5.08.2012

Menjelang Makna

"Letakkan semua kenangan tentang apapun, gunakan pikiran dan perasaan dengan baik, bukan justru dikuasai pikiran dan perasaan.
Semua seharusnya kau sadari hanya sekedar penggalan sejarah dari waktu yang terasa menjadi berat.
Cinta sekedar menjelang makna atas kedewasaanmu.
Kau akan segera menyadari, yang kau pikir kau tahu ternyata kau salah, kecuali kau telah melalui dan tak mampu lari menghindari atau mengejar"

Arya tak memahami sama sekali apa yang disampaikan oleh Datuk Yana, perasaan kalut lebih menyelimuti kesadaran waras yang dimiliki, benar-benar tumpul semua indra.
Semua kalimat yang didengar justru menjadi tekanan.

5.07.2012

Tak Pernah Faham

Datuk Yana berhenti bicara lalu meminumnya teh dalam gelas besar yang mulai mendingin.
Raut muka kelam dengan garis kerut di wajah tuanya tampak menyimpan catatan perjalanan berat yang Datuk Yana pernah lalui, sekarang beliau telah menghentikan langkah pengejaran, masyarakat menjadikan beliau sebagai tokoh pemangku adat di wilayah Tanah Dalam. Semasa muda beliau banyak melalang buana bersama Tuan Guru Wahab. Keduanya lalu berpisah jalan, jika Tuan Guru Wahab mengambil jalan untuk membagikan keikhlasan segala ilmi yang dimiliki kepada semua santri yang ada di pondoknya, sedang Datu Yana memilih diam dan menutup ilmu, dan hanya sesekali saja beliau memberikan tauziah.

" Arya adalah nama yang diberikan Wahab kepadamu, jika menurut ejaan lama akan menjadi A-r-j-a penulisnnya, apalagi jika terpengaruh penulisan jawa lalu menjadi H-a-r-j-a karena huruf a-nya justru ha, lalu jika ditanya mana yang benar, aku tidak mengambil mana yang benar mana yang salah, melainkan yang aku sebut asal mengerti bahwa dialah yang aku maksud.
Benar atau salah hanya menurut nalar masing-masing.
Sama halnya dengan bahasa cinta, apapun kalimat yang terucap yang terpenting justru sentuhan perasaan, bukan kalimat yang justru bisa melukai.
Lalu untuk merubah hasrat cinta menjadi hasrat kasih pun sayang tergantung dari kemampuan masing-masing untuk menaklukkan keinginan isi kepala dari bahasa benar dan salah, sehingga masing-masing menyadari bahwa tak mungkin untuk memaksa pasangannya sesuai dengan keinginan, bahwa cinta adalah wujud rasa bukan wujud keinginan nalar.
Pandangilah dengan benar wajah perempuan itu sewaktu diam, dalam diam justru kau akan bisa mengerti berjuta bahasa perasaannya yang menggumpal di wajahnya"

Datu Yana tersenyum isyarat kemakluman atas wajah diam Arya yang kalut dengan perasaannya. Arya belum benar-benar faham dengan apa itu cinta, mengapa dengan cinta justru Arya merasa terhukum.

Mungkin

Semesta alam tersenyum seraya memberi salam, beserta peluk erat kehangatan pagi.

Hidup barangkali hanya seni permainan gerak dan pemahaman, tentu akan bebas menggunakan komposisi baik pun buruk kepribadian jua bebas dalam menggunakan pengukuran dari setiap keinginan yang diperah dari pikiran dan perasaan yang bernafas pada adat budaya juga peradaban universal.

Tak menyoal benar atau salah yang rasanya masih tetap nisbi, melainkan sekedar dihidangkan dan telah dipersilahkan.
Segala aroma ditawarkan, tergantung seberapa jauh kedewasaan untuk menyikapi.

Saat tertentu aku bersungguh-sungguh namun di suatu waktu aku berpaling muka sambil mengatakan "ah"

5.05.2012

Rahwana tahu apa itu cinta

Rasanya Rahwana tak sebegitu gila seperti dalam kisah Ramayana.
Tak mungkin Rahwana menjadi sedemikian parah jika Shinta tak pernah memberi kedipan mata hingga menusuk jantung sang raja.

Tindakan dramatis sang raja untuk mencuri sang dewi mungkin berawal dari perasaan sang raja yang makin tercampur aduk, antara kebencian yang menyusup tipis dengan kerinduan akan saat-saat kebersamaan mereka, yang dahulu pernah mereka lalui berdua, maka rasa itu selalu menyelimuti di tiap malam sang raja, malam yang selalu sunyi dan dingin, lalu berujung dengan tidak mampu lagi sang raja menterjemahkan selain mencuri sang dewi.

5.04.2012

Rahwana

Tulisan dengan tajuk "Aku hanya ingin menari" sungguh-sungguh menujukkan nafas egois.
Nyata sekali aku tak menunjukkan sikap dari akar timur yang menggunakan tata krama demi untuk tidak menyakiti perasaan lawan komunikasi, dengan bersikap sesuka hati sendiri.

