3.11.2013

Salam Urip

"Kau tampak masih menyimpan dia di hati" tanya Dimah sambil menata
kayu menjaga besaran api. Angin telah membawa dingin, dan di langit
bintang-bintang satu persatu menghilang tertutup awan, sedang Beng
sudah terlelap di dalam tenda.
"Barangkali dia sudah mengambil jalan yang tepat dengan berusaha
kembali pada jalur yang seharusnya, pun aku, akan lebih lega ketika
dia telah sepakat untuk melupa" Urip melepas nafas menyertakan salam
untuk orang yang selalu mengisi ruang ingatannya.
"Kasih kau yang terbaik" ucap Urip lirih.
Dimah tak ingin bersuara lagi, dia merasa telah salah mengajukan
pertanyaan. Hangat api hanya membawa keduanya untuk membisu dan
terlarut dalam pikiran masing-masing.

3.09.2013

Tinggi Malam

"Menurut kabar pemukiman orang-orang Tanah Dalam sangatlah jauh dari
batas yang kita ketahui itu, dan kabarnya pula disana bukanlah tempat
yang baik, kita hanya akan mendatangi petaka, secara teknis wilayah
itu tidak masuk dalam peta.
Tapi setidaknya aku masih tetap berusaha untuk mengendalikan rasa
takut" ucap Dimah
"Barangkali itulah yang menjadi alasan mengapa aku begitu
memikirkanmu, bukanlah soal Tanah Dalam, karena sepengetahuanku kau
hanya perempuan yang tertarik terhadap sastra, aku masih belum percaya
kau berada disini, dan aku rasa disini bukanlah tempat yang seharusnya
untukmu.
Namun kenyataannya kita sekarang berada ditempat yang benar sangat
jauh, seolah membawa kita pada masa yang telah lalu, jauh dari
peradaban.
Walaupun sesungguhnya aku taklah jauh beda denganmu, juga merasa ragu
apakah kita berada di jalur yang benar, lebih buruk lagi mungkinkah
kita akan bisa kembali" timpal Urip.

Beng tak hirau terhadap pembicaraan keduanya. Beng lebih tertarik
dengan isi buku yang akhir-akhir ini sering tertunda untuk dibacanya.

Malam semakin tinggi dan langit gelap penuh dengan bintang, api masih
cukup menghangatkan tubuh mereka bertiga.

3.07.2013

Senja

Urip sangat tahu jika situasi sudah berubah, tidak mungkin untuk
mengubah masa lalu, tapi setidaknya masa lalu telah memberi pelajaran.
Berkumpul dengan penyihir-penyihir hitam yang meramu tipu daya menjadi
pilihan terbaik, setidaknya untuk sesaat dia bisa sedikit melupa apa
yang memang tidak seharusnya.
Sebentar lagi malam, ada sayup terdengar dari jauh kumandang adzan,
tapi ketika Urip menoleh kearah suara dia mulai merasa ada sesuatu
yang buruk di dada, sesaat dia terdiam
"Ya Rob..." Urip berucap lirih, Urip merasa ada ketidakberesan dalam
hidupnya, ada keraguan terhadap apa yang telah selama ini dia lakukan,
Urip bimbang
"Rasanya aku telah melakukan hal yang salah tapi selalu berdalih untuk
minta di benarkan"

Dimah yang sedari tadi memperhatikan Urip mulai curiga, namun Dimah
hanya bisa menahan rasa ketika hasrat untuk menaya mulai mengusik.
Dimah hanya membiarkan Urip larut dalam perang menghadapi hatinya
sendiri.

3.05.2013

Menuju Tanah Dalam

"...tak banyak orang yang bisa memahami apa yang telah dilalui dan
seharusnya dia segera mencari penggantimu, agar jangan semakin dalam
sakit menusuk. Aku yakin dia lelah dengan semua, aku bisa merasakan
betapa kecewa itu nyata, pun juga akan sulit untuk menghapus semua
yang ada dalam ingatannya.
Kau bukanlah untuknya Rip, segeralah sadar, walaupun cinta itu ada,
yakinlah itu hanya seperti mimpi panjang yang tak akan pernah usai
dan pasti sangat tidak mengenakan mengharap peluk yang tak kunjung
tiba. Kau kejam, kau egois, apa yang kau pikirkan.
Rip, kini aku tahu bahwa benar yang orang-orang katakan tentangmu, kau
lebih gila dari semua orang yang pernah aku temui" ujar Dimah sambil
menata perbekalan, sedang Beng hanya tersenyum mendengar Dimah ngomel.

Ketiganya pagi itu berangkat menuju Tanah Dalam atas undangan yang
telah disampaikan melalui Lehar. Langit cerah, tanah masih basah bekas
hujan tadi malam.
"Jaman sedemikian modern dengan berbagai kemudahan tekhnologi masih
saja orang Tanah Dalam mengirim undangan menggunakan jasa atar, maka
yang diantar hanya sebilah ranting kering.
Kan bisa sms ..." celetuk Urip sementara tangan kanannya masih
memegang ranting yang diberikan Lehar malam itu. Urip sebenarnya hanya
berusaha mengalihkan perhatian, menghidari Dimah yang semakin sewot.
Ternyata berakibat positif untuk Urip, karena Dimah yang tadinya
tampak serius kini terlihat menahan tawa menutupi geli mendengar Urip,
sedang Beng tertawa mendengar betapa konyol Urip.
"Namanya sudah Tanah Dalam, semua orang sudah tahu akan keberadaannya
yang jauh di dalam hutan. Nah..., sekarang aku tanya, mengapa kita
nggak menuju Tanah Dalam dengan menggunakan mobil saja, atau
setidaknya menggunakan transportasi lain yang lebih sederhana, sepeda
motor barangkali" jawab Beng.

3.04.2013

Urip

Urip terpaku mendengar ucapan Narang. Dia sadar apa kedepan yang dia
bakal hadapi. Tak jauh beda dirinya dengan Arya yang membiarkan
kekasihnya membeku menjalani hari-hari yang terasa melelahkan.

"Kasih maafkan aku" ucap Urip lirih penuh sesal.

Pilihan Narang

Narang tergugah, ketika Lehar menyampaikan tegur padanya, terasa ada
yang menyentuh lubuk hati. Bukankah dia telah bekerja keras menjalani
pilihan hidup demi mimpinya. Dia sadar untuk apa seharusnya dia
diadakan dan memang kekuatan itu ada dalam darahnya yang mengalir.
Seharusnya dia perlu berfikir sebelum mengambil keputusan, masa bodoh
dengan kesetiaan

"Bertindak dengan cerdas seharusnya, itu yang barang kali datu
harapkan, tapi sayangnya insting makhluk sosial lebih menuntunku,
walaupun itu berarti menjadikanku harus binasa seperti Arya yang
lenyap bersama kisah cintanya yang selalu digenggam juga kesetiaannya
kepada orang-orang yang dicintai" ucap Narang untuk memastikan bahwa
dia tahu apa yang seharusnya dilakukan.

2.28.2013

Kehadiran Lehar

":...Ada yang menggeser pohon pembatas antara Tanah Luar dengan Tanah
Dalam, dan kita berada di Tanah Luar yang berbatasan langsung tentu
akan merasa kurang enak karena pohon pembatas itu bergeser kearah
Tanah Dalam, walaupun mereka tak menuduh kita secara..." Nungkai
menghentikan kalimat.
"Ada apa Nung..." belum lagi melanjutkan kalimatnya namun tangan
Nungkai telah menyentuh pundak Beng, tanda agar menahan dulu
pertanyaan, pun yang lain sudah faham.
Udara dingin terbawa angin masuk kedalam ruang, hanya sunyi dan tak
terjadi apapun.
"Seharusnya tamu mengucapkan salam sebelum masuk ruang" suara Nungkai
memecah menimbulkan sedikit gema.
Belum lagi selesai tanya dalam hati namun suara parau setengah tawa
telah tepat berada disebelah kiri Dimah hingga mengagetkannya lebih
awal.

"Masalah, ya... Masalah, kami yang orang Tanah Dalam tidak sebersitpun
menganggap pergeseran itu sebagai masalah. Masalah tak akan pernah ada
kecuali kepada orang yang memang bermasalah, selama seseorang tidak
bermasalah maka masalah itu tak pernah ada. Jangan kau ambil hati
ucapanku saudaraku" ucap Lehar sambil meletakkan ranting kering diatas
meja.
Kehadiran Lehar sangat mengejutkan yang lain, mereka tak tahu kapan
kehadiran Lehar, semua terbungkam seolah kelu lidah. Apalagi Dimah,
bahkan untuk bernafaspun dia rasa tak mampu.

Suasana perselisihan terselubung terasa kental, Nungkai terdiam, dia
sangat tahu diri jika harus berhadapan dengan Lehar yang sangat
kesohor di Tanah Luar. Menurut kabar Lehar telah berusia 190 tahun,
desas-desusnya beliau sudah tidak lagi ada di alam nyata, namun malam
itu mungkin tak akan bisa dilupakan oleh semua yang hadir, mereka baru
kali ini bisa bertatap muka dengan seorang legenda, namun tidak bagi
Nungkai.
Tak seperti nama besarnya, Lehar hanya memiliki tubuh yang kecil,
mungkin tinnginya tak lebih dari 155 cm, tidak terlalu kurus, dengan
warna kulit yang terlalu pucat. Ada sangat jelas bahwa Lehar adalah
orang yang terlalu banyak menghabiskan waktu sendirian.

"Urip..., aku turut berduka atas tewasnya Arya, dia sudah aku
peringatkan waktu itu, tapi dia keras kepala, dia terlalu lemah
dihadapan Wahab pun Yana. Rupanya aku telah salah dengan mengirim Dewi
untuk membantu Arya, Dewi...,bernasib tak jauh beda dengan Arya.
Apa kau juga akan memilih jalan seperti Arya?
Dan kau Narang, putra dari Ladu yang kesohor dipengobatan. Mengapa kau
harus memilih berkumpul disini? seharusnya kau dirumah, damailah dalam
keluarga, disana kau lebih berguna"
Apapun yang diucapkan Lehar terasa sangat menekan dan menimbulkan
firasat yang sangat buruk, hanya Nungkai yang terlihat mulai tenang,
bahkan wajah Nungkai telah berubah licik.

"Nungkai, keputusan tersulit bukanlah menghadapi mati, namun bagaimana
kita sadar bahwa untuk hiduppun kita tidak berhak. Tak perlu kau
repot, aku tidak akan lama, simpan mantramu, aku bukan orang yang
bermasalah, tentu aku tak memiliki masalah yang bisa aku tinggalkan
disini. Cukup kau tahu itu" Lehar menggakhiri kalimat dengan senyum
yang ramah tapi membersit arti yang lain.

Mengambil Gambar

Aku sempatkan mengambil gambar sederhana  pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...