nungkai terdiam, dia
sangat tahu diri jika harus berhadapan dengan Lehar yang sangat
kesohor di Tanah Luar. Menurut kabar Lehar telah berusia 190 tahun,
desas-desusnya beliau sudah tidak lagi ada di alam nyata, namun malam
itu mungkin tak akan bisa dilupakan oleh semua yang hadir, mereka baru
kali ini bisa bertatap muka dengan seorang legenda, namun tidak bagi
Nungkai.
Tak seperti nama besarnya, Lehar hanya memiliki tubuh yang kecil,
mungkin tinnginya tak lebih dari 155 cm, tidak terlalu kurus, dengan
warna kulit yang terlalu pucat. Ada sangat jelas bahwa Lehar adalah
orang yang terlalu banyak menghabiskan waktu sendirian.
"Urip..., aku turut berduka atas tewasnya Arya, dia sudah aku
peringatkan waktu itu, tapi dia keras kepala, dia terlalu lemah
dihadapan Wahab pun Yana. Rupanya aku telah salah dengan mengirim Dewi
untuk membantu Arya, Dewi...,bernasib tak jauh beda dengan Arya.
Apa kau juga akan memilih jalan seperti Arya?
Dan kau Narang, putra dari Ladu yang kesohor dipengobatan. Mengapa kau
harus memilih berkumpul disini? seharusnya kau dirumah, damailah dalam
keluarga, disana kau lebih berguna"
Apapun yang diucapkan Lehar terasa sangat menekan dan menimbulkan
firasat yang sangat buruk, hanya Nungkai yang terlihat mulai tenang,
bahkan wajah Nungkai telah berubah licik.
"Nungkai, keputusan tersulit bukanlah menghadapi mati, namun bagaimana
kita sadar bahwa untuk hiduppun kita tidak berhak. Tak perlu kau
repot, aku tidak akan lama, simpan mantramu, aku bukan orang yang
bermasalah, tentu aku tak memiliki masalah yang bisa aku tinggalkan
disini. Cukup kau tahu itu" Lehar menggakhiri kalimat dengan senyum
yang ramah tapi membersit arti yang lain.
2.26.2013
Bisik Beng
Beng tertawa, dia sama sekali tak heran mendengar ucapan Aluh. Dulu,
sejak dulu Aluh memang selalu keras terhadap Urip, pun Urip tak jauh
beda. Kebencian keduanya tak lebih pada kebenciannya terhadap diri
mereka sendiri-sendiri yang tak pernah bisa mengungkapkan perasaan,
mereka sama-sama tak mampu melalui gengsi untuk kalimat "cinta".
Beng sangat tahu jika Aluh hanya bisa membenci setiap malam-malam
sempurna, saat purnama penuh, saat yang sempurna untuk berpadu kasih,
sedang wajah Urip terus membayang memperdalam kebencian.
"setidaknya kau bahagia bisa memandang Urip" bisik Beng pada Aluh.
Ucapan Beng tentu menjadikan Aluh geram, Bisik Beng terasa makin
mengejeknya.
Sementara Nungkai telah selesai mendiskusikan arah pembahasan bersama
Narang dan kini tinggal menunggu saat yang tepat untuk mengambil alih
perhatian dari semua yang diundang.
sejak dulu Aluh memang selalu keras terhadap Urip, pun Urip tak jauh
beda. Kebencian keduanya tak lebih pada kebenciannya terhadap diri
mereka sendiri-sendiri yang tak pernah bisa mengungkapkan perasaan,
mereka sama-sama tak mampu melalui gengsi untuk kalimat "cinta".
Beng sangat tahu jika Aluh hanya bisa membenci setiap malam-malam
sempurna, saat purnama penuh, saat yang sempurna untuk berpadu kasih,
sedang wajah Urip terus membayang memperdalam kebencian.
"setidaknya kau bahagia bisa memandang Urip" bisik Beng pada Aluh.
Ucapan Beng tentu menjadikan Aluh geram, Bisik Beng terasa makin
mengejeknya.
