Urip barangkali masih seperti anak kecil yang tidak pernah tahu kapan
harus berhenti berkhayal. Dia berpikir dengan ritual purba akan bisa
mendekatkan dirinya pada kesempurnaan pemahaman pun prilaku.
Tidak, Datu Yana menganggap apa yang Urip lakukan hanya tindakan untuk
lari dari kenyataan.
" Bukankah Wahab telah mengajarkan bagaimana seharusnya pertempuran,
pertempuran selalu gagal ketika kau terlalu memperhatikan tehnik,
ketika kau memandang lawan dengan kehati-hatian. Kehati-hatian hanya
menimbulkan rasa ragu, dan tehnik hanya pakaian yang menjerat disetiap
gerakmu.
Wahab tentu sudah mengajarkan apa itu pengosongan pikiran, janganlah
pernah ragu dengan apa yang telah Wahab ajarkan.
Urip, pertandingan sesungguhnya bukanlah untuk keagungan, tapi siapa
yang harus mati.
Kau atau aku. Ini bukan pilihan tapi ketetapan. Tak pernah ada matahari kembar"
Datu Yana hanya ingin mempertegas. Bagaimana yang seharusnya permainan
kaum tua berlaku, dan bukan lagi hayalan yang bisa disimulasikan
layaknya drama anak TK.
9.28.2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengambil Gambar
Aku sempatkan mengambil gambar sederhana pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...
-
Tubuh Dewi masih terlihat sangat letih, letih tubuh juga perasaan. Dewi masih enggan untuk menemui Arya. Selalu timbul perasaan malu jika t...
-
Waktu dan ruang selalu setia memberi kesempatan kepada alam dan seisinya untuk larut dalam pencariannya masing-masing, mempersilahkan hidup ...
-
Angga mendengar apa yang tetua ucap tapi ucapan tetua sama sekali tak bisa dipahami. Pun tetua sangat mengerti itu, maka senyum tetua cukup...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar