Aku menghentikan tulisanku.
Kau yang ada di Belanda, sayangnya aku tak tega untuk membuktikan
semua teori yang ada di tanganku padamu.
Mbak yang di lampung. Jika gambar itu di kelilingi lingkaran. maka
mbak akan menemukan dua poin lagi, tapi lingkaran tidak terlibat
(lingkaran justru awal)
teori yang murni dan tidak aku kutip dari manapun telah aku kirim pada
dua orang perempuan.
Tidak aku publikasikan, pun dua perempuan itu jika bisa memahami dari
awal maka aku pastikan akan tahu awal kehidupan dan segala kerumitan
hidup yang sedang terjadi hingga hari kemudian.
Jika aku ada salah tentu aku meminta maaf.
Salam
9.29.2012
9.28.2012
Urip Masih Kekanakan
Urip barangkali masih seperti anak kecil yang tidak pernah tahu kapan
harus berhenti berkhayal. Dia berpikir dengan ritual purba akan bisa
mendekatkan dirinya pada kesempurnaan pemahaman pun prilaku.
Tidak, Datu Yana menganggap apa yang Urip lakukan hanya tindakan untuk
lari dari kenyataan.
" Bukankah Wahab telah mengajarkan bagaimana seharusnya pertempuran,
pertempuran selalu gagal ketika kau terlalu memperhatikan tehnik,
ketika kau memandang lawan dengan kehati-hatian. Kehati-hatian hanya
menimbulkan rasa ragu, dan tehnik hanya pakaian yang menjerat disetiap
gerakmu.
Wahab tentu sudah mengajarkan apa itu pengosongan pikiran, janganlah
pernah ragu dengan apa yang telah Wahab ajarkan.
Urip, pertandingan sesungguhnya bukanlah untuk keagungan, tapi siapa
yang harus mati.
Kau atau aku. Ini bukan pilihan tapi ketetapan. Tak pernah ada matahari kembar"
Datu Yana hanya ingin mempertegas. Bagaimana yang seharusnya permainan
kaum tua berlaku, dan bukan lagi hayalan yang bisa disimulasikan
layaknya drama anak TK.
harus berhenti berkhayal. Dia berpikir dengan ritual purba akan bisa
mendekatkan dirinya pada kesempurnaan pemahaman pun prilaku.
Tidak, Datu Yana menganggap apa yang Urip lakukan hanya tindakan untuk
lari dari kenyataan.
" Bukankah Wahab telah mengajarkan bagaimana seharusnya pertempuran,
pertempuran selalu gagal ketika kau terlalu memperhatikan tehnik,
ketika kau memandang lawan dengan kehati-hatian. Kehati-hatian hanya
menimbulkan rasa ragu, dan tehnik hanya pakaian yang menjerat disetiap
gerakmu.
Wahab tentu sudah mengajarkan apa itu pengosongan pikiran, janganlah
pernah ragu dengan apa yang telah Wahab ajarkan.
Urip, pertandingan sesungguhnya bukanlah untuk keagungan, tapi siapa
yang harus mati.
Kau atau aku. Ini bukan pilihan tapi ketetapan. Tak pernah ada matahari kembar"
Datu Yana hanya ingin mempertegas. Bagaimana yang seharusnya permainan
kaum tua berlaku, dan bukan lagi hayalan yang bisa disimulasikan
layaknya drama anak TK.
9.27.2012
Urip
"Aku hanya ingin membakar dupa untuk merangkul rasa luka yang
menyakitkan, lembut mencengkeram di ulu hati dan kadang seperti
membakar dada. Aku sama sekali tak ingin mengucap mantra. Hanya
membiarkan. Aku ingin tahu sejauh mana luka itu menghancurkan aku,
menyita dan memporak porandakan akal warasku, meludahlah kau
diwajahku. maka aku akan mengatakan, ya.., aku bergabung dengan iblis.
Demi kau perempuan yang telah menyusupkan rasa yang aneh pada hidupku"
ucap Urip, sedang tangan kiri memegang beberapa dupa lidi dan tangan
kanan menyalakan korek api untuk menyulut dupa itu.
