"Bagaimana bisa kau lakukan itu padanya, aku mulai curiga,
jangan-jangan pikiranmu terganggu" Dimah mulai kesal.
"Ada yang tidak kau ketahui tentang takdir yang terkait" jawab Urip.
"Memang kau tahu?"
"Tidak semua rahasia bisa diketahui, pun andai kau ketahui sebaiknya
rahasia itu biarkan pada tempatnya.
Ada baiknya dari sebagaian yang dirahasiakan itu tetap menjadi
rahasia" sambung Urip.
"Darimana kau belajar omong kosong itu?" sanggah Dimah, menolak
penyampaian Urip yang tak beralasan.
"Percuma mengisi cangkir yang sudah penuh" jawab Urip berusaha
menyudahi perdebatan.
"Selalu itu jawabannya" ujar Dimah dengan makin kencang urat di leher.
"Seharusnya kau menyudahi semuanya jika segalanya sudah tidak mungkin,
bukannya makin kau sulut.
Bukankah semua makin jelas, jelas sia-sia kau bangun cinta bersamanya,
tapi kau menuruti hati yang dibolak-balikkan. Kau dikuasai perasaan
hingga gelap jalan. Sadarlah.
Dulu, Ladu ayah dari Narang pernah mengatakan padaku jika didalam
hatilah sebenarnya peperangan dimenangkan oleh seorang raja. Waktu itu
beliau mengatakan bahwa mengendalikan hati menjadi utama bukan justru
dikendalikan hati.
Tanyakan pada dirimu sendiri, kau dikuasai hati apa kau menguasai
hati" ujar Dimah.
6.22.2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengambil Gambar
Aku sempatkan mengambil gambar sederhana pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...
-
Tubuh Dewi masih terlihat sangat letih, letih tubuh juga perasaan. Dewi masih enggan untuk menemui Arya. Selalu timbul perasaan malu jika t...
-
Waktu dan ruang selalu setia memberi kesempatan kepada alam dan seisinya untuk larut dalam pencariannya masing-masing, mempersilahkan hidup ...
-
Angga mendengar apa yang tetua ucap tapi ucapan tetua sama sekali tak bisa dipahami. Pun tetua sangat mengerti itu, maka senyum tetua cukup...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar