"Mengalahlah, lepaskan semua mimpi. Jika seseorang merasa dirinya tak
pernah bisa mapan maka sampai kapanpun mapan itu tak akan pernah ada.
Konflik ada sejak awal, sebelum manusia disebut sebagai manusia,
sebelum manusia bisa menyebut dirinya sendiri sebagai AKU, sebelum
tuhan ada dalam pemahaman, sebelum konflik difahami sebagai konflik,
konfliklah yang membangkitkan kehidupan cerdas jutaan tahun yang lalu
atau bahkan milyaran tahun yang lalu.
Memang bagi sebagian orang tak akan mempercayai sesuatu sebelum
sesuatu itu memiliki bukti yang mendasari. Sebagian dari mereka justru
mengatakan tuhan ada setelah manusia ada, bukan sebelum manusia ada.
Ah..., ilmuwan yang terlalu pintar, mereka tidak boleh yakin sebelum
bukti. Perasaan hanya akan membentuk keyakinan. Dimusnahkan demi
profesional" ujar tetua.
Angga tak lagi yakin jika tetua hanya orang pedalaman yang memegang
kearifan lokal.
Teringat Angga pada kekasihnya yang dulu pernah mengajukan pertanyaan
apakah cinta seperti agama? Pertanyaan yang tak memerlukan jawaban.
Hati dan perasaan masing-masing yang tahu dan akan musnah ketika
logika cerdas menterjemahkan.
Angga hanya tahu bahwa kekasihnya adalah perempuan yang melebihi
harapan. Setidaknya itu logika yang Angga miliki.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengambil Gambar
Aku sempatkan mengambil gambar sederhana pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...
-
Tubuh Dewi masih terlihat sangat letih, letih tubuh juga perasaan. Dewi masih enggan untuk menemui Arya. Selalu timbul perasaan malu jika t...
-
Waktu dan ruang selalu setia memberi kesempatan kepada alam dan seisinya untuk larut dalam pencariannya masing-masing, mempersilahkan hidup ...
-
Angga mendengar apa yang tetua ucap tapi ucapan tetua sama sekali tak bisa dipahami. Pun tetua sangat mengerti itu, maka senyum tetua cukup...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar