Esok sudah pasti yang tidak bisa aku pastikan, karena aku tidak bisa
membaca prilaku sosial pun alam tempat aku berpijak, aku sudah tidak
mengingat apa yang aku telah pernah aku lakukan, aku tidak menahu
watak sikap mental dari orang tuaku yang mempengaruhi kwalitas sperma
cikal-bakal adanya aku.
Dan ketika aku melakukan ritual selayaknya jaman megalitik, melakukan
pemujaan kepada arwah leluhur, maka itu tak lebih hanya menyandarkan
konflik dalam diriku sendiri demi membuka kemungkinan yang dianggap
kebanyakan orang tidak mungkin.
Aku sudah tidak percaya dengan kecerdasan logika. Kecerdasan seolah
hanya menumbuhkan dusta belaka.
Aku sangat sadar ketika telah kehilangan banyak sumber daya kognitif,
terhabis oleh kalimat dusta. Barangkali kau juga tak akan jauh beda,
ketika cinta benar-benar ada di hati dan perasