3.18.2013

Tentang Dia

Kasih, tentu aku masih ada untukmu, tak pernah beranjak, dan kau sungguh tahu itu.
Sama, dan sama dengan apa yang kau pikirkan. Pun aku akan bahagia
ketika kau menjadi biasa, berjalan pada alur yang seharusnya.
Bukankah cinta telah banyak mendewasakan aku pun kau yang sadar telah
makin tinggi usia.
Kasih, kau adalah yang terbaik dan terindah seumur hidupku...

"Nah, asmara kan?" Dimah meledek. Namun Urip hanya tersenyum dan tak
ingin meladeni ucapan Dimah. Tapi mudah ditebak jika itu tak akan
berlangsung lama, dan benar Urip perlahan mulai tak tahan melihat mata
Dimah yang lebih dalam meminta jawab, seolah memaksa penjelasan.
Nafas panjang menandakan Urip telah mengiklaskan untuk menutup buku
yang sedang ditulis.
"Yup, kau menang" Urip meminum teh yang sudah mendingin.
"Dia perempuan terindah yang aku kenal, dan dia berada di sangat jauh
sana, aku tak bisa menyentuh kulit lembut yang seharusnya aku sentuh.
Dengan menulis barangkali satu-satunya pelega bagiku, melepas
kegelisahan, menumpah apa yang ada di hati. Aku dan dia barangkali
seperti apa yang kau katakan, bukan tercipta untuk saling memiliki
atau lebih tepatnya dia diadakan bukan untukku, namun entah apa
sehingga rasa inginku selalu tertuju padanya, aku dan dia terjerat
tali rasa.
Sekarang kesadaranku hanya ingin melihat dia wajar seperti tak pernah
mengenalku, melupa mungkin tak mudah, menentukan prioritas dalam hidup
barangkali akan sedikit membantu" Urip meminum tehnya lagi, Urip
menganggap sudah cukup penjelasan yang diberikan pada Dimah, namun
setelah itu bukan kelegaan yang Urip dapat malah terlihat ada tersisa
di gurat wajahnya rasa salah, bukanlah salah pada Dimah, melainkan
pada kekasihnya dan perasaan itu terbaca oleh Dimah.
"Laki-laki selalu bisa berkelit. Tahu tidak, perempuan tidak akan
mudah mengungkap apa-apa yang ada di hati dan perasaannya, tak mungkin
perempuan yang melangkah, kecuali laki-laki. Yang aku terima dari
penjelasan tadi hanya kecewanya, karena kau tak kunjung melangkah
padanya...."

Setidaknya keduanya mulai terbiasa hidup dalam dunia yang
baru dipijak. Sedang Beng berada dalam rumah penduduk terlihat juga
sibuk berbicara dengan seseorang, entah apa yang dibicarakan,
kelihatanya serius.

Masih jauh perjalanan menuju Tanah Dalam yang mereka bertiga harus
tempuh, mungkin akan banyak hal yang tak terduga atau sebaliknya.
Sudah cukup lama waktu berlalu, Beng mengakhiri pembicaraan. Beng
melangkahkan kaki keluar rumah menghampiri Urip dan juga Dimah yang
tampak masih asyik berbincang. Namun ada yang terlihat lain di wajah
tua Beng, menandakan ada hal yang tidak menguntungkan dari hasil
pembicaraanya tadi.

3.15.2013

Kebingungan


Bagian yang paling tidak disukai Urip ketika harus dihadapkan sesuatu yang tidak logis, setengah hati Urip bertanya apa manfaat dalam  kehidupan segala yang sedang dilakukannya bersama Beng dan juga Dimah. Terasa lebih pada pembodohan akal waras.
Sedang Beng bersama Dimah telah lebih dulu melangkahkan kaki, namun Urip masih sibuk bertanya-tanya bagaimana mungkin ranting kayu pemberian Lehar bisa berubah menjadi pisau perak, setengah hati Urip curiga jika Beng telah melakukan tipuan, tapi apa untungnya bagi Beng.

Tak habis pikir, barangkali hanya mimpi. Urip mengambil nafas dalam-dalam, aroma harum kenanga tipis bersamaan udara lembab yang masuk kerongga hidung malah lebih memastikan jika semuanya nyata. Tak memberi pilihan lain kecuali Urip harus menyusul keduanya agar jangan tertinggal jauh.
Yang terasa berbeda pada perkampungan umumnya di tanah Borneo ada pada jarak bangunan satu dengan yang lainnya terasa terlalu jauh, juga tak begitu terlihat penduduk beraktifitas, lengang.