Sementara Nungkai telah selesai mendiskusikan arah pembahasan bersama
Narang dan kini tinggal menunggu saat yang tepat untuk mengambil alih
perhatian dari semua yang diundang.
2.24.2013
Ejek Aluh
Tak seperti yang Narang pikirkan, rupanya ada dua orang perempuan yang
juga turut hadir disitu, ini berbeda dengan undangan-undangan
sebelumnya.
Belum lagi selesai tanya dalam hati Narang sudah tertambah kejutnya
mendengar celetuk Aluh.
"Urip" yang lain juga tersentak mendengar Aluh bersuara cukup lantang.
Sedang Urip yang merasa dipanggil merasa was mendengar perempuan itu
yang menyebut namanya, Urip tak kembali menyahuti tapi hanya
mengarahkan pandang pada Aluh.
"Aku dengar kau gencar mengubah cara pandang saint, pengobatan dan
juga agama. Apa yang kau pikirkan, atau mungkin jiwamu sudah terlalu
lelah?" tanya Aluh. Sedang Urip terlihat ragu untuk menjawab, Urip
merasa tak perlu ada alasan yang harus.
"Aku heran mengapa kau berubah menjadi pendiam, atau jangan-jangan kau
dikebiri perempuan itu ya?" semua yang hadir tertawa kecil mendengar
oceh Aluh. Sedang Urip terpaksa tersenyum kecut dan tak
tersembunyikan.
"Sudahlah Aluh" terdengar Nungkai melerai, demi meredam suasana yang
kurang menguntungkan itu, sedang Dimah yang duduk di sebelah Nungkai
hanya menunduk, Dimah berusaha menjaga sikap, dia tahu diri akan
keperempuannya. Tampak kondisi sudah terlanjur memancing. Seharusnya
pertemuan membahas keberadaan tanah adat yang mulai terusik tapi
sentimen individu rupanya mendahului.
"Yang aku tahu pengetahuan sama seperti api yang membesar pada
tumpukan ranting kering entah darimana membesarnya. Dia akan membesar
dengan sendirinya selama tumpukan kayu itu masih terjaga. Tapi ketika
kau kurangi tumpukan rantingnya tentu dengan sendirinya jua api itu
akan mengecil hingga tak lagi akan cukup menghangatkan tubuh.
Aku telah menarik sebagian besar ranting hingga api yang ada tak lagi
cukup untuk diriku sendiri.
Tidak memainkan game bukan berarti kalah, justru kau menang tanpa
bertarung, walaupun kebanyakan orang akan mengatakan itu sangat buruk
tapi setidaknya kau masih hidup, daripada bertarung dengan menang tapi
jadi arang pun ketika kalah jadi abu. Orang bijak mengatakan kesabaran
mampu mengalahkan strategi agresif lawan" Urip mencoba agar sedikit
terobati emosi Aluh, Urip berharap ketidaknyamanan sedikit terurai.
juga turut hadir disitu, ini berbeda dengan undangan-undangan
sebelumnya.
Belum lagi selesai tanya dalam hati Narang sudah tertambah kejutnya
mendengar celetuk Aluh.
"Urip" yang lain juga tersentak mendengar Aluh bersuara cukup lantang.
Sedang Urip yang merasa dipanggil merasa was mendengar perempuan itu
yang menyebut namanya, Urip tak kembali menyahuti tapi hanya
mengarahkan pandang pada Aluh.
"Aku dengar kau gencar mengubah cara pandang saint, pengobatan dan
juga agama. Apa yang kau pikirkan, atau mungkin jiwamu sudah terlalu
lelah?" tanya Aluh. Sedang Urip terlihat ragu untuk menjawab, Urip
merasa tak perlu ada alasan yang harus.
"Aku heran mengapa kau berubah menjadi pendiam, atau jangan-jangan kau
dikebiri perempuan itu ya?" semua yang hadir tertawa kecil mendengar
oceh Aluh. Sedang Urip terpaksa tersenyum kecut dan tak
tersembunyikan.
