1.24.2014

Saat Seperti Dulu

Aku merindu saat kau menari, saat sebelum cinta menampakan tajam
kuku-kukunya yang telah memberi banyak luka di hati.
Entah kemana larinya iblis yang meniupkan hangatnya api. Sedang aku
telah benar bergabung dengan dia, dia yang dikutuk dan dirajam.

Atau iblis mulai benar-benar cemburu, karena aku memujamu melebihi
dari apa yang dia telah pernah harapkan.

Kasih.

12.30.2013

Yang Tersisa

Yang ada hanya semakin kacau. Konsekuensi dari keberanian telah
mengambil pengetahuan yang jelas penuh resiko.
Menyisakan pengalaman masa sulit dari perkembangan jiwa.
Sedang kesadaran jelas mengajak berpaling, agar jangan hanya
menghasilkan sesuatu yang semakin membuat jauh menenggelamkan diri
sendiri pada tipuan yang direkayasa oleh kemampuan otak sendiri.
Tapi keyakinanku masing-masing tak akan bisa lari dari cerita yang
mereka telah buat sendiri.

Atau kau hanya ingin mengatakan bahwa ini hanya penggambaran dari pola
mekanisme dasar konsep bertahan hidup, menggeluti cinta sekedar meniti
anak tangga dari proses berkembang biak. Aku rasa darahmu telah penuh
dengan budaya cerdas yang kompleks dan tak mungkin kau nyatakan itu.
Kau amat rumit.
Barangkali ini sekedar asah kemampuan memposisikan ego pada realita.

Kekasih, kenyataanya aku masih tak bisa takut pada rasa takutku
sendiri. Aku masih nyaman dengan takutku sendiri. Aku masih terkuasai
keyakinan pun sangka kosong. Dangkal.
Benar aku selalu memikirkanmu dan barangkali aku telah benar-benar mencintaimu.

12.27.2013

Membaca Surat

Nirmala tertawa kecil, membaca surat elektronik dari Angga yang telah
beberapa hari ditunggu. Hal-hal bodoh Anggalah yang selama ini mampu
membantunya untuk melupa penat, atau memang Nirmala selalu ingin tahu
seberapa parah kegilaan Angga terhadap dirinya.
Terkadang Nirmala sadar jika Angga telah menjadi candu yang sulit
dibuang pun Nirmala juga tahu jika itu berarti buruk.

"Kita mendapat banyak hal disini, tapi tidak dengan kenyamanan seperti
di negeri sendiri"
Ucapan Nirmala sekedar menyakinkan bahwa dia sedang tidak sendiri.
Lebih pada keinginan Nirmala mewujudkan Angga dihadapannya tapi di
kenyataan kedua matanya hanya menangkap sosok Mirna.
"Ya" jawab Mirna pendek.
Mirna tahu jika ucapan Nirmala tak memerlukan penyambung kalimat,
Mirna tahu jika kesadaran Nirmala sedang jauh, bukan ditempat dia
sedang duduk menghadap layar monitor.

Ada kebencian Nirmala untuk mengakui bahwa dirinya telah jatuh cinta.

12.25.2013

Jawab Nungkai

"Tidak adakah disini pemikir handal yang tidak melibatkan klenik?"
"Aku tidak mempercayai klenik, sesuatu terjadi karena sebab yang bisa
dianalisa jika kecerdasanmu memadai dan mereka yang tidak memahami
mengatakan itu sebagai klenik, dan sebagian diantaranya mengatakan itu
sebagai sihir.
Kecerdasan bukan hanya logika, mereka yang cerdik akan melibatkan
kecerdasan hati dan perasaan, maka akan ditambahkan kepada mereka yang
benar bersungguh-sungguh kecerdasan sukma pun ketika mereka
benar-benar dalam keikhlasan maka kecerdasan ruh akan
menyempurnakannya.
Tapi kau tergesa-gesa menilai seseorang hanya berdasarkan kulit tanpa
melihat kedalam.
Prinsip mereka yang telah memahami kelima kecerdasan itu adalah
mengetahui apa yang tidak mereka pernah ketahui apalagi yang
kebanyakan orang telah ketahui. Mengetahui apa yang telah orang lain
ketahui sama sekali tak memiliki arti.
Kami belajar kepada yang tidak tahu, bukan kepada mereka yang telah
tahu, pun kami percaya terhadap apa-apa yang tidak bisa dipercaya,
bukan apa-apa yang bisa dipercaya" jawab Nungkai.
"Kalian tak beda dengan Angga"
"Benar, Angga memilih menjatuhkan cintanya kepada perempuan yang tidak
pernah dia bisa miliki, maka Angga secara tidak sadar akan mendapat
cinta yang sebenarnya, cinta yang bukan seperti kebanyakan orang
lalui. Maka dia berhak tahu kebenaran bahwa cinta yang benar justru
kesakitan yang mendalam, bukan romantisme seperti yang selama ini
diagungkan" Nungkai tak sedikitpun ragu atas ucapannya.

12.24.2013

Angga

Angga mendengar apa yang tetua ucap tapi ucapan tetua sama sekali tak
bisa dipahami. Pun tetua sangat mengerti itu, maka senyum tetua cukup
untuk mengganti tanda atas kemaklumannya, sedang setengah hati tetua
menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bijak memandang lawan bicara.

