Laki-laki selalu tak pernah mau kalah, apa yang diceritakan tentang
bahagia menurut Arya justru di timpali kalimat yang tak jauh berbeda
oleh Narang.
Deskripsi yang hanya berpihak pada pembelaan diri sendiri, asumsi
bebas, bersifat meminta untuk dibenarkan. Selalu itu yang laki-laki
lakukan. Kalimat yang justru menyakitkan hati perempuan.
Pertanyaan bagaimana agar bahagia seharusnya bukanlah kalimat yang
menjadi jawaban, tapi cukup kehadiran dan bunga di tangan atau bahkan
batu sekalipun tak masalah, asal ada kehadiran dengan senyum, sedikit
sentuhan, sedia mendengarkan, bukan justru mendebat yang berujung pada
perempuan akan salah, kalah.
Seharusnya lebih menunjukkan bahwa sang pria menghendaki sang
perempuan, dan sedia menjadi sandaran ketika ada gelap dan sakitnya
perasaan perempuan.
5.17.2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengambil Gambar
Aku sempatkan mengambil gambar sederhana pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...
-
Tubuh Dewi masih terlihat sangat letih, letih tubuh juga perasaan. Dewi masih enggan untuk menemui Arya. Selalu timbul perasaan malu jika t...
-
Waktu dan ruang selalu setia memberi kesempatan kepada alam dan seisinya untuk larut dalam pencariannya masing-masing, mempersilahkan hidup ...
-
Angga mendengar apa yang tetua ucap tapi ucapan tetua sama sekali tak bisa dipahami. Pun tetua sangat mengerti itu, maka senyum tetua cukup...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar