4.24.2014

Kau Lelah

Terkadang aku membaca tulisan seseorang bukanlah memperhatikan apa
yang ditulis itu tapi psikologis dari si penulis itu.
Tekanan, kejenuhan, bimbang, pamer, bangga, bagia, ragu bertindak,
tegur sapa kepada yang lain atau apa saja latar belakang penulis
terkadang sangat jelas bagiku.

Pun ketika membaca tulisan dari seorang kekasih yang bercerita tentang
rananya maka aku bukan tak tahu rana itu itu. Namun rana itu bagiku
bisa berubah menjadi wakil dari kalimat meminta aku untuk lebih
serius padanya. Dengan alasan rana itu nyata ditujukan padaku.
Seseorang tidaklah mudah jujur mengungkap apa yang ada di hati dan
pikirannya kecuali kepada orang yang memang benar bisa dipercaya
sebagai sandaran atas letih.
Pula aku heran karena aku tahu jika disisi setengah dari perasaannya
mengatakan jika aku sama sekali bukanlah pilihan yang tepat baginya.
Terkadang hal seperti inilah yang membuat aku tidak memahami
perempuan. Satu sisi meminta namun bibir berkata tidak. Dan ketika aku
bersungguh maka makin keras sekali dia mengatakan tidak pun ketika aku
melemah maka dia bisa gelisah.
Ya, hati dan pikiran tak akan pernah sama. Hati tahunya senang tanpa
perlu perhitungan sedang pikiran sangat memperhitungkan dari segala
hal pemenuh kesenangan.

Ya, kaki kiri dan kaki kanan melangkah bergantian ketika kau berjalan,
barangkali itu hati dan pikiranmu yang sedang menuju tempat seperti
yang kau mau.

Kau lelah berjalan, aku mengerti itu dan aku hanya orang yang
kebetulan sesui untuk membuang serapahmu.

4.21.2014

Ah

"Dia sebenarnya perempuan yang memiliki banyak alasan untuk bisa pergi
meninggalkan Urip, dan itu berbanding terbalik dengan Urip. Entah apa
yang menjadi alasan sehingga dia tidak melakukannya" ujar guru Wahab
tanpa ekspresi.
"Terasa hanya hal buruk, terkadang manusia justru belajar di keadaan
buruk itu, hidup akan mengajarkan banyak hal.
Tapi apa itu sepadan dengan apa didapat oleh perempuan itu. Perempuan
itu bisa berlalu seharusnya.
Mantra pemikat apa yang ditiupkan Urip?" sambung datu Yana.

4.20.2014

Salam

Bahkan aku tak pernah yakin pada diriku sendiri. Aku hanya merasa
selalu ingin bercerita panjang lebar padamu. Tentang apa saja.
Sadar diri tentu, jika aku membosankan.

4.17.2014

Aku Bodoh

Guru Wahab pun datu Yana bingung mendengar, jelas ada pemaksaan
kalimat dari penjawaban. Datu pun guru mengerenyitkan dahi berusaha
menerka apa yang ada dalam pikiranku, keduanya merasa jika hanya
tubuhku yang ada diantara mereka sedang hatiku tidak. Mereka mulai
sadar jika kesadaranku telah berada jauh dari tubuhku.
Tak beda aku juga sadar atas tatapan mereka berdua, tampak sekali ada
keterkejutan atas jawabanku tadi.
Benar memang, yang ada di kepalaku hanya dia, kekasihku. Aku hanya
bisa mengingat senyum kekasihku, tak lagi mengetahui apa yang mereka
berdua debatkan.

Barangkali seperti sangkamu jika aku terlalu bodoh, karena ketika
sedang berada diantara dua tokoh tua, aku justru sibuk memandang wajah
kekasihku yang aku download dan simpan dari situs miliknya.

4.13.2014

Cinta

"Apa yang kita ucapkan hanya menjadi pelindung, masing-masing dari
yang disebut sungguh tetap tersembunyi, kita masih rahasia atau justru
kita tak pernah mengetahui seperti apa kita sebenarnya.
Aku urat darah daging tulang sumsum, yang memiliki kemauan, bukan
keinginan yang ada dalam pikiran.
Bukankah guru pernah mengajarkan itu padaku.
Bukankah diskusi ini hanya refleksi keakuan. Benturan ego.

Aku juga kekasihku hanyalah gambaran kepahitan zaman. Tidak ada
kaitannya dengan yang kalian debatkan.
Tingginya edukasi seolah kemajuan yang menawarkan kemapanan, pun
ketika tak terdidik nyata bakal tergilas kemajuan peradaban, tapi kami
pada kenyataan hanya ingkar dari kodrat yang hanya berujung siksa.
Kami melupa usia demi mimpi yang jelas tidak akan pernah pasti, seolah
sengaja melupa jika sepasang kekasih seharusnya berakhir bahagia.
Aku pun dia sadar jika ini hanya petaka, kami hanya saling cinta,
tak pernah mau sadar jika cinta adalah wujud sunyinya hati yang Tuhan
bekalkan agar manusia sedia berpasangan-pasangan, demi lahirnya
regenerasi, kelangsungan hidup species manusia.
Jika sunyi hati tak pernah ada mungkin manusia hanya sibuk dengan
pikirannya, pikiran waras yang menolak cinta, mungkin pria pun wanita
akan sibuk sepanjang masa dan tak akan tertarik untuk berbagi ruang
diantara keduanya.
Itu kenyataan ku dengannya, itulah aku pun dia adanya yang nyata.
Jangan pernah dibuat asumsi, hati sunyi tak memerlukan asumsi"