"Hari, bulan, hingga tahun berganti namun tak pernah aku bisa
berpaling darinya, setiap nafas selalu tentang dia" Angga menunduk
kalah. Kalah oleh perasaanya sendiri.
"Bahkan tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi beserta seluruh yang
ada diantara keduanya tak akan bisa mengantikannya" ucap Angga lagi
dengan tatapan mata yang kosong.
Tetua makin yakin jika tak satupun kalimat bisa menarik kembali
kesadaran Angga yang telah jauh berusaha menyentuh kekasihnya itu .
Tetua merasa jika Angga terlalu berani mengambil resiko dengan
menjadikan Nirmala sebagai idaman, sesuatu yang menurut tetua terlalu
kecil peluang yang dimiliki jika melihat kondisi Angga yang
berbanding terbalik dengan Nirmala. Pungguk merindu bulan.
Jauh diluar dugaan tetua, ternyata Angga memang benar-benar telah gila.

12.22.2013

Nirmala Bagi Angga

Tetua sungguh memahami Angga yang makin tak tentu arah.

"Dahulu aku berpikir akan ada orang lain yang akan bisa membatuku
untuk memilih nasib seperti apa yang aku inginkan.
Kenyataannya telah beribu orang aku datangi namun tak satupun diantara
mereka ada yang benar-benar bisa, sedang yang memberi tipu muslihat
sangatlah banyak.
Akan tetapi ada satu orang diantara yang aku temui itu sedikit lebih
bijaksana. Beliau mengatakan,
jika ada seseorang mengatakan kepadamu bahwa dia bisa merubah nasibmu
maka tengoklah kepada orang itu, apa dia bisa merubah nasibnya
sendiri. Sudah barang tentu tidak, sedang untuk dirinya sendiri dia
tak mampu apalagi untuk membantu orang lain.
Beliau lalu memberi tahu jalan yang paling mungkin untuk mencapai apa
yang aku mau.
Ujar beliau,
diawal keberadaan Adam terjadi sedikit konflik antara iblis dengan
Tuhan soal penstatusan Adam, singkat cerita akhirnya Tuhan bertanya
kepada Adam untuk membuktikan kebenaran dari apa yang Tuhan maksudkan
"sebutkan kepada-Ku semua nama (benda) ini, jika engkau orang yang
benar"( Al-Baqarah 31)
maka mereka menjawab "Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui
selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau
maha mengetahui lagi mahabijaksana" (Al-Baqarah 32)
Kalimat yang menjelaskan bahwa Adam berusaha tidak memaksakan
pikirannya untuk mengetahui apa-apa dari yang sedang dia hadapi. Adam
memilih meletakkan apa yang dia ketahui, memilih untuk tidak merasa
bisa. Adam tidak tunduk terhadap kecerdasannya. Memilih kosong dan
membiarkan Tuhan mengajarkan apa-apa yang memang benar" tetua
menghentikan kiamat, diam sejenak lalu menyalakan rokok setelah
menawarkan kepada Angga untuk menghisap juga.
Pun Angga turut menyalakan untuk mengurangi tekanan yang ada dalam perasaannya.
"Kembalilah kepada Tuhan, agar Tuhan mengajarkan kepadamu apa-apa yang
benar tentang nasibmu. Jika ada lapang hatimu setelah ibadah malam
maka ucapkan seperti yang Adam pernah ucapkan kepada Tuhan dengan
penuh kesungguhan. Pahami maksud membersihkan diri yang berarti
mengosongkan, bersih berarti kosong dan tidak ada apapun, bodoh, pikir
baik tidak apalagi buruk, hati suci tidak apalagi kotor, sangka baik
tidak apalagi buruk sangka. Kosong ya kosong. Terserah onggokmu mau
diapakan oleh Tuhan, lalu katakan
SUBHANAKA LA ILMALANA ILLA MAALAMTANA INAKA ANTAL ALIMUL KHAKIM
seratus dua puluh tuju kali" tetua menghentikan kalimat sambil
menyalakan tiga bilah dupa lidi.
Semerbak harum tercium lembut bersamaan asap yang dengan ringan mengepul keatas.
Angga menunduk, semakin gelap perasaan dan makin tak terbendung.
Nirmala seperti bulan yang terlalu indah dan terbalut seluruh
keagungan dewi, tak mungkin dirinya boleh menyimpan rasa untuknya.
"Nirmala"

12.21.2013

Angga

Angga hanya bisa merasakan kecemasan Nirmala tapi dia tak pernah tau
apa yang seharusnya diperbuat.
Gumpalan gelisah dan sedikit takut di dada Nirmala benar-benar Angga
ikut merasa.

"Kau dewi yang seharusnya agung" ucap Angga.
Hampir gelap, justru membuat Angga lebih bisa menumpah seluruh
pemujaan terhadap Nirmala. Sket berubah menjadi gambar sempurna. Angga
benar-benar larut, lupa diri. Seluruh kesadaran hanya tertuju pada
Nirmala, sedang gelap telah sempurna.
"Nirmala" ucapnya ketika terasa tiup angin dingin mengembalikan
kesadarannya pada tubuh.
Barangkali ini saat Angga terlihat sangat bodoh, ketika Angga dikuasai
perasaan, ketika tak sedikitpun terlihat memiliki kecerdasan yang bisa
diandalkan untuk menopang hidup agar bisa lebih baik.
Tak terlihat ada kesungguhan hati yang benar-benar bisa konsisten
untuk tujuan hidup, tak memiliki prioritas selain larut dengan
perasaan.

Mengambil Gambar

Aku sempatkan mengambil gambar sederhana  pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...