Tetes embun yang terjatuh dari ujung dedaunan terdengar seperti celaan, ketika Arya benar-benar melakukan apa yang seharusnya dilakukan terhadap tubuh mulus Dewi, Arya menumpahkan seluruh kasih yang dimiliki dalam kemesraan tubuh.
Lalu apa yang terjadi, adakah kudus seperti janji para pemuja cinta, yang ada justru ditiap sentuhan lembut Arya menjadikan luka dihati Dewi, kini Dewi harus menggigit bibirnya sendiri, membiarkan linang air matanya, semua itu bukanlah tanda bahagia karena Arya telah memenuhi apa yang diharapkannya , melainkan ungkapan atas remuknya perasaan. Dipandangi wajah Arya dalam-dalam dibawah remang cahaya bulan, berharap ada jawaban, akan tetapi justru makin dalam perih yang Dewi dapati.
Dan kini Dewi hanya bisa memalingkan wajah membuang pandang menahan rasa dari bisa asmara yang diterima.
"Mengapa" bibir Dewi berucap lirih.
Sedang daun-daun engan menjawab, memilih tetap setia dengan bisu, lalu menyimpan semua dalam catatannya.
Tetapi Arya tetap larut dalam drama yang sudah terlanjur dimainkan, berusaha tetap setia dengan iblis sekalipun. Jalan hitam tak pernah dihiraukan demi mengimani keyakinan akan naskah alam yang telah Dia jajikan. Arya memang hitam.
"Jangan ada air mata"
6.09.2012
6.08.2012
Dewi Resah
Kalimat Arya yang terlontar sama sekali tak jelas kemana arah dan tujuannya.
Arya hanya tahu di kalimat untuk mewakili segala isi hatinya, melupa jika tubuh Dewi masih dingin dan sangat memerlukan sentuhan tangan nakalnya yang membuat cinta terasa lebih manis, ketika cinta dilumuri nafas yang menggelora. Tapi bukan Arya tak ingin, melainkan terlalu sulit bagi dia untuk berani.
Sedang Dewi merasa sakit dan ingin menangis, sungguh menjadi siksa ketika dia ingin mendapat perasaan dan tubuh Arya seutuhnya akan tetapi kenyataannya Arya hanya bisa memeluk. Tubuh mulus yang dimiliki rasanya seperti tak berguna.
"Aku perempuan, bukankah seharusnya tubuhku menarik ditiap lekuknya. Mengapa Arya tak menyentuhku dengan lebih" walau jelas dalam dekapan akan tetapi Dewi mulai ragu.
Dewi menghela nafas mengurangi kecamuk, sedang tangan mereka berdua saling terpaut, Dewi sangat mengharap keberanian Arya untuk lebih menunjukan rasa terhadap dirinya.
"Aku bisa merasakan apa yang Kemala rasakan, hanya bisa memandang dan tak lebih, sudah tentu sangat tidak memberi kenyamanan" Dewi berucap dalam hati, kemudian hanya diam dan tak tahu apa yang seharusnya dilakukan.
Arya hanya tahu di kalimat untuk mewakili segala isi hatinya, melupa jika tubuh Dewi masih dingin dan sangat memerlukan sentuhan tangan nakalnya yang membuat cinta terasa lebih manis, ketika cinta dilumuri nafas yang menggelora. Tapi bukan Arya tak ingin, melainkan terlalu sulit bagi dia untuk berani.
Sedang Dewi merasa sakit dan ingin menangis, sungguh menjadi siksa ketika dia ingin mendapat perasaan dan tubuh Arya seutuhnya akan tetapi kenyataannya Arya hanya bisa memeluk. Tubuh mulus yang dimiliki rasanya seperti tak berguna.
"Aku perempuan, bukankah seharusnya tubuhku menarik ditiap lekuknya. Mengapa Arya tak menyentuhku dengan lebih" walau jelas dalam dekapan akan tetapi Dewi mulai ragu.
Dewi menghela nafas mengurangi kecamuk, sedang tangan mereka berdua saling terpaut, Dewi sangat mengharap keberanian Arya untuk lebih menunjukan rasa terhadap dirinya.
"Aku bisa merasakan apa yang Kemala rasakan, hanya bisa memandang dan tak lebih, sudah tentu sangat tidak memberi kenyamanan" Dewi berucap dalam hati, kemudian hanya diam dan tak tahu apa yang seharusnya dilakukan.
