5.27.2018
Senja
5.05.2018
Menjelang Siang
5.04.2018
12.03.2017
Haruskah
7.01.2017
Menuju Ladang
"Isi kepalamu sendiri yang meramu, bukan lawan bicaramu yang bikin masalah. Konstruksi kepalamu sendiri yang menjadikan sesuatu menjadi ringan atau berat, suka atau tidak, benci apa cinta semua tergantung kau.
Konsep yang kau ajukan tak lebih dari olah otak cerdas yang mengajukan permohonam untuk bisa dipahami apa yang ada di kepalamu.
Kau buang-buang waktu saja!"
"Ah..., kenapa kau jadi sensStif"
Urip seharusnya tahu Kojin yang kalah judi tadi malam.
"Salma gimana" tanya Kojin melemahi pembicaraan.
"Masih malas di rumah mungkin"
"Kok mungkin, bukankah tadi malam dia bersamamu.
Kau bertengkar?"
"Sudahlah, ayo lekas ke ladang kita sudah kesiangan ni!"
"Sudah siang trus mau diapakan?
Rip, kau dulu mengajari aku tentang hidup yang memerlukan konflik untuk menjadi bahan bakar pendorong dari tujuan seseorang, untuk sebuah pencapaian.
Kenapa kau sekarang cenderung melemah?"
Urip hanya diam, ia sadar tak bisa sejalan dengan apa yang ia pernah ucapkan.
Tak mudah ketika terbentur.
"Dia yang benar-benar telah menjadi bagian dari hidup, bagaimana mungkin aku melupa.. kan....nya" ledek Kojin dengan suara parau dibuat-buat.
Mengambil Gambar
Aku sempatkan mengambil gambar sederhana pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...
-
Tubuh Dewi masih terlihat sangat letih, letih tubuh juga perasaan. Dewi masih enggan untuk menemui Arya. Selalu timbul perasaan malu jika t...
-
"Sakiti aku dengan tanganmu. Hanya itu yang Kemala mau, tak lebih. Mungkin Kemala tak pernah mencintai Arya tapi dengan melihat A...
-
Waktu dan ruang selalu setia memberi kesempatan kepada alam dan seisinya untuk larut dalam pencariannya masing-masing, mempersilahkan hidup ...