4.11.2014

Ego keduanya

Guru Wahab tersenyum tipis
"Satu hal lagi yang aku ingin sedikit bertanya, mengapa kau selalu
condong ke kiri, mengapa kau suka membalik aturan yang sedang berlaku
dalam tatanan masyarakat" tanya datu Yana.
"Kiri atau kanan tergantung dari posisi hadap subyek kepada objek atau
obyek itu sendiri yang menentukan hadap, aku ambil contoh jika huru b
kau tulis pada media transparan maka b itu bisa berubah menjadi d jika
kau melihat huruf b itu dari sisi sebaliknya, atau b tersebut akan
bisa menjadi d ketika media tulis transparan tersebut berputar 180
derajat, b pun d sama-sama huruf yang memiliki fungsi dalam rangkaian
huruf dalam kata. Keduanya benar.
Seperti katamu aku memang suka berada di posisi sebaliknya dari
aturan. Kiri atau kanan merupakan pendapat subyek namun obyek tetap
setia dengan keberadaannya, tak bisa didustakan, bukankah jelas jika
benar atau salah hanya asumsi subyek.
Lalu apakah kau ingin menyalahkan aku ketika berasumsi sesuatu yang
jamak berlaku tak lebih dari pembodohan, membunuh kreatifitas,
menjadikanmu tak pernah berani melakukan eksplorasi dari kekayaan
potensi yang kau sendiri telah miliki, kau tak akan pernah bisa
berkreasi karena kau takut dibilang berbeda. Bagiku itu makna
penyeragaman dalam tatanan masyarakat. Mengapa kau memilih sesuatu
yang seragam, sedang dirimu tak sekalipun sama dengan yang lain, nama,
umur, wajah warna kulit, semuanya berbeda. Haruskah kita seragam dalam
pendapat?
Aku yang sebenarnya harus bertanya padamu, mengapa kau bisa menjadi
sama dengan yang lain. Mengapa anak-anakmu kau perintahkan untuk
menghabiskan waktu di sekolahnya untuk menghafal pelajaran yang belum
tentu sesuai untuknya. Mengapa tidak kau berikan waktu kepadanya untuk
lebih banyak bermain, sehingga dia menjadi manusia yang berkembang
dengan kreativitasnya. Sadarkah kau jika anakmu bukan bahan mentah
yang siap dicetak oleh mesin produksi. Mereka manusia kreatif yang
bisa menjadi seperti apa yang dia mau, mereka memiliki optimis yang
luar biasa" jawab guru Wahab.
"Kau memang selalu melawan dengan berbagai konsep yang mengejutkan,
namun semua yang kau sampaikan itu hanya penyampaian meminta
pembenaran, kau berdalih" datu Yana tersenyum masam.
Terasa jika datu Yana akan segera menantang dan itu makin jelas ketika
datu mengarahkan pandangannya padaku.
"Rip, kau masih mencintainya? Seberapa kesungguhanmu padanya?" tanya
datu padaku.
Aku tidak terkejut, aku memang sudah siap terhadap kemungkinan, sudah
resiko jika akan terlibat ketika berada diantara perdebatan mereka.
"Tak perlu kau jawab, matamu sudah lebih dari cukup untuk menjawab.
Apa itu yang kau maksud kreatifitas? Menjalin hubungan terhadap
perempuan yang dicintai tanpa pernah menyentuh lembut dari kulit
perempuan itu? Dunia maya untuk prosesi ritual sunah rasul? Urip
bagiku tak lebih dari sebagian gambar atas kegagalanmu mentransformasi
ide pembelotan dari pakem yang seharusnya. Itukah jalan kiri yang kau
maksud?" ucap datu.
Aku terdiam duduk diantara dua monster yang bernama ego. Keduanya
minta dibenarkan, meminta pengakuan.
Guru Wahab tersenyum kearahku dan datu pun aku paham itu. Guru Wahab
memberi kesempatan padaku untuk jangan hanya diam.
Suasana sesaat lengang kami bertiga seolah memberi kesempatan pada
serangga malam untuk memainkan musiknya disela lelah dari meninggikan
tensi.

4.09.2014

Ego

"...It's hard to tell your mind to stop loving someone when your heart
still does..." itu kalimat yang sedikit aku ingat juga sulit aku
pahami dengan baik. Itu ucapan Peter, seorang sahabat.

Sedang malam sudah hampir pagi, aku masih merenung tentang kita. Sudah
tak lagi aku memiliki alasan untuk apa aku selalu ingin kau.
Belakangan aku berusaha menghentikan, ada selalu perasaan salah yang
datang. Bukan apa, tapi aku semakin lancang ketika sudah tidak sungkan
mengatakan bahwa aku perlu bersandar atas sunyinya perasaan padamu.
Benar, masing-masing orang memiliki sunyi dan lelahnya jiwa mereka
sendiri-sendiri dan kekasih hatilah yang menjadi sandaran sunyi itu,
karena Tuhan yang seharusnya ada terlalu sulit untuk dinyatakan dalam
kehidupan.

Kasih biarkan aku memanggilmu ketika aku tidak mampu.

Mengambil Gambar

Aku sempatkan mengambil gambar sederhana  pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...