7.07.2014

Hampir Pagi

Bulan sembunyi dibalik awan, sedang malam hampir pagi dan dingin tak begitu menusuk tak seperti hari-hari sebelumnya. Beng masih terjaga kehilangan rasa kantuk. Tak ada yang bisa dilakukan kecuali berdiam diri menunggu api yang mulai hampir mati.
Ketika matanya mengarah pada Narang yang sedang lelap ada terbersit pertanyaan kemana arah hidup.  Sudah pasti Beng tak akan tahu jawabannya dan hanya menjadi diam yang tak terasa berubah menjadi kecamuk yang perlahan membangkitkan semua ingatannya tentang Ladu, ayah dari Narang. Seorang tokoh pengobatan tradisional yang namanya sudah menggaung namun Ladu sendiri masih merasa dirinya sangat jauh dari ekspektasi peracik ramuan. Ladu yang selalu merasa diri hanya dukun kampung dan tak lebih.
Seharusnya Narang ada dirumah ada diantara anak dan istri dan bukan disini. Beng merasa sekali jika Narang hanya terserat alur dari orang-orang yang mengagungkan intuisi untuk mengetahui sesuatu bukan berdasar investigasi. Orang-orang yang membawa kehidupan pada kondisi lampau.

"Tak tidur Beng?" suara Dimah sedikit membuat kejut Beng.
"Sudah aku coba" sahut Beng.
Dimah perlahan menata kesadaran mengetahui kondisi Beng yang masih terjaga. Seharusnya Beng sudah beristirahat dengan tidur. Dimah bangkit dari posisi rebah mencoba untuk duduk, namun sudah tidak terlalu berat untuk bangkit sehingga Dimah merasa nyaman ketika berdiri dan mendekati Beng untuk ikut duduk dekat dengan api.
"Apa yang mengusik?" tanya Dimah.
Beng tidak segera menjawab tapi hanya tersenyum sambil menambahkan kayu pada api. Beng merasa justru Dimah yang memiliki kerumitan. Pertanyaan Dimah terasa seperti sedang mengasuh dirinya, pun kalau dijawab sekalipun akan terasa  Beng yang tak tahu diri.
Beng menarik nafas sambil mengangkat wajah. tampa olehnya sedikit bintang ada di sela awan.
"Bulan-bulan seperti ini biasanya laut tenang. Aku sering menikmati malam bersama ABK diatas dek. Kami berbagi bercerita apa saja. Sering soal kehidupan. Dulu aku berfikir jika daratan bukan hibitat yang cocok untukku. Aku menyangka akan sulit hidup di darat.
Sekarang aku di darat dan sama sekali bukan seperti yang aku bayangkan. Bergabung dengan orang-orang  yang memilih jalan tidak seperti kebayakan orang jalani. Aku sama sepertimu yang tertarik prilaku orang-orang yang mengandalkan sihir"
"Bukankah kau memiliki kemampuan itu?"
"Sedikit sekali, bukan seperti yang mereka ceritakan, mereka membesar-besarkan.
Selalu mereka yang hanya mengetahui sedikit justru bisa membuat cerita lebih, seolah dia tahu segala hal, akan tetapi bagi yang sudah mendalami selalu akan tak berani cerita. Ketidak beraniannya menceritakan itu karena dia masuk pada esensi, maka dia akan makin mengetahui bahwa berjuta hal yang belum bisa dia ketahui, sehingga dia merasa apa yang dia telah dapat masih terlalu sedikit. Lalu bagaimana menceritakan jika hanya sedikit yang diketahui.
Sama seperti agama, mereka yang hanya sedikit mengetahui maka dia akan berbicara agama seolah dia saja yang benar.
Urip dulu pernah mengatakan padaku bahwa Islam bukan Arab. Dia mengatakan bahwa kefatalan ketika mayarakat Indonesia memaksakan semua tentang Arab sebagai kebenaran yang setara dengan agama Islam.
Urip selalu menolak yang berbau Arabian, dia merasa Arab telah meracuni bangsanya melalui dalih Islam.
Bagi Urip Islam benar sebagai agama dan rusak ketika ada pendangkalan. Menjadi dangkal ketika bangsanya berbusana gamis. Busana yang sama sekali tidak menunjukkan identitas bangsanya.
Bagi Urip kau tetap Islam ketika tidak makan kurma, kau tetap Islam ketika berbuka puasa dengan hanya makan tempe. Kau tetap Islam ketika berbusana batik.
Ah..., dia memaparkan kebebasan tapi hatinya sendiri masih terbelenggu perempuan, perempuan yang membuatnya setengah gila.
Dia pernah bertanya padaku untuk apa jalinan yang sedang dijalaninya itu" ujar Beng yang tampak mulai lelah.
"Setiap kehadiran memiliki arti, sama seperti matahari. bayangkan jika matahari tiba-tiba ngambek dan berhenti memberikan sinarnya. Bukankah hidup merupakan mata rantai yang tak boleh putus tautannya.
Matahari bagaian dari mata rantai, pun Urip juga kita" jawab Dimah.