6.06.2012
Dewi Bimbang
Dewi tidak memahami pola pikir Arya. Arya mengaku tidak beragama, sementara kebanyakan orang memilih beragama demi akhirat atau surga, seharusnya Arya segera menjauh setelah mengetahui dia iblis, tapi mengapa tak terlihat ada niat dari Arya untuk menjauh. Bahkan sekarang sedang mendekap dirinya tanpa ada terlihat rasa risih.
Sebenarnya Dewi sangat mudah untuk menutupi tanduk dan juga taringnya lalu menjelma menjadi lebih cantik dari bidadari, kemudian menggoda Arya dengan kemolekan tubuh mulusnya untuk memancing syahwat Arya hingga ubun-ubun.
Tapi entah mengapa menjadi terbalik, Dewi justru malu ketika bagian tubuhnya terlihat dihadapan Arya, Dewi merasa lemah, dan berdebar ketika bertemu pandang dengan Arya.
Makin membuat Dewi gelisah ketika dia tersadar mulai timbul perasaan cemburu ketika Arya menyebut nama Kemala. Walau dia bisa merubah dirinya seperti wujud Kemala agar bisa dipuja oleh Arya, akan tetapi Dewi ingin Arya mengakui dia dengan apa adanya. Dewi mulai bimbang, benarkah ini tanda cinta.
Dewi ingin menepis.
Sebenarnya Dewi sangat mudah untuk menutupi tanduk dan juga taringnya lalu menjelma menjadi lebih cantik dari bidadari, kemudian menggoda Arya dengan kemolekan tubuh mulusnya untuk memancing syahwat Arya hingga ubun-ubun.
Tapi entah mengapa menjadi terbalik, Dewi justru malu ketika bagian tubuhnya terlihat dihadapan Arya, Dewi merasa lemah, dan berdebar ketika bertemu pandang dengan Arya.
Makin membuat Dewi gelisah ketika dia tersadar mulai timbul perasaan cemburu ketika Arya menyebut nama Kemala. Walau dia bisa merubah dirinya seperti wujud Kemala agar bisa dipuja oleh Arya, akan tetapi Dewi ingin Arya mengakui dia dengan apa adanya. Dewi mulai bimbang, benarkah ini tanda cinta.
Dewi ingin menepis.
6.05.2012
Lihatlah Mata Kami
“LADY GAGA PEMUJA SETAN” Begitu kira-kira yang aku terima dari informasi media elektronik minggu lalu.
Atas nama warga pribumi Indonesia aku meminta maaf atas fitnah yang telah tersampaikan.
Kategori fitnah jikalau aku tidak salah tafsir yaitu menuduh, sedang yang dituduh tidak terbukti pernah melakukan apa yang dituduhkan. Jika aku salah tafsir tolong dibenarkan.
Jika penuduh benar-benar melihat Lady Gaga berhadapan dengan setan dan memujanya, kapan dan buktikan, jika benar dan terbukti aku akan minta maaf kepada seluruh orang Indonesia, bahkan kepalaku jadi taruhan.
bukankah fitnah adalah cara setan, kemudian penebar fitnah itu apa?
Kami pribumi menurut sejarah selalu menerima tamu dengan baik tanpa kalimat keji, Hindu datang kami persilahkan, Budha datang kami sambut, Islam datang kami terima pun Kristiani tak kami tolak. Itulah pribumi Indonesia.
Lady Gaga maafkan kami, yang kami saksikan lewat televisi adalah cara-cara budaya luar yang memaksa kami untuk tunduk dengan aturan mereka, karena mereka merasa baik dan benar.
Salam, dan air mata maaf atas kekejian kami.
Salam, dan air mata maaf atas kekejian kami.
Dibawah Pohon Gaharu Menyan
Hitam kelam hanya olok dari mereka yang merasa baik-baik, menjadi mustahil bila terucap dari bibir sesama hitam kelam. Sedang Arya hanya tertawa.
Arya berasal dari suku Jawa, dia berpikir dan berprilaku Jawa, pun darah, nafas dan juga ruh yang ada didalam tubuhnya Jawa. Dia sekarang tinggal bersama orang Dayak Manyan di Kalimatan. Arya termasuk kolot alias terlalu kuno. Dia menyukai ritual-ritual purba dan hampir tidak beragama, seperti agama yang telah ditetapkan oleh negara tempat dia tinggal. Bahkan kemala menganggap Arya ateis, tetapi Arya masih saja tertawa.