3.13.2013

Pagi

"Ada apa Beng?" Urip merasa ada yang berbeda. Urip yakin jika tempat
dia berpijak sudah berubah dari yang kemarin, sedang dia merasa belum
beranjak dari tempat itu.
"Aku kenal daerah ini, kalian jangan jauh dariku!" berucap sambil
kedua mata Beng memperhatikan disekitar, perasaannya mengatakan jika
ini bukanlah hal yang baik, Beng mencoba menerka kemungkinan yang
bakal terjadi, dia sadar akan hal buruk sudah terlalu dekat.
"Bangunkan Dimah, jangan sampai dia terkejut!" ucap Beng.
Suasana terasa sangat sunyi, pagi-pagi ketiganya sudah harus bertemu
hal yang tak diduga sama sekali.
Tak ada pilihan lain, Beng menutup kedua mata dengan kepala semakin
menunduk, sedang kedua tangannya mulai bergerak lembut diikuti dengan
gerak di kakinya. Gerak gemulai Beng lebih seperti orang yang sedang
menari.
Sedang Dimah masih berusaha menata kesadarannya yang baru bangkit dari
lelap, Dimah sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang
terjadi, namun tak lama kemudian dia mulai sadar jika Beng sedang
reaktif terhadap sesuatu, Dimah mengenali gerakan Beng semacam tari
yang digunakan untuk teluh.
Tapi baru kali ini Urip melihat cara Beng menggunakan kemampuan yang
diceritakan banyak orang, menurut cerita Beng bisa memanggil roh angin
dan juga bisa mencipta pasukan dibawah mantra.
Entah pandangan mata atau langit pagi yang makin gelap, Urip merasa
seolah waktu berjalan mundur, namun tak begitu lama terasa kembali
normal dan semakin jelas terlihat sekitar, belum lagi selesai tanya
dalam hati Urip Pun Dimah sudah datang kejut lagi, karena mereka
mendapati diri telah berada di perkampungan penduduk yang terasa
asing.

(nah......, ada lagi tamu yang mengisi halamanku.
May be not enough your face, but don't worry, come anytime, I have more)

Make this festive season one to remember

Season's greetings from Ruby Palace casino.

Change the way you celebrate this festive season and visit Ruby Palace casino today.

Where dreams come true and riches beyond your imagination come to fruition.

Play on your favourite Vegas-style games like Roulette, Blackjack, Poker and awesome Video Slots.

Register today and you'll get a whopping 1,000EUR completely FREE to do with whatever u please.

Win on our progressive Slots; check out the revolutionary Tournaments, the choice is yours.

Play fun, play safe, play fair, play Ruby Palace casino today!
___Link here___

3.11.2013

Salam Urip

"Kau tampak masih menyimpan dia di hati" tanya Dimah sambil menata
kayu menjaga besaran api. Angin telah membawa dingin, dan di langit
bintang-bintang satu persatu menghilang tertutup awan, sedang Beng
sudah terlelap di dalam tenda.
"Barangkali dia sudah mengambil jalan yang tepat dengan berusaha
kembali pada jalur yang seharusnya, pun aku, akan lebih lega ketika
dia telah sepakat untuk melupa" Urip melepas nafas menyertakan salam
untuk orang yang selalu mengisi ruang ingatannya.
"Kasih kau yang terbaik" ucap Urip lirih.
Dimah tak ingin bersuara lagi, dia merasa telah salah mengajukan
pertanyaan. Hangat api hanya membawa keduanya untuk membisu dan
terlarut dalam pikiran masing-masing.

3.09.2013

Tinggi Malam

"Menurut kabar pemukiman orang-orang Tanah Dalam sangatlah jauh dari
batas yang kita ketahui itu, dan kabarnya pula disana bukanlah tempat
yang baik, kita hanya akan mendatangi petaka, secara teknis wilayah
itu tidak masuk dalam peta.
Tapi setidaknya aku masih tetap berusaha untuk mengendalikan rasa
takut" ucap Dimah
"Barangkali itulah yang menjadi alasan mengapa aku begitu
memikirkanmu, bukanlah soal Tanah Dalam, karena sepengetahuanku kau
hanya perempuan yang tertarik terhadap sastra, aku masih belum percaya
kau berada disini, dan aku rasa disini bukanlah tempat yang seharusnya
untukmu.
Namun kenyataannya kita sekarang berada ditempat yang benar sangat
jauh, seolah membawa kita pada masa yang telah lalu, jauh dari
peradaban.
Walaupun sesungguhnya aku taklah jauh beda denganmu, juga merasa ragu
apakah kita berada di jalur yang benar, lebih buruk lagi mungkinkah
kita akan bisa kembali" timpal Urip.

Beng tak hirau terhadap pembicaraan keduanya. Beng lebih tertarik
dengan isi buku yang akhir-akhir ini sering tertunda untuk dibacanya.

Malam semakin tinggi dan langit gelap penuh dengan bintang, api masih
cukup menghangatkan tubuh mereka bertiga.

3.07.2013

Senja

Urip sangat tahu jika situasi sudah berubah, tidak mungkin untuk
mengubah masa lalu, tapi setidaknya masa lalu telah memberi pelajaran.
Berkumpul dengan penyihir-penyihir hitam yang meramu tipu daya menjadi
pilihan terbaik, setidaknya untuk sesaat dia bisa sedikit melupa apa
yang memang tidak seharusnya.
Sebentar lagi malam, ada sayup terdengar dari jauh kumandang adzan,
tapi ketika Urip menoleh kearah suara dia mulai merasa ada sesuatu
yang buruk di dada, sesaat dia terdiam
"Ya Rob..." Urip berucap lirih, Urip merasa ada ketidakberesan dalam
hidupnya, ada keraguan terhadap apa yang telah selama ini dia lakukan,
Urip bimbang
"Rasanya aku telah melakukan hal yang salah tapi selalu berdalih untuk
minta di benarkan"

Dimah yang sedari tadi memperhatikan Urip mulai curiga, namun Dimah
hanya bisa menahan rasa ketika hasrat untuk menaya mulai mengusik.
Dimah hanya membiarkan Urip larut dalam perang menghadapi hatinya
sendiri.

Mengambil Gambar

Aku sempatkan mengambil gambar sederhana  pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...