Duduk bersila dengan memejamkan mata, wajah jelas mengambarkan betapa
buruk perangai Urip.
"Aku tidak menolak apapun itu, tapi jangan paksa aku"
Entah apa yang ada dalam pikiran Urip, kalimat yang diucapkan
terdengar aneh dan terasa sama sekali tidak ada berhubungan dengan
kedatangannya di hutan tempat Datu Yana Menyepi.
Datu Yana sudah masuk kedalam pondok, untuk melakukan sholat malam,
membiarkan urip mengekspresikan segala kecamuk.
menyakitkan, lembut mencengkeram di ulu hati dan kadang seperti
membakar dada. Aku sama sekali tak ingin mengucap mantra. Hanya
membiarkan. Aku ingin tahu sejauh mana luka itu menghancurkan aku,
menyita dan memporak porandakan akal warasku, meludahlah kau
diwajahku. maka aku akan mengatakan, ya.., aku bergabung dengan iblis.
Demi kau perempuan yang telah menyusupkan rasa yang aneh pada hidupku"
ucap Urip, sedang tangan kiri memegang beberapa dupa lidi dan tangan
kanan menyalakan korek api untuk menyulut dupa itu.
Duduk bersila dengan memejamkan mata, wajah jelas mengambarkan betapa
buruk perangai Urip.
"Aku tidak menolak apapun itu, tapi jangan paksa aku"
Entah apa yang ada dalam pikiran Urip, kalimat yang diucapkan
terdengar aneh dan terasa sama sekali tidak ada berhubungan dengan
kedatangannya di hutan tempat Datu Yana Menyepi.
Datu Yana sudah masuk kedalam pondok, untuk melakukan sholat malam,
membiarkan urip mengekspresikan segala kecamuk.
Akal Urip Menyangkal
Tak ada tanda gerak dari angin, hanya serangga malam yang ribut,
sedang langit penuh bintang, menampilkan taburan yang sangat
mempesona.
"Yang paling tinggi derajat pun pengetahuan manusia justru ketika
manusia itu sedia berada di posisi paling bawah dari kehidupan,
seberapa kesediaan manusia itu meninggikan derajat kehidupan yang
lain. Maka ketika orang merasa pantas untuk ditinggikan tentu itu tak
lebih dari orang bodoh yang gila hormat. Pun ketika orang merasa telah
memiliki pengetahuan maka bisa dipastikan bahwa kesombonganlah yang
bertahta"
Kopi masih hangat, siap memberikan kenikmatan, menghibur masam liur.
Datu Yana menyalakan rokoknya pun Urip jua. Ada disetengah hati Urip
ingin menyangkal, namun rasa hormat terhadap Datu Yang telah
memandegkan.
"Untuk apa pengejaran jika pada penghabisannya justru harus dibawah"
gerutu Urip dalam hati.
Sedang Datu Yana orang tua yang telah banyak makan garam, tentu dia
bisa membaca apa yang ada dipikiran Urip. Pun Datu Yana sangat tahu
jika suatu ketika Urip akan faham dengan apa yang baru disampaikannya.
sedang langit penuh bintang, menampilkan taburan yang sangat
mempesona.
"Yang paling tinggi derajat pun pengetahuan manusia justru ketika
manusia itu sedia berada di posisi paling bawah dari kehidupan,
seberapa kesediaan manusia itu meninggikan derajat kehidupan yang
lain. Maka ketika orang merasa pantas untuk ditinggikan tentu itu tak
lebih dari orang bodoh yang gila hormat. Pun ketika orang merasa telah
memiliki pengetahuan maka bisa dipastikan bahwa kesombonganlah yang
bertahta"
Kopi masih hangat, siap memberikan kenikmatan, menghibur masam liur.
Datu Yana menyalakan rokoknya pun Urip jua. Ada disetengah hati Urip
ingin menyangkal, namun rasa hormat terhadap Datu Yang telah
memandegkan.
"Untuk apa pengejaran jika pada penghabisannya justru harus dibawah"
gerutu Urip dalam hati.
Sedang Datu Yana orang tua yang telah banyak makan garam, tentu dia
bisa membaca apa yang ada dipikiran Urip. Pun Datu Yana sangat tahu
jika suatu ketika Urip akan faham dengan apa yang baru disampaikannya.
9.25.2012
Sore Bersama Datu Yana
Hari keduabelas Urip menjadi tamu Datu Yana, hampir semua yang
diketahui Datu Yana telah didengar Urip dengan gamblang, tak satupun
ada yang terlewatkan.
Sore menjelang senja keduanya turun ke tepi Hutan sekedar membuang
lelah pikiran.
"Aku sangat tahu akan Wahab, dia sudah lebih dari cukup untuk kau
ambil pengetahuannya. Aku semasa muda dulu bersama Wahab larut dalam
pencarian tentang kebenaran Tuhan dan nasib dari hidup manusia, tak
beda seperti apa yang sekarang ini kau cari. Rupanya Wahablah yang
lebih tanggap daripada aku untuk menyerap informasi alam yang
menyimpan rahasia itu, sayang sungguh sayang, yang didapat bukanlah
kebahagiaan seperti yang diinginkan, tapi justru kesedihan yang
mendalam, betapa tidak, karena setelah itu Wahab justru banyak
kedatangan tamu, namun orang-orang yang datang kepadanya hampir semua
tak pernah bisa diingatkan, sedang Wahab dengan jelas mengetahui nasib
yang bakal terjadi pada mereka. Hampir disetiap hari Wahab harus
kehabisan energi untuk mengabarkan kebenaran, namun yang didapat tetap
kekecewaan. Orang-orang tetap tak bisa memahami apa yang telah
disampaikan. Semua peringatan dari Wahab hanya dianggap kalimat sakti,
bukan untuk dicermati, dianggapnya kalimat itu sebagai jimat, yang
hanya pantas untuk disimpan sebagai keberuntungan. Tentu itu salah.
Dan aku sangat tahu jika Wahab bakal sedih.
Andai kau tahu, sebenarnya Wahab masih mengambil sebagian pengetahuan
nasib. Belum semua. Andai seluruh rahasia nasib itu diambil, mungkin
Wahab akan sembunyi dari kehidupan, aku rasa dia akan makin tertekan
melihat manusia yang sibuk menyusun kehancurannya sendiri. Sejak awal
manusia memang telah sia-sia dan larut dalam tipu daya"
Datu Yana mengambil nafas lalu menghempaskan dengan panjang, bersamaan
dengan kepalanya yang menengadah, melapangkan pandang, melepas tiga
perempat dari sisa yang di ketahui tentang Wahab pada langit. Datu
Yana tidak bisa menceritakan semua tentang Wahab, hanya langitlah
tempat yang lapang untuk menerima apa yang ada dalam perasaan dan
pikiran Datu Yana walau tak terucap.
Langit sore memerah, matahari makin menepi. Senja lukisan terindah karya alam.
"Urip, memiliki pengetahuan tinggi bukan berarti kebahagiaan,
melainkan mempertegas kebodohan. Sungguh sedikit yang engkau akan
ketahui, namun begitu banyak yang tidak engkau ketahui. Orang yang
sungguh-sungguh pintar adalah orang yang mengetahui bahwa dirinya
terlalu bodoh" Datu Yana meninggalkan Urip sendirian duduk diatas
rumput, ditemani angin sepoi dan ilalang yang menari. Sedang burung
pipit masih sayang melewatkan sere yang sempurna.
Pelepas lelah jiwa.
diketahui Datu Yana telah didengar Urip dengan gamblang, tak satupun
ada yang terlewatkan.
Sore menjelang senja keduanya turun ke tepi Hutan sekedar membuang
lelah pikiran.