“Mengapa kau mau memelukku, bukankah aku yang dibenci dan dikutuk” Tanya Dewi yang masih dalam dekapan Arya.
“Siapa yang bilang kau dikutuk” Arya ganti bertanya sambil memandang bulan yang terlihat diantara sela dedaunan pohon gaharu menyan tempat dia dan Dewi bersandar. Sedang Dewi tak menjawab lagi, hanya makin merapatkan tubuhnya pada Arya.
“Tuhan dulu menurunkan agama agar manusia berakhlak. Sedang aku mengartikan akhlak sebagai aturan supaya tidak saling menyakiti, merugikan dan santun dalam prilaku, sehingga membawa kenyamanan bagi yang lain maupun diri kita.
Aku tidak membencimu karena aku bukan termasuk orang yang beragama. Sedang yang aku lihat kebencian justru terlahir dari orang-orang yang merasa beragama, sedang agamanya sendiri tidaklah mengajarkan kebencian.
Orang Jawa juga orang Dayak memilih cara dengan menghormati yang lain dan hidup berdampingan, lalu menghindari kebencian. Yang aku rasakan adanya kamupun atas ridho Tuhan, jika Tuhan tidak ridho bagaimana mungkin kamu ada, maka jika aku membencimu berarti aku membenci ridho Tuhan itu sendiri. Sedang aku lebih takut ketika Tuhan tidak Ridho, dari pada api neraka yang telah dikabarkan agama.
Adab pun budayaku Indonesia, bukanlah Islam, Kristiani, Majusi ataupun Zoroaster. Dan aku tidak membenci Islam, Kristiani, Majusi atau agama apapun, termasuk aku tidak akan membencimu”
6.03.2012
Salam Dari Damai
Waktu dan ruang selalu setia memberi kesempatan kepada alam dan seisinya untuk larut dalam pencariannya masing-masing, mempersilahkan hidup untuk asyik berekspresi.
Manusia, malaikat, jin, pun iblis saling berebut peran dan pengaruh demi keyakinan yang dibawanya dan telah mengakar dalam jiwa mereka masing-masing. Segala bujuk, rayu, janji pun harapan ditebarkan untuk menghias gairah kehidupan, sehingga menjadikan gerak dengan warna-warninya yang menakjubkan.
Entah apa yang ada dibenak Arya, sehingga tak lagi memandang siapa yang ada didalam dekapannya sekarang. Jin atau malaikat bahkan mungkin iblis, kelihatannya Arya tiada hirau sama sekali. Mungkinkah Arya telah menjadi gila. Atau barangkali memang sudah sejak awal ada yang benar-benar tidak beres didalam diri Arya seperti dugaan Kemala waktu itu, ataukah mungkin Arya menjadi gila semenjak dia berpisah dengan Kemala. Hanya ruang dan waktu yang menjadi saksi atas kejadian, sedang yang tahu mungkin hanya ruh, karena ruh barangkali yang menyimpan semua catatan untuk diurai di kemudian hari, di hari yang telah dijanjikan, bukan sang hati, karena sang hati masih terlalu mudah untuk dibolak-balikkan.
Atau kali ini iblis benar-benar bisa tertawa, karena telah berhasil menaklukkan Arya dengan umpan kasih sayang yang menyentuh perasaan, hingga dia luluh. Terbukti dengan Arya yang telah terlarut dalam damai peluk perempuan tanpa ikatan pernikahan. Pelukan yang mampu menawarkan segala lara hatinya.
Mantra alam terasa hitam dan kelam. Menenggelamkan sisi kesadaran manusia yang seharusnya.
Manusia, malaikat, jin, pun iblis saling berebut peran dan pengaruh demi keyakinan yang dibawanya dan telah mengakar dalam jiwa mereka masing-masing. Segala bujuk, rayu, janji pun harapan ditebarkan untuk menghias gairah kehidupan, sehingga menjadikan gerak dengan warna-warninya yang menakjubkan.
Entah apa yang ada dibenak Arya, sehingga tak lagi memandang siapa yang ada didalam dekapannya sekarang. Jin atau malaikat bahkan mungkin iblis, kelihatannya Arya tiada hirau sama sekali. Mungkinkah Arya telah menjadi gila. Atau barangkali memang sudah sejak awal ada yang benar-benar tidak beres didalam diri Arya seperti dugaan Kemala waktu itu, ataukah mungkin Arya menjadi gila semenjak dia berpisah dengan Kemala. Hanya ruang dan waktu yang menjadi saksi atas kejadian, sedang yang tahu mungkin hanya ruh, karena ruh barangkali yang menyimpan semua catatan untuk diurai di kemudian hari, di hari yang telah dijanjikan, bukan sang hati, karena sang hati masih terlalu mudah untuk dibolak-balikkan.
Atau kali ini iblis benar-benar bisa tertawa, karena telah berhasil menaklukkan Arya dengan umpan kasih sayang yang menyentuh perasaan, hingga dia luluh. Terbukti dengan Arya yang telah terlarut dalam damai peluk perempuan tanpa ikatan pernikahan. Pelukan yang mampu menawarkan segala lara hatinya.
Mantra alam terasa hitam dan kelam. Menenggelamkan sisi kesadaran manusia yang seharusnya.
6.01.2012
Selimut Malam
Bulan terlihat anggun dengan cahayanya yang tidak menyilaukan, menawarkan harapan akan kedamaian. Dewi membiarkan dirinya larut dalam dekapan Arya.
“Dulu aku sangat mengagumi Kemala, bahkan sampai saat inipun aku masih mengaguminya. Kemala sosok cerdas yang pernah aku kenal, dia memiliki cinta dengan segala kerumitan dan juga segala tawar-menawar posisi nyata maupun maya. Kemala tahu bagaimana cara membenturkan mimpi dengan nyata, lalu bersikap dengan logika. Kemala telah mengajarkan apa itu keberaniaan berekspresi.
Lalu Shanti walaupun dia seorang pelacur akan tetapi dia tahu bagaimana cara menenggelamkan mimpi dan memilih bersyukur atas perihnya hidup. Shanti sangat sadar bahwa diriya bukanlah orang yang baik apalagi suci, sadar akan posisinya yang rendah didalam status sosial, hingga Shanti tahu hidupnya hanya boleh untuk melayani, Shanti melakukan pelayanan dengan segala kesungguhan yang dimiliki, akan tetapi justru itu yang bisa menjadikannya ikhlas tanpa keluhan. Shanti telah mengajarkan bagaimana seharusnya bisa berguna untuk yang lain diatas segala rendah yang dimiliki, bukan justru sibuk menuntut untuk ditinggikan harkat pun martabatnya, apalagi sibuk merendahkan yang lain.
Pun engkau Dewi, telah menyadarkan betapa golongan hanya pembentukan akan rasa tinggi yang diakhirnya akan merendahkan apa-apa yang ada diluar dari pada golongan itu sendiri.
Aku mulai sadar memang manusia selalu mencurahkan pikiran dan jiwanya untuk pengetahuan yang akan memberi manfaat pun kemuliaan bagi kehidupannya, kehidupan golongan manusia, akan tetapi tanpa disadari golongan manusia telah menjadikan yang lain sebagai tumbal atas kemuliaannya, yang lain dianggap tak pernah memiliki hak yang sama dimuka bumi, yang lain hanya rendahan yang bisa dihacurkan. Seolah hanya manusia yang berhak atas kehidupan, lalu melupa jika semesta ini bukan untuk manusia semata”
Arya menyudahi kalimat, lalu membiarkan malam yang dihiasi bulan dan berjuta bintang menjadi selimut atas tubuhnya yang sedang berdekapan dengan Dewi. Pun Dewi enggan melepas rasa teduh yang melumuri sekujur tubuh dan segenap perasaanya. Orchestra seraga dan burung malam tak mau kalah dalam mengambil peran demi menambahkan harmoni.
Keduanya tak lagi hirau tentang adanya malaikat yang sibuk menyusun kerumitan catatan untuk presentasi dihadapan Tuhan dikemudian hari.
Langganan:
Postingan (Atom)
Mengambil Gambar
Aku sempatkan mengambil gambar sederhana pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...
-
Tubuh Dewi masih terlihat sangat letih, letih tubuh juga perasaan. Dewi masih enggan untuk menemui Arya. Selalu timbul perasaan malu jika t...
-
Waktu dan ruang selalu setia memberi kesempatan kepada alam dan seisinya untuk larut dalam pencariannya masing-masing, mempersilahkan hidup ...
-
Segala kemampuan yang dimiliki Beng bukanlah berarti menjadikan sesuatunya bisa lebih mudah. Jantung Urip berdegub lebih kuat begitu meng...