10.03.2015

Urip lupa

Dan tiba-tiba Urip terduduk, setengah dari ingatan bangkit dan setengah yang lain terasa seperti dosa yang menyesak. Urip bersandar membiarkan masa-masa kebersamaan dengan kekasih yang telah lalu mengambil alih seluruh kesadarannya hingga menjadi rasa bersalah.
Entah bagaimana dengan dia, apa benar-benar bisa membuang jauh dan tak perlu di kenang.
"Tidak mudah aku rasa, dan disetiap sepi itu datang dan ketika dia berani membuka layar monitor untuk mengetikkan susunan kalimat maka tentang kau akan lebih awal muncul"
Kejut Urip menyadari kesendiriannya ternyata tak benar-benar sendiri, apalagi ketika Urip tak menemukan sosok lain.
Pun ketika Urip mencoba bangkit
"Mengapa takut untuk tahu tentangnya, bukankah kau sebenarnya tahu, untuk apa kau suka membohongi dirimu sendiri dengan pura-pura telah lupa dia. Bukankah kau sendiri yang membuat segalanya menjadi tak mudah.
Kau lupa, bukankah kau telah mengikat jantung gadis itu dengan helai terlarang milik dewi yang kau curi waktu itu. Mengapa kau sekarang mempertanyakan"

9.25.2015

Rian

"Tak memerlukan  definisi, biar saja berlalu begitu saja, baik atau buruk tak juga aku tahu lagi. Aku hanya tahu bagaimana kewajibanku terbayar dengan uang yang aku kumpulkan sedikit demi sedikit" ujar Urip sambil menyusun barang.

"Kau sangat berubah" ujar Rian
Urip terdiam tak ingin lebih jauh, pilih segera menyusun kembali barang ke dalam mobil sambil mencatat.
"Bagaimana dengan monyet keseimbangan, apa Beng masih disana?" Rian ingin memuaskan rasa ingin tahunya, dia masih penasaran dengan perubahan Urip, berharap Urip masih memiliki sisi seperti yang dahulu pernah mereka lalui bersama. Rian sangat suka kebersamaannya dengan orang-orang yang menurutnya hampir tak nyata, orang-orang yang suka mendebat hal yang sebenarya dia tak pernah faham. Bukan soal apa esensi tapi esistensi mereka terasa membuat arti.
Bersama mereka seolah memasuki dunia yang berbeda.
"Benarkah monyet keseimbangan itu ada bersama perempuan yang juga ahli kitab?" usaha Rian masih tak henti.
Urip terpengaruh jua, rasa tak teganya menghentikan kekakuan yang ia buat.
"Rian, hidup berarti gerak tumbuh kembang. Aku juga hidup dan aku akan berubah seiring waktu. Masih, mereka semua ada dalam kehidupanku tapi terkadang kita bisa terlempar pada kondisi yang jauh tak terduga. Terkadang waktu mengilas kita dengan pola yang membuat kita harus memilih.
Nah dari masing-masing kita telah dibekali Tuhan kemampuan beradaptasi dengan setiap perubahan yang di bawa oleh sang waktu.
Kita boleh memilih, bertahan pada keadaan atau mengikuti waktu"
Urip menghela nafas mengingat Beng juga semua sahabat.
"Sudahlah ini sudah hampir jam 12, jam 2 malam ini aku harus naik menuju Kereng Pange, tinggal dua jam lagi sedang aku masih harus menyelesaikan susunan barang sebelum istirahat"
Kabut asap mulai turun, angin malam tipis membawa dingin. Rian tak lagi mampu mengusik, dia tahu Urip tak ingin berbagi. Rian hanya bisa menyalakan rokok untuk mengurangi rasa kecewanya.

9.21.2015

Sorak

Dimah tak mengerti mengapa di tiap ujung dari arti penantian dan harapnya justru muncul laki-laki yang sungguh tidak pernah ia harapkan.
Mengapa laki-laki itu justru muncul dalam bayangan ketika sepi telah datang. Mengapa justru laki-laki itu yang memberi arti. Sedang jelas laki-laki itu tak mungkin untuknya.
Dimah selalu kehilangan sosok ketika dia membuang jauh-jauh laki-laki itu dari kehidupannya, sedang Dimah mengetahui jika laki-laki itu seharusnya tidaklah berarti.

Angin kencang melambaikan helai kain warna ungu yang terlilit di leher Dimah. Ilalang lebih asyik menari dan membiarkan Dimah yang larut dengan konfliknya sendiri pula Kojin yang tetap berdiri seperti patung. Atau mungkin  ilalang jua angin bersorak-sorai gempita melihat tingkah cucu-cucu Adam.
Waktu terus bergulir menyimpan semua kejadian menjadi kenangan untuk dirindukan yang tak akan pernah bisa diulang karena hidup terus melakukan perubahan.

9.19.2015

Rasa Itu Masih

Mengapa waktu seolah tidak mau bergerak, mengapa masalalu masih tetap tak mau berlalu, mengapa orang yang aku benci masih saja memenuhi ruang ingatan.
Dimah merasa bodoh sedang dia telah begitu tekun mengasah kecerdasan, Dimah masih tak percaya kalau orang  yang sejak awal dia abaikan justru hingga detik ini masih tak mau beranjak dari ingatannya yang bahkan selalu lebih awal mengisi dari setiap kesendiriannya.
Entah  mengapa ucapan Kojin terasa seperti menyindir, sedang rasanya dari awal perbincangan tak satu kamimatpun yang keluar dari mulut kojin ada tanda untuk sindir.
Rupanya terlambat Kojin  sadar jika suasana telah berubah
"Ada yang salah dengan ucapanku" tanya Kojin dengan ragu.
Dimah tak menjawab dan hanya berpaling muka. Sesaat suasana menjadi hening hingga kemudian Dimah berlalu meninggalkan rasa bersalah kojin tanpa mendapat jawab.

Hati perempuan tak pernah bisa Kojin pahami. Mungkin hampir semua laki-laki tak pernah mengerti hati perempuan. Atau sebenarnya hati memang tak akan pernah bisa di mengerti karena mengerti milik logika bukan milik hati. Hati hanya terasa ada memiliki rasa juga suasana, bukan penyampaian yang logis agar dibenarkan, hati tak pernah meminta persetujuan untuk benar atau salah.

Kojin terdiam dengan segumpal sesal
"Ah..."

8.16.2015

Dimah

"Terkadang kita suka mencabik hati kita sendiri, barangkali karena ada sensasi sakit, tapi bukanlah benar-benar karena sakitnya itu. Ada sesuatu yang benar-benar harus diisi, disentuh atau meminta pengakuan, bahwa hati memang ada dengan benar dan memiliki peran besar dalam hidup manusia.
Terkadang pertanyaan dalam hidup yang memiliki jawaban seolah merupakan  bentuk kesempurnaan dan memiliki bentuk  kebahagian. Setiap setelah memecah persoalan  seolah selesai.
Bukan. Kau tidak akan pernah puas, tidak akan pernah mendapat apapun kecuali seperti rasa lapar yang selalu datang setiap sesaat setelah kau makan.
Urip ingkar dari hatinya, untuk apa?" ujar Kojin.
Sesaat Dimah terdiam berusaha mencerna ucapan Kojin. Dimah merasa jika dirinya juga tak beda dengan Urip yang tak lagi mampu berbuat lebih untuk hatinya sendiri. Dimah tak lagi pernah bisa berbagi ruang dengan orang yang dia sebut kekasih dan parahnya lagi Dimah tak pernah tahu kemana arah yang harus dipilih.
"Mengisi hati dengan luka?"

 

8.05.2015

Urip



Satu beri  +  satu beri = dua beri
Satu beri  +  dua nanas  = tiga buah  
Satu beri  :  dua nanas    = satu nanas dapat setengah beri
Satu ber i  x  dua nanas  = ?
                                     = mungkin gado-gado  yang gak pedas atau rujak ulek

Ketika sesuatu masih masuk dalam kecukupan analisa yang memiliki tahapan  logis maka seseorang masih bisa menyusun teori yang akan mudah untuk diiyakan oleh yang lain. Bahkan ketika kombinasi   telah memiliki ketetapan yang lebih stabil maka akan didapat rumus.
Setiap pertanyaan akan memiliki sisi lain yang di sebut jawaban dan ketika kau sudah memiliki jawaban maka kau tidak lagi memiliki pertanyaan, pula kau hanya bisa memastikan bahwa pertanyaan yang telah lalu benar-benar setara dengan jawaban yang kau dapat dan telah memiliki ketetapan yang stabil. Tidak lagi memiliki bobot yang berarti seperti yang lalu, ketika kau belum mendapat jawaban.
Seniman mengatakan bahwa hidup itu seni, bagi kaum agama maka hidup akan tak bisa lepas dari agama pun ketika seseorang  yang mendalami fisika maka dunia dan seisinya tak akan bisa lepas dari fisika. Terserah orang memandang. 

