5.27.2018

Senja

"Setara dengan apa yang kau rasa ketidak nyamanan itu, ketika kau tengok aku maka itu pula yang berbisik di degup jantungku.

Kala senja telah menjauh dan mendekatkan seluruh penat pada pada sang malam aku hanya bisa merasa bodoh. Pun iblis melepas senyum puas atas kemenangannya.
Apa yang telah pernah kulakukan kecuali membawa pada kesesatan. 
Aku jijik melihat aku yang selalu berdalih sedang nyata kau tahu aku hanya menyeret orang lain untuk dosa demi dosa"

Raut Urip tampak lelah ketika apa yang terlintas dari masa lalunya hanya bisa terbaca sebagai ketidak baikkan. Tenggelamnya matahari bukanlah hal yang seperti orang lain saksikan sebagai seharusnya keindahan alam. Bagi Urip ketika matahari tenggelam di ujung cakrawala yang jauh membentang itu justru presentasi semua keburukan yang ia sembunyikan di ruang ingatannya yang gelap.

5.05.2018

Menjelang Siang

Matahari telah cukup dari menghangatkan sedang mataku terasa pedih setelah melalui malam tanpa tidur. Aku masih sesekali mengingat ketika semua belum seperti yang sekarang. Pun takutku masih sama andai aku diberi kesempatan. 
Tentu aku masih bisa merasa apa yang kau rasa. Ketika kau terlupa hingga lepas tertawa atau ketika sesekali mengingat kebersamaan yang mungkin kurang berarti tapi masih saja ada di ingatan.
Sejauh apa kau rasa dan rasa itu pula yang masih berbisik di ketika aku mengingatmu

5.04.2018

Mewar merah

Mendung dilangit tapi aku rasa masih cukup cahaya untuk mendivinisi warna merahmu

12.03.2017

Haruskah

Anggrek yang aku bidik mengunakan canon tua 1100d dengan lensa 250 mm, speed 500, iso 200 dan f 5,6 sedang cuaca bagus dengan matahari masih seperempat condong.
Anggrek endemik Kal-Teng yang lebih banyak di wilayah Katingan dengan tanah berpasir granit.
Terlalu indah dan aku tak tega untuk memetik apalagi untuk mencabut tanamannya. 
Barangkali aku tak pintar. Seharusnya aku cabut batangnya dan aku bawa pulang untuk bisa aku tanam di rumah hingga dengan mudah memandang setiap keindahannya ketika bunga itu mekar.

7.01.2017

Menuju Ladang

"Isi kepalamu sendiri yang meramu, bukan lawan bicaramu yang bikin masalah. Konstruksi kepalamu sendiri yang menjadikan sesuatu menjadi ringan atau berat, suka atau tidak, benci apa cinta semua tergantung kau.
Konsep yang kau ajukan tak lebih dari olah otak cerdas yang mengajukan permohonam untuk bisa dipahami apa yang ada di kepalamu.
Kau buang-buang waktu saja!" 
"Ah..., kenapa kau jadi sensStif"
Urip seharusnya tahu Kojin yang kalah judi tadi malam.
"Salma gimana" tanya Kojin melemahi pembicaraan.
"Masih malas di rumah mungkin"
"Kok mungkin, bukankah tadi malam dia bersamamu.
Kau bertengkar?"
"Sudahlah, ayo lekas ke ladang kita sudah kesiangan ni!"
"Sudah siang trus mau diapakan?
Rip, kau dulu mengajari aku tentang hidup yang memerlukan konflik untuk menjadi  bahan bakar pendorong dari tujuan seseorang, untuk sebuah pencapaian.
Kenapa kau sekarang cenderung melemah?"
Urip hanya diam, ia  sadar tak bisa sejalan dengan apa yang ia pernah ucapkan.
Tak mudah ketika terbentur.

"Dia yang benar-benar telah menjadi bagian dari hidup, bagaimana mungkin aku melupa.. kan....nya"  ledek Kojin dengan suara parau dibuat-buat.

Mengambil Gambar

Aku sempatkan mengambil gambar sederhana  pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...