4.08.2013

Melepas

Tak sekalipun bisa berlalu dari ingatan, walau dia telah berusaha
untuk kesekian kalinya.
Itu yang Beng katakan pada Salma tentang Urip dengan cintanya pada
perempuan yang terlanjur menyusup dalam setiap hembusan nafasnya.
Sedang kehidupan tak pernah sedetikpun sedia menunggu untuk
menjalankan ketentuan nasib.

Matahari terbit di timur dan ketiganya diantar Salma hingga pintu
pagar halaman. Salma masih tak percaya jika Urip orang yang telah
pernah menyentuh tubuhnya itu telah berlalu, sedang rasanya Salma
masih ingin mengetahui tentang Urip lebih jauh. Tapi kenyataan justru
lebih memaksa untuk menentukan langkah dari masing-masing keberadaan.
Mungkin takdir.

Masih berdiri di pintu pagar walau ketiganya telah hilang dari
pandangan. Akan seperti hari-hari sebelumnya yang sunyi, hanya ada
daun-daun dari pepohonan dan rumput menunduk terbasahi oleh embun di
pagi itu juga esok.

4.07.2013

Cintanya Di Mata

Dari balik jendela Beng memperhatikan Urip yang sedang duduk di tanah
di bawah taburan bintang-bintang. Beng awalnya ragu untuk menghampiri,
tapi akhirnya dibuang keraguan itu.

"Aku melihat ada cinta yang membelenggu di mata Dimah, cinta yang
ditujukan padamu, pun aku rasa cinta itu tak akan pernah bisa terucap
dari bibirnya.
Aku juga sangat tahu bila kau tak akan pernah bisa mencintainya karena
hatimu telah terisi oleh perempuan lain. Barangkali akan selalu begitu
cinta" sesaat Beng terdiam.
"Sejak tadi pagi aku perhatikan setiap kau bertemu pandang dengan
Salma seolah mata kalian telah sepakat untuk menyembunyikan sesuatu
yang sangat kalian jaga untuk tidak akan boleh orang lain tahu. Hatiku
mengatakan jika itu tanda bahwa antara kau pun Salma telah terjalin
hubungan" ucap Beng lagi.
Urip hanya terdiam, semua yang dikatakan oleh Beng memang benar dan
tak mungkin untuk dipungkiri. Urip tersenyum tanda membenarkan apa
yang telah diucapkan Beng.
"Perempuan memang memiliki kecenderungan menyimpan cintanya di hati,
cinta dari perempuan akan jelas terlihat dimatanya. Berbeda dengan
pria yang selalu dengan mudah mengucapkan kalimat cinta"
Urip terus saja mendengarkan apa yang diucapkan Beng dan sama sekali
tak ingin membahas lebih jauh.

4.06.2013

Sesal Tak Merubah

Senja mulai berlalu, matahari tenggelam di ufuk barat, semua kenangan dari apa yang telah dilalui Urip terakumulasi menjadikan makin gelap hari esok. Urip dengan sadar telah menafikan kecerdasan sosial serta emosi yang seharusnya menjadi dasar dari kehidupan manusia. Sangatlah Urip sadari telah berubah konstruksi prilaku pada dirinya.
Salma seharusnya seperti lukisan dengan segala keindahan yang hanya boleh dipandang dan seharusnya tak boleh disentuh. Tapi yang telah terjadi justru sebaliknya, Urip bukan sekedar memandang tapi telah menyentuh Salma, sedang Urip sangat tahu jika Salma adalah kekasih Nungkai, sahabat yang sangat mempercayai dirinya.

Catatan Urip


Suatu hubungan tidak harus memiliki bentuk yang bisa disebutkan seperti apa, terkadang kita akan membiarkan semua terlalui hingga hubungan itu bisa menemukan bentuknya sendiri atau tidak sama sekali.
Terkadang kita terlalu cepat menilai sebuah kebersamaan dan itu bisa berarti menyakitkan, pula bisa berarti akan tetap mengambil ruangnya sendiri di sebagian ingatan.

Urip menutup catatannya lalu menyandarkan tubuh pada dinding, ingatannya membuka pada banyak hal salah yang telah pernah dilakukan dan tentu itu tak akan mungkin bisa diperbaiki.  

4.04.2013

Di Balkon Atas

Urip menjaga Dimah yang masih lemas di pembaringan dengan sabar, tak
terlihat lagi kecemasan yang meliputinya, sedang Beng ditemani Salma
berada di balkon atas.
"Aku berharap Nungkai menemukan apa yang dia cari. Barangkali
sebagian orang hidup dengan mengejar sesuatu yang dia yakini benar,
hingga segalanya berjalan terasa cepat, sebagian yang lain memilih
menikmati dan membiarkan waktu berjalan lambat. Tak satupun benar juga
tak satupun salah.
Bagiku tak penting lagi arah yang aku tuju tapi apa yang aku lalui
akan menjadi catatan yang suatu masa akan aku ridukan.
Urip pria yang tidak aku sangka tapi ternyata cukup mengejutkan, walau
tak begitu indah, setidaknya untuk sesaat bisa terhapus kesedihan yang
ada, walau itu berarti juga meremukkan perasaanku" ucap Salma.
"Apa yang membuatmu masih bertahan disini?" tanya Beng ingin lebih
jauh menggali sisi kehidupan Salma.
"Aku jatuh cinta pada tanah yang sekarang aku pijak, juga masih banyak
hal yang ingin aku capai disini dan itu belum aku dapat" jawab Salma.
"Setahuku Nungkai sangat mempercayaimu. Aku mengenal Nungkai sebagai
pribadi yang konsisten, tapi entahlah, sekarang aku mulai
meragukannya" Beng mengambil korek api lalu menyalakan rokoknya.
"Yang kalian lakukan sekarang sebenarnya hanya akan sia-sia. Aku rasa
pergeseran batas itu hanya konspirasi, aku mengenal mereka dan aku
tahu siapa yang bertipe kriminal, pun aku tahu apa yang mereka sedang
rencanakan. Mereka perlu kambing hitam"
Beng terdiam mendegar ucapan Salma. Sejak awal Beng juga merasa jika
memang ada yang tidak beres.
Keduanya larut menghabiskan waktu senja yang sempurna. Perjalanan yang
terpaksa harus ditunda karena kondisi Dimah yang masih belum
memungkinkan juga bukanlah berarti itu buruk.

Egi

Beng menutup buku yang baru sebagian terbaca, firasatnya mengatakan jika ada sesuatu yang sedang bakal terjadi dan itu bukan hal baik yang bisa mengancam kedua rekannya. Pun Salma juga menghentikan langkahnya yang sedang menuju dapur. Salma pun Beng sesaat saling pandang tanpa mengeluarkan kata sepatahpun, keduanya berusaha mengerahkan pengindranya.
Benar rupanya firasat mereka karena setelah itu terdengar Urip memanggil-manggil Dimah dengan suara yang terdengar gusar, Beng bergegas keluar rumah menghampiri keduanya ingin memastikan apa yang sedang terjadi.
Diluar didekat pohon agatis yang sudah mati Dimah terlihat telah mematung dan tidak sedang berhadapan dengan siapapun, sedang Urip tampak berlari menuju arah Dimah.
Beng terdiam sesaat dan tak lama kemudian kedua tangannya direntangkan dengan gerak gemulai sedang kedua mata dipejamkan.
"Tunggu Beng!" teriak Salma. Namun Beng tidak menghiraukan dan tetap melanjutkan gerakannya.
"Percayalah, semua akan baik-baik" Salma berusaha memastikan, dan kali ini rupanya didengar Beng.
"Wyusimamubi, batampai wujud nang talindung lawan daun" Salma mengucap mantra sambil mengarahkan tangan keatas, lalu disaat bersamaan sebelum benar-benar Salma menyentakkan tangan yang tadi diatas kearah barat sudah terdengar jerit minta ampun. Namun Salma tidak segera menurunkan ancaman walaupun laki-laki kerdil yang telah menampakkan wujud itu telah menunduk dengan wajah penuh rasa takut.
Setelah kondisi sedikit tenang laki-laki kerdil itupun meminta ijin untuk menunjukkan apa yang ada dibalik baju kepada Salma. Kali ini wajah Salma yang berubah drastis tampak terkejut begitu membaca tulisan dengan menggunakan huruf palawa dipunggung laki-laki kerdil itu, dan ternyata itu dari Nungkai.
"Nungkai" ucapnya lirih. Salam dan cara Nungkai menyatakan kalimat-kalimat puja menjadikan makin gelap semesta. Salma tak mampu lagi mengurai cintanya yang semakin semu. Salma sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan sedang belum lagi terhalang hari Salma menumpahkan hasrat bersama Urip yang Salma sendiri akui memang dia terobati dengan itu.
"Ada apa Salma" tanya Beng
"Tidak, Nungkai ingin memastikan semua. Dia memiliki nama Egi dan Nungkai menggunakan dia untuk mengirim pesan dengan menggunakan punngungnya sebagai media tulis" Salma berusaha kembali manis dihadapan Beng. 
Salma merasa sangat terkungkung oleh cinta yang semakin hari justru semakin menghancurkan hidupnya sendiri, berpegang kalimat puja Nungkai yang tersadari makin menyesakkan nafas. Salma tidak pernah mengerti mengapa harus Nungkai,