Atau mungkin seperti itu yang ada di benak Rahwana sang raja, ketika sang raja harus putus asa untuk menggapapai dewi Shinta, sedang keinginan memandang sang dewi masih saja berkecamuk di dada, ketika kerinduan memandang tak tertahankan.
Ketika segala keelokan yang ada diantara langit dan bumi tak lagi mampu menggantikan dengan yang bernama Shinta, mungkin akan terwajarkan kegilaan sang raja ketika bersikukuh mendapatkan sang dewi dengan apapun caranya.
Setidaknya sang raja telah mampu menunjukkan kegelisahan dihari-harinya.
Pun sang raja telah tulus bersikap, terbukti dari pengorbanannya.

Barangkali Rahwana juga tak pernah tahu alasan mengapa hingga tergila-gila, benarkah sudah tak ada lagi bidadari di negara Alengka.
Atau memang tak diperlukan alasan untuk cinta.

Mungkin gelapnya malam yang menyimpan catatan sejarah seperti apa kegelisahan Rahwana waktu itu.
Rahwana mungkin juga akan muram ketika mendengar Adele melantunkan lagu "Some One Like You"

5.03.2012

Aku hanya ingin menari

Kering ide juga bisa menjadi ide. Ide hanya cukup dengan ada, dan jika ada tentu bisa dikelola tergantung keperluan pun kemampuan sipengelola mau dijadikan apa yang ada.
Bukankah kering ide itu ada, dan ada berarti bisa dikelola.

Orang sering mencari yang orang itu inginkan, dan kebanyakan yang tidak ada yang dicari atau yang jauh, sehingga melupakan yang sedang dihadapi atau abai. Pun sebenarnya kita jua tahu jika manusia diberi mampu merubah dari yang sederhana menjadi luar biasa, padahal Tuhan mengadakan sesuatu untuk memberi manfaat, dan yang dihadapi sedang menunggu sentuhan.
Aku hanya berfikir seandainya warga Bali tidak menggali sumberdaya yang terkandung didalam Bali itu sendiri mungkin Bali tak dilirik lagi.
Bali tidak menjual pengetahuan atau technology atau apa saja yang dimiliki dunia modern barat.
Tapi Bali bisa berdaya ekonomi, cukup dengan mengelola apa yang ada. Bali contoh kepercayaan terhadap kemampuan dari sendiri, bukan pengikut.
Bali sukses dengan cara menjadi diri sendiri.

Sering pengetahuan kita justru menjadi tabir bukan sebagai sarana pendukung.
Sering kita dibatasi aturan aturan yang kita dapat dari akademi, seolah pengetahuan yang menjamin hidup. Seolah pengetahuan yang memberi surga. Dan seolah harus.

Jika boleh aku meminjam kalimat "dan Tuhanmu akan menutup pintu rizki bagi siapa yang memutuskan tali silaturrahmi"
aku rasa kalimat itu mengatakan silaturrahmi yang memberi jaminan rizki atas kehidupan, bukan pengetahuan.
Silaturrahmi dengan tumbuhan padi hasilnya memberi kita makan pun sisanya bisa kita jual.
Pun yang menjamin surga aku rasa perbuatan, bukan pengetahuan.
Pengetahuan bukan segalanya, sekedar sarana. Dan aku tahu memang pengetahuan bersifat wajib ada. Memang benar pengetahuan mengantar manusia pada peradaban.
Tapi aku juga tega membunuh pengetahuan jika pengetahuan itu menjadi tabir.
Alam yang mengandung pengetahuan, bukan pengetahuan yang mengandung alam.
Dan aku hidup di alam, aku membiarkan alam mengajarkan apa yang alam miliki.

Kemala lupa jika aku mampu mengolah diamnya menjadi kalimat apa saja. Kemala lupa jika aku mendengar bahasa sisi dalamnya. Kemala lupa jika aku mendalami mistik kuno. Atau mungkin kemala lupa jika aku punya rasa yang bisa merasa.

Yah... aku tak lebih dari dukun yang menebar dusta unrasional.

Aku ingin menari berputar sesuka hati dengan tangan diatas kepala sambil bertepuk, aku ingin selebrasi walau tanpa sebab. Aku memilih lagu Fifa 2010 untuk menambah suasana bahagia.
Bisa juga kau sebut aku idiot, untuk sebuah kebahagiaan tanpa sebab.

Kemala hanya nama, tetapi ruhnya masih saja menyapa. Dan aku belum bosan untuk mengucap salam.
Mungkinkah dia tahu perasaanku?
Mungkin pikirannya sangat membenci kalimatku.
Aku rasa Kemala cerdas tentu dia mengikuti pikiran bukan perasaan.

Kering ide

Entah sudah berapa tulisan aku batalkan, serasa kalimat kosong tanpa muatan, mungkin kalau masakan rasanya hambar kurang bumbu, kurang garam. Kalimat seolah sekedar saja.
Memangnya selama ini tulisanku bagus? bermuatan?. Ha ha ha.... Yang ada konyol, tapi tak soal, inilah aku.
Yang ada sekarang hanya kering ide. Tapi bukankah ini yang aku minta. Set up ulang isi kepala. Bukankah set up ulang wajar kalau ada yang hilang.

Aku pandangi selular yang selalu setia mengirim tulisanku, tetap saja kosong, tidak ada apa-apa.
Satu hal yang tersisa "dia"
Dan aku bingung menterjemahkan diamnya untuk menjadi kalimat.
Yang makin membingungkan diamnya justru menjadikan makin terasa apa yang ada dibenaknya. Mengapa perasaan masih jua peka, padahal sudah aku minta jangan terlalu peka.

Mengambil Gambar

Aku sempatkan mengambil gambar sederhana  pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...