"Aku sangat tahu akan Wahab, dia sudah lebih dari cukup untuk kau
ambil pengetahuannya. Aku semasa muda dulu bersama Wahab larut dalam
pencarian tentang kebenaran Tuhan dan nasib dari hidup manusia, tak
beda seperti apa yang sekarang ini kau cari. Rupanya Wahablah yang
lebih tanggap daripada aku untuk menyerap informasi alam yang
menyimpan rahasia itu, sayang sungguh sayang, yang didapat bukanlah
kebahagiaan seperti yang diinginkan, tapi justru kesedihan yang
mendalam, betapa tidak, karena setelah itu Wahab justru banyak
kedatangan tamu, namun orang-orang yang datang kepadanya hampir semua
tak pernah bisa diingatkan, sedang Wahab dengan jelas mengetahui nasib
yang bakal terjadi pada mereka. Hampir disetiap hari Wahab harus
kehabisan energi untuk mengabarkan kebenaran, namun yang didapat tetap
kekecewaan. Orang-orang tetap tak bisa memahami apa yang telah
disampaikan. Semua peringatan dari Wahab hanya dianggap kalimat sakti,
bukan untuk dicermati, dianggapnya kalimat itu sebagai jimat, yang
hanya pantas untuk disimpan sebagai keberuntungan. Tentu itu salah.
Dan aku sangat tahu jika Wahab bakal sedih.
Andai kau tahu, sebenarnya Wahab masih mengambil sebagian pengetahuan
nasib. Belum semua. Andai seluruh rahasia nasib itu diambil, mungkin
Wahab akan sembunyi dari kehidupan, aku rasa dia akan makin tertekan
melihat manusia yang sibuk menyusun kehancurannya sendiri. Sejak awal
manusia memang telah sia-sia dan larut dalam tipu daya"
Datu Yana mengambil nafas lalu menghempaskan dengan panjang, bersamaan
dengan kepalanya yang menengadah, melapangkan pandang, melepas tiga
perempat dari sisa yang di ketahui tentang Wahab pada langit. Datu
Yana tidak bisa menceritakan semua tentang Wahab, hanya langitlah
tempat yang lapang untuk menerima apa yang ada dalam perasaan dan
pikiran Datu Yana walau tak terucap.
Langit sore memerah, matahari makin menepi. Senja lukisan terindah karya alam.
"Urip, memiliki pengetahuan tinggi bukan berarti kebahagiaan,
melainkan mempertegas kebodohan. Sungguh sedikit yang engkau akan
ketahui, namun begitu banyak yang tidak engkau ketahui. Orang yang
sungguh-sungguh pintar adalah orang yang mengetahui bahwa dirinya
terlalu bodoh" Datu Yana meninggalkan Urip sendirian duduk diatas
rumput, ditemani angin sepoi dan ilalang yang menari. Sedang burung
pipit masih sayang melewatkan sere yang sempurna.
Pelepas lelah jiwa.
9.24.2012
Rian Buntu
".......atau kau berikan saja kalimat-kalimat romantis penggoda, itu
mudah didapat, cari saja di google, dan tinggal pilih mana yang cocok.
Yah.., agak murahan sih, tapi itu bisa jadi pilihan"
Opsi sudah ditawarkan mulai dari yang ekstrim hingga yang gombal,
tinggal Rian menentukan pilihan untuk menyikapi cintanya yang baru
saja berkembang tapi mendadak buntu itu. Namun sayang, bagi Rian semua
opsi yang ditawarkan Kojin malah terasa tak lebih dari sampah yang
ditumpahkan, tak satu opsipun bisa diambil untuk sedikit mencerahkan
kalut yang menyelimuti. Bergolak dan tak mungkin melerai rasa ingin
pada Mita itu justru makin di ubun-ubun, bahkan Kojin yang tadinya
mejadi harapan malah terlihat seperti nenek-nenek sihir yang cerewet.
Buntu, tak lagi bisa mendengar kalimat, yang ada makin gelap. Tak
satupun kalimat yang diucap Kojin bisa dimanfaatkannya. Sepertinya
hanya mengubah level pahitnya liur secara drastis.
"Kerasukan apa engkau ini?" Kojin mulai melihat Rian yang berekspresi
lain dan gelagat tak beres.
"Rian, Rian, Rian!" Kojin mulai was. Rasa takut mulai mengambil posisi.
"Ya, om" sahut Rian.
Cukup alasan rasanya untuk leganya perasaan Kojin mendengar sahut
Rian, hingga Kojin bisa membuang nafas dengan lapang.