Salma menghapus yang tertulis di punggung Egi, kemudian menggantinya dengan kalimat "SALAM"
Salma sangat tidak ingin menulis, tapi setidaknya dia juga tak ingin Nungkai hampa.

.

4.02.2013

Mengawali Hari

Rupanya pagi akan tanpa matahari, yang ada hanya mendung. Dimah masih
tidak menemukan indikasi yang bisa dikalkulasi untuk menentukan jarak
yang akan mereka tempuh untuk mencapai Tanah Dalam.
"Kau mencintainya" ucap Salma ketika mata Dimah terhenti pada Urip
yang berdiri di tepi danau untuk mempelajari medan. Dimah menoleh
dengan muka yang mendadak merah.
"Dia? ...kau tahu tidak? Dia orang yang paling aku benci dimuka bumi
ini, dia egois, tak berperasaan, keras kepala dan...dia
kekasih...ee...Aluh sahabatku yang...masih... ." jawab Dimah terhenti
tanpa sebab, kali ini Dimah sangat terusik hingga jawaban yang
disampaikan bernada tinggi dan makin jelas sedang mencari-cari alasan
untuk menutupi sesuatu. Namun Salma tersenyum sambil mengulurkan teh
hangat pengusir dingin malam yang masih tersisa, Salma tidak perlu
menggali lebih jauh karena sanggahan Dimah sangat menunjukkan betapa
Dimah menyimpan Urip di hati dan tak boleh seorangpun tahu itu, tentu
sudah cukup memberi penjelasan tentang adanya cinta. Atau barangkali
Dimah masih ragu untuk mengambil kesempatan kedua dari kebersamaan
yang sedang dilalui.
"Kok senyumnya begitu?" Dimah sangat kurang nyaman mendapati raut
Salma yang lebih pada menunjukkan bahwa Salma kurang percaya pada apa
yang telah disampaikannya tentang Urip.
"Banyak orang kesulitan menentukan koordinat Tanah Dalam hingga banyak
yang tak pernah sampai, hingga mereka hilang tanpa kabar lagi. Tanah
Dalam akan semakin jauh sewaktu dicari. Aku sarankan ikuti saja arah
matahari tenggelam dan jika kalian nanti temukan tiga pohon asam besar
yang berdiri sejajar maka ucapkan salam padanya dan ambillah jalan
kearah kanan, kalian akan menemukan Tanah Dalam. Berjalan saja, jangan
pikirkan Tanah Dalam" ucap Salma.
Dimah berusaha keras mencerna ilustrasi yang disampaikan oleh Salma
hingga dia tak tahu jika Salma telah beranjak meninggalkannya.
"Percayalah justru saat kau mengerti apa yang kau pikirkan maka kau
akan salah" ucap Salma yang makin menjauh.

Sedang Beng sibuk di ruang baca melurut dengan seksama deretan buku di
rak buku. Buku tentang Datu Panglima Naga menghentikan jari
telunjuknya yang sedari tadi sibuk membantu fokus matanya yang sedikit
rabun, sesaat Beng mencermati judul yang tertera kemudian diambilnya
buku itu.

Mengambil Gambar

Aku sempatkan mengambil gambar sederhana  pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...