Kita pernah  mengajukan pertanyaan yang rasanya akan sangat sulit untuk diberi jawaban logis, kalimat tak akan mewakili kesetaraan atas jawaban. Kita telah memiliki jawaban itu, tapi cukup hanya tahu, hati sangat tahu. Lalu mengapa logika kita menolak untuk sepakat kemudian turut mengatakan “ya
Setiap pertanyaan memiliki jawaban dan kita telah.

7.13.2015

Kau

Ah... kau

"Kelemahan pemikir malah pemikir itu tak tidak pernah sadar jika hukum alam yang menyatakan jika tangan kanan makin besar maka tangan kiri akan setara besarnya yang dia sendiri rumuskan itu jua berlaku pada dirinya. Urip pemikir, dia memikirkan apa yang di kehidupan hati juga perasaan namun Urip tak pernah sadar jika semakin banyak yang dia ketahui maka semakin banyak pula yang dia makin tidak ketahui.
Dulu kita sering mendengar kisah seorang nabi yang melakukan hijrah dari kota Mekah menuju ke kota Madinah. Sedikit ingatan pada masa belajar dan coba kita kaitkan kedalam kehidupan nyata yang berlaku pada masa sekarang, bisakah hijrah juga membawa perubahan besar seperti yang nabi pernah dapat pada waktu itu.
Sibuk mengurai hati juga penalaran yang entah akan sampai kemana ujung. Berusaha menggunakan logika cerdas untuk mengurai setiap yang terasa menjadi kalimat yang mudah dicerna hingga bisa disampaikan kepada yang lain atau sekedar tahu semata. Itu yang Urip pernah lakukan dan aku ketahui.

Aku dengar Urip mencoba memahami asumsi semakin tinggi pengetahuan setara pula dengan semakin tinggi ketidak tahuan seseorang.
Bulan-bulan terakhir Urip bekerja siang malam memutar apa saja yang bisa menghasilkan uang. Masuk kesetiap toko menawarkan apa yang bisa dia pasok, hutang menggunung, tagihan tak terbendung jauh diatas kemampuannya menghimpit tubuhnya yang kurus. berangkat dari rumah jam dua malam pulangnya esok jam dua belas malam. tujuhpuluh persen hidup diatas mobil. Urip menghancurkan dirinya sendiri. Untuk apa?
Yang aku dengar untuk melupa kekasihnya tapi aku tidak begitu yakin. Urip memahami banyak teori, tentu dia tahu jika dia berusaha melupa maka dia akan mendapat ingat. 
Merubah pola, barangkali Urip merubah penggunaan energi yang biasanya dihabiskan untuk pemikiran juga perasaan dan sekarang sebagian besar energinya bihabiskan untuk tindakan.
Barangkali Urip abai kalkulasi matematis dalam bertindak, terlihat dari besarnya hutang yang jelas diluar kemampuannya.
Baik begitu barangkali, semakin tidak mampu barangkali akan setara dengan semakin mampu" Ujar Kojin.

Sedang bulan sabit diatas kepala pun bulan ramadhan di hari ke 26 menebar kusyu' di hati setiap muslim muslimah.
Dimah hanya tahu jika hidup merupakan fungsi dan Urip telah mengambil fungsi seperti halnya yang lain yang telah berusaha memiliki manfaat untuk kehidupan. Barangkali Urip telah mencoba alih perjalanan dari kehidupan ritual dan mantra menuju kehidupan nyata walau sangat jelas dia akan semakin merasa apa yang kekasihnya rasakan.
"Ah... aku yakin jika nadi Urip menyimpan ingatan..."

Mengambil Gambar

Aku sempatkan mengambil gambar sederhana  pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...