"Gila kau ini, membuat jantungku hampir berhenti" sumpah Kojin menumpah.
"Ha ha ha...., emang cinta mulai dulu selalu membuat orang yang waras
menjadi gila, lihat dirimu!" ujar kojin.
"Aku melihatmu bukan seperti orang yang rindu, tapi lebih seperti
orang marah, yang tak bisa mengendalikan apapun.
Ya, sudahlah, selama kau masih bisa tertutup tak masalah dengan apa
yang orang lain pikirkan. Semua akan baik-baik saja"
Kojin melepas permasalahan Rian, karena tersadari tak ada solusi bagi
Rian kecuali menatap wajah kekasihnya. Tak mungkin bagi Rian menafikan
perasaan cinta yang melilit hingga sumsum itu.
Mungkin tidak semua pertanyaan ada jawabnya. Tapi salahkah jika Rian bertanya.
mudah didapat, cari saja di google, dan tinggal pilih mana yang cocok.
Yah.., agak murahan sih, tapi itu bisa jadi pilihan"
Opsi sudah ditawarkan mulai dari yang ekstrim hingga yang gombal,
tinggal Rian menentukan pilihan untuk menyikapi cintanya yang baru
saja berkembang tapi mendadak buntu itu. Namun sayang, bagi Rian semua
opsi yang ditawarkan Kojin malah terasa tak lebih dari sampah yang
ditumpahkan, tak satu opsipun bisa diambil untuk sedikit mencerahkan
kalut yang menyelimuti. Bergolak dan tak mungkin melerai rasa ingin
pada Mita itu justru makin di ubun-ubun, bahkan Kojin yang tadinya
mejadi harapan malah terlihat seperti nenek-nenek sihir yang cerewet.
Buntu, tak lagi bisa mendengar kalimat, yang ada makin gelap. Tak
satupun kalimat yang diucap Kojin bisa dimanfaatkannya. Sepertinya
hanya mengubah level pahitnya liur secara drastis.
"Kerasukan apa engkau ini?" Kojin mulai melihat Rian yang berekspresi
lain dan gelagat tak beres.
"Rian, Rian, Rian!" Kojin mulai was. Rasa takut mulai mengambil posisi.
"Ya, om" sahut Rian.
Cukup alasan rasanya untuk leganya perasaan Kojin mendengar sahut
Rian, hingga Kojin bisa membuang nafas dengan lapang.
"Gila kau ini, membuat jantungku hampir berhenti" sumpah Kojin menumpah.
"Ha ha ha...., emang cinta mulai dulu selalu membuat orang yang waras
menjadi gila, lihat dirimu!" ujar kojin.
"Aku melihatmu bukan seperti orang yang rindu, tapi lebih seperti
orang marah, yang tak bisa mengendalikan apapun.
Ya, sudahlah, selama kau masih bisa tertutup tak masalah dengan apa
yang orang lain pikirkan. Semua akan baik-baik saja"
Kojin melepas permasalahan Rian, karena tersadari tak ada solusi bagi
Rian kecuali menatap wajah kekasihnya. Tak mungkin bagi Rian menafikan
perasaan cinta yang melilit hingga sumsum itu.
Mungkin tidak semua pertanyaan ada jawabnya. Tapi salahkah jika Rian bertanya.
9.23.2012
Di Rumah Kojin
"Itu tempat pelatihan suci. Aku bersama Beng juga Hadi pernah belajar
bersama disana.
Aku bersama mereka belajar melepaskan ikatan, tanpa rasa takut, tanpa
amarah, tanpa keagungan. Belajar menetapkan hati pada satu tujuan
tanpa harus kehilangan hati dan perasaan.
Selayaknya apa yang pernah dilakukan para pendahulu, yang jelas
identitasnya tanpa harus kehilangan adat timur.
Inti dari pembelajaran agar tidak menjadi manusia yang hanya melukai
kehidupan yang lain" Kojin melangkahkan kaki menuju halaman belakang
rumah yang sekaligus merupakan bengkel seni pribadi. Rumah sederhana
type 54 dengan halaman belakang yang cukup, terlihat rapi dan sangat
terkonsep, ini tempat Kojin menuangkan segala rasa seni yang tersimpan
dalam seluruh tubuh kurusnya itu. Terjajar patung karya tangan seni
Kojin dengan berbagai bentuk ekspresi yang rata-rata kuat dan detil.
"O...mah, tolong buatkan kopi satu lagi, buat Rian nih!" agak sedikit
keras suara Kojin, untuk memastikan istrinya mendengar.
"Sadari sebuah tindakan tidak cukup dengan hanya mengandalkan percaya
diri semata, tapi memerlukan keputusan yang optimal dan memadai
terhadap apa yang akan kau lakukan" ucap Kojin sambil meletakan
pantatnya pada kursi kayu.
"Wah, aku mau mendapatkan cinta om, bukan mau bertapa" jawab Rian
dengan polos. Kojin justru meledak tawanya begitu menyadari dia salah
memberi jawaban pada Rian.
"Sorry man..., di daerah Tumbang Nusa ya sekarang Mita?, nah....kita
minum kopi dulu" kojin melapangkan perasaan rileks dengan meminum kopi
yang masih hangat disusul dengan menyalakan rokok kretek yang sejak
tadi sudah ditangan dan belum dinyalakan. Tak lama kemudian istri
Kojin datang dengan nampan berisi secangkir kopi panas, lalu
meletakkannya di meja serta mempersilahkan Rian untuk meminum.
bersama disana.
Aku bersama mereka belajar melepaskan ikatan, tanpa rasa takut, tanpa
amarah, tanpa keagungan. Belajar menetapkan hati pada satu tujuan
tanpa harus kehilangan hati dan perasaan.
Selayaknya apa yang pernah dilakukan para pendahulu, yang jelas
identitasnya tanpa harus kehilangan adat timur.
Inti dari pembelajaran agar tidak menjadi manusia yang hanya melukai
kehidupan yang lain" Kojin melangkahkan kaki menuju halaman belakang
rumah yang sekaligus merupakan bengkel seni pribadi. Rumah sederhana
type 54 dengan halaman belakang yang cukup, terlihat rapi dan sangat
terkonsep, ini tempat Kojin menuangkan segala rasa seni yang tersimpan
dalam seluruh tubuh kurusnya itu. Terjajar patung karya tangan seni
Kojin dengan berbagai bentuk ekspresi yang rata-rata kuat dan detil.
"O...mah, tolong buatkan kopi satu lagi, buat Rian nih!" agak sedikit
keras suara Kojin, untuk memastikan istrinya mendengar.
"Sadari sebuah tindakan tidak cukup dengan hanya mengandalkan percaya
diri semata, tapi memerlukan keputusan yang optimal dan memadai
terhadap apa yang akan kau lakukan" ucap Kojin sambil meletakan
pantatnya pada kursi kayu.
"Wah, aku mau mendapatkan cinta om, bukan mau bertapa" jawab Rian
dengan polos. Kojin justru meledak tawanya begitu menyadari dia salah
memberi jawaban pada Rian.
"Sorry man..., di daerah Tumbang Nusa ya sekarang Mita?, nah....kita
minum kopi dulu" kojin melapangkan perasaan rileks dengan meminum kopi
yang masih hangat disusul dengan menyalakan rokok kretek yang sejak
tadi sudah ditangan dan belum dinyalakan. Tak lama kemudian istri
Kojin datang dengan nampan berisi secangkir kopi panas, lalu
meletakkannya di meja serta mempersilahkan Rian untuk meminum.
Langganan:
Postingan (Atom)
Mengambil Gambar
Aku sempatkan mengambil gambar sederhana pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...
-
Tubuh Dewi masih terlihat sangat letih, letih tubuh juga perasaan. Dewi masih enggan untuk menemui Arya. Selalu timbul perasaan malu jika t...
-
"Sakiti aku dengan tanganmu. Hanya itu yang Kemala mau, tak lebih. Mungkin Kemala tak pernah mencintai Arya tapi dengan melihat A...
-
Waktu dan ruang selalu setia memberi kesempatan kepada alam dan seisinya untuk larut dalam pencariannya masing-masing, mempersilahkan hidup ...