Embun samakin terasa seperti gerimis yang lembut dan kini dingin benar-benar menyergap.
 

7.04.2014

Jengkel

Dimah hanya mendengar dan tak ingin menyahuti pembicaraan kedua laki-laki yang sekarang sibuk berdebat, sedang matanya menatap pisau belati perak yang ada terselip di pinggang Narang .
"Bukahkah pisau itu seharusnya ada di tangan Urip? Kemana Urip?" Dimah tak lagi bisa menahan rasa ingin tahunya.
Narang tak segera menjawab, Narang malah sibuk memulai menyalakan Api unggun.
"Api disini tak memberi fungsi hangat, untuk apa kau nyalakan" tanya Dimah yang jelas tak ingin diacuhkan.

Beng menepuk pundak Dimah berharap tersudahi komunikasi yang terasa janggal di telinganya.
"Urip gagal, dia pulang dan menyerahkan tanggung jawab pada Narang" ujar Beng menenangkan Dimah.
Beng tahu ada kekecewaan pada Dimah, tampak sekali Dimah berharap Urip yang hadir dan bukan Narang.
"Urip memiliki riwayat yang buruk dengan prioritas hidup, aku tidak heran jika kau menganggap Urip bisa diandalkan, memang sekilas kau melihat Urip sangat semangat tapi setahuku energinya tak pernah cukup untuk mencapai sesuatu, mungkin karena dia masih membagi hati" Lanjut Beng segera menyudahi kalimat.
"Kasta bawah. Terlalu sulit menghadapi kenyataan, semua apa yang Urip lakukan hanya ingin menghapus catatan yang telah terlalui di masa lalunya dan yang telah tertanam permanen, dia ingin merubah struktur pengorganisasian tubuhnya dengan kemungkinan yang berbeda dari yang seharusnya, menghapus semua yang ada di masa lalu dan kemudian memulai lagi pengolahan sistem kendali tubuh dari awal, ulang. Itu mustahil. Kecuali dia bisa kembali menjadi bayi.
Urip berusaha menyejajarkan kastanya dengan  kasta perempuan yang menjadi kekasihnya itu. Pungguk merindu bulan" ujar Narang.  


7.03.2014

Narang

"Kalah, menyerah, bahkan putus asa juga bentuk dari hasil, tak beda
seperti kemenangan. Bukankah waktu berarti sesuatu yang jika dibagi
dengan aktivitas sama dengan hasil. Tentu kalah, menang, untung atau
rugi berarti hasil. Hanya saja ada pelekatan, generalisasi atas hasil
dengan sifat negatif atau sifat positif. Sedang itu semua tetaplah
hasil.
Aku tidak bisa menolak apapun hasilnya karena aku sendiri yang membagi
waktu dan hasil itu sudah pasti ada, konsekuensi atas pembagian waktu
atau malah konsekuensi hidup.
Cobalah katakan hasil sebagai hasil, bukan negatif atau positip.
Mungkin kau akan sedikit lebih lapang. Kau terbebani kata negatif atau
positif yang melekat dalam memori secara permanen. Sedang positif pun
negatif kehidupan sangat relatif" ujar Narang.

6.27.2014

Salam

Terkadang aku bertanya, ada apa sebenarnya dengan prinsip dasar
kehidupan yang aku fahami.

Dulu aku mengenalmu bukan atas niat yang berbelit seperti sejauh ini,
pertemanan biasa seharusnya.
Tapi tak terasa aku banyak kagum padamu, lalu niat ingin berbagi
setidaknya sebagai solusi tegur sapa sekedar diskusi pendek. dan
sekarang terasa ada yang hilang ketika tidak tentangmu, tidak
menyapamu.
Yang menjadi masalah justru kini aku ragu, karena entah mengapa
disetiap penulisan yang aku selalu tujukan padamu itu sudah semakin
jelas bagiku kemana dan apa yang sebenarnya terjadi dengan hidup ini
dan kemudian aku ingin berbagi denganmu selalu berakhir dengan layar
hitam. Perangkat yang aku gunakan selalu mati. Kejadian berulang
setiap aku hendak finish up dari alur yang seharusnya menjadi
kesimpulan akhir, walau sudah aku gunakan perangkat yang berbeda
jenis.
Entah, yang tersisa sekarang hanya pertanyaan kemana kita mengarah, untuk apa?

Yut, kau sempurna di mataku. Barangkali semua lebihmulah yang mungkin
menjadi alasan Allah tak akan pernah ada memberi izin atas aku untuk
menyentuhmu.

Salam.

6.23.2014

Urip

"Kau bisa menjadi arsitek untuk mimpimu sendiri. Jika kau lebih
mencermati maka kau akan menyadari otakmu justru bisa bekerja penuh
ketika logikamu sedang istirahat, kau akan menemukan setiap detail
justru ketika kau tak memikirkannya, ketika kau memberi kesempatan
pada perasaanmu, maka akan ada detil yang terasa. Terkadang kau akan
merasa ada tata ruang dalam otakmu yang terhubung dengan semesta.
Ketika kau sedang tertidur hingga bermimpi maka kau akan tahu bahwa
ada susunan cerdas yang bukan sekedar logika, kau memiliki sadar tapi
kau tak bisa mengatur seperti kesadaranmu waktu terjaga. Ada sebagian
orang mengatakan mimpi bukan sebagai mimpi, mereka merasa sedang
terbangun ketika dalam mimpi dan bermimpi ketika sedang ada dalam
kesadaran logika.
Setidaknya dalam mimpi kau memiliki originalitas penggambaran yang tak
pernah kau niatkan untuk sama dengan yang lain dan itu tetap sadarmu
jua, bagian dari dirimu dan bukan yang lain. Seperti itu hidup
barangkali" ujar Urip pada Kojin.

Langit tampak biru tak terlihat awan. Gadis kecil tertawa riang
bermain bersama teman seusianya, berlari, sembunyi lalu berlari lagi,
jelas tak tampak ada dosa apalagi kerumitan hidup kaum dewasa.
Terlintas iri, ada rindu akan bebas, namun sadar tak mau berlalu,
memaksa Urip menguliti dirinya sendiri. Urip tahu resiko dari setiap
permainan dengan kekasihnya tapi Urip lebih pilih melupak resiko itu.
Urip tahu apa yang Urip lakukan akan mengendap kebawah sadar dan akan
menentukan hukum kehidupan yang tidak akan bisa diatur logika lagi.
Lalu semua tersadari sudah terlambat.

6.20.2014

Kojin

"Selalu disetiap dari apa kondisi seseorang akan tetap memiliki konflik.
Sebut saja lambai dan langkah ketika sedang berjalan, tangan kiri
sudah pasti tak pernah bersamaan arah lambainya dengan tangan kanan,
pun kaki kiri tak akan pernah melangkah bersamaan arah dengan kaki
kanan.
Perbedaan langkahlah yang justru membuat tubuh bergerak, berjalan
walau kanan dan kiri tak mau searah kecuali ada kondisi yang memaksa,
perbedaan arah kanan dan kiri bukan dijadikan konflik tapi keduanya
membangun keselarasan.
Tinggal bagaimana seseorang bersikap atas konflik itu, menjadikan
konflik sebagai beban yang melelahkan atau sebagai komponen penting
dari serunya permainan.

Konflik dasar berawal dari naluri manusia untuk bertumbuh kembang,
sifat yang menjadikan hasrat atas pencapaian terhadap sesuatu, sedang
disisi yang lain naluri mempertahankan kelangsungan hidup, sifat yang
mendorong hasrat untuk memiliki rasa aman yang melahirkan sikap suka
bertahan pada posisi aman yang sedang dimiliki dan enggan melangkah
pada sesuatu hal yang dianggap baru dan belum diketahui bagaimana
penjaminan atas keamanannya.
Sisi lain membawa maju, sisi lainnya lagi bertahan, tentu ada konflik,
jelas semua ras manusia pasti memiliki konfliknya sendiri-sendiri
alias masalahnya sendiri-sendiri.
Konflik yang wajar tapi terasa memberati. Seharusnya kita sadar tak
perlu seseorang mencari upaya keselamatan, walau tak diupayakan
bukankah sifat penyelamatan itu sudah ada dengan sendirinya.
Tak mungkin rasanya kalau sudah tahu ada sesuatu yang mengancam
dirinya manusia tak menghindar. Tak usah diajari jika ada pohon besar
yang hendak tumbang sedang manusia itu mengetahui arah tumbangnya
menuju kearah dirinya maka manusia itu sudah pasti akan menghindar.
Tak perlu diajari.
Pun ketika lapar, tak perlu diajari maka dia akan mencari sesuatu yang
bisa dimakan, tak perlu diajari.

Yang perlu diungkit mengapa harus ada perasaan malu, malas, takut,
gengsi atau apa saja yang menjadi penghambat atas tindakan seseorang
yang seharusnya dilakukan ketika sedang berhadapan dengan sesuatu.
Penghambat olah dari pikir, hati, naluri, ego.
Seharusnya ada teori yang lebih stabil berlaku secara universal.
Itu masalah yang dulu pernah kau angkat akan tetapi kau sendiri tak
pernah secara sungguh menyelesaikan hingga bisa dijadikan pegangan"
ujar Kojin setengah mencela.

6.19.2014

Tak Sadar

Hal yang Urip ingin tahu atau ingin dapatkan namun belum pernah
sepenuhnya Urip selesaikan atau belum Urip ketahui ujungnya itulah
yang memaksa mengendalikan tubuh Urip. Tapi jika hal tersebut telah
pernah terselesaikan maka akan tidak memberi arti pada Urip.
Rasa ingin mengetikkan setiap kalimat kepadan kekasihnya sebab hal itu
tadi. Terasa ada yang memaksa untuk selalu tentangnya, yang memaksa
sadarnya Urip justru yang tak sadarnya Urip. Sadar Urip yang ada
sekarang ini hanya dalih, berusaha sadar namun tetap dia tidak bisa
kembali waras.

Mengambil Gambar

Aku sempatkan mengambil gambar sederhana  pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...