"Sudahlah Aluh" terdengar Nungkai melerai, demi meredam suasana yang
kurang menguntungkan itu, sedang Dimah yang duduk di sebelah Nungkai
hanya menunduk, Dimah berusaha menjaga sikap, dia tahu diri akan
keperempuannya. Tampak kondisi sudah terlanjur memancing. Seharusnya
pertemuan membahas keberadaan tanah adat yang mulai terusik tapi
sentimen individu rupanya mendahului.
"Yang aku tahu pengetahuan sama seperti api yang membesar pada
tumpukan ranting kering entah darimana membesarnya. Dia akan membesar
dengan sendirinya selama tumpukan kayu itu masih terjaga. Tapi ketika
kau kurangi tumpukan rantingnya tentu dengan sendirinya jua api itu
akan mengecil hingga tak lagi akan cukup menghangatkan tubuh.
Aku telah menarik sebagian besar ranting hingga api yang ada tak lagi
cukup untuk diriku sendiri.
Tidak memainkan game bukan berarti kalah, justru kau menang tanpa
bertarung, walaupun kebanyakan orang akan mengatakan itu sangat buruk
tapi setidaknya kau masih hidup, daripada bertarung dengan menang tapi
jadi arang pun ketika kalah jadi abu. Orang bijak mengatakan kesabaran
mampu mengalahkan strategi agresif lawan" Urip mencoba agar sedikit
terobati emosi Aluh, Urip berharap ketidaknyamanan sedikit terurai.
2.21.2013
Ragu
Dalam hati Narang mengakui jika Nungkai sangat baik dan jujur, namun
ada spirit aneh dalam tubuh Nungkai yang tidak pernah dia mengerti,
tak jauh beda dengan Galih, keduanya telah berusia 40 tahunan lebih,
namun mereka masih tak pernah bisa berfikir untuk hidup selayaknya
usia itu. Seharusnya mereka bisa tinggal di rumah ditemani seorang
istri dan juga anak-anak yang sedang tumbuh kembang.
Galih memiliki tubuh yang lebih rendah dibandingkan dengan yang lain.
Galih memiliki ilusi yang selangit hingga kadang sulit membedakan
kalimat yang diucapkannya itu benar-benar ada atau hanya ilusinya
saja.
Undangan dari Nungkai terasa berat bagi Narang, hampir tidak bisa
untuk memberikan label baik atau buruk, yang Narang rasakan semua
hanya akan menjadikan para dewasa memiliki otak setengah, terasa
lebih pada meracuni otak waras.
ada spirit aneh dalam tubuh Nungkai yang tidak pernah dia mengerti,
tak jauh beda dengan Galih, keduanya telah berusia 40 tahunan lebih,
namun mereka masih tak pernah bisa berfikir untuk hidup selayaknya
usia itu. Seharusnya mereka bisa tinggal di rumah ditemani seorang
istri dan juga anak-anak yang sedang tumbuh kembang.
Galih memiliki tubuh yang lebih rendah dibandingkan dengan yang lain.
Galih memiliki ilusi yang selangit hingga kadang sulit membedakan
kalimat yang diucapkannya itu benar-benar ada atau hanya ilusinya
saja.
Undangan dari Nungkai terasa berat bagi Narang, hampir tidak bisa
untuk memberikan label baik atau buruk, yang Narang rasakan semua
hanya akan menjadikan para dewasa memiliki otak setengah, terasa
lebih pada meracuni otak waras.
Langganan:
Postingan (Atom)
Mengambil Gambar
Aku sempatkan mengambil gambar sederhana pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...
-
Tubuh Dewi masih terlihat sangat letih, letih tubuh juga perasaan. Dewi masih enggan untuk menemui Arya. Selalu timbul perasaan malu jika t...
-
Waktu dan ruang selalu setia memberi kesempatan kepada alam dan seisinya untuk larut dalam pencariannya masing-masing, mempersilahkan hidup ...
-
Segala kemampuan yang dimiliki Beng bukanlah berarti menjadikan sesuatunya bisa lebih mudah. Jantung Urip berdegub lebih kuat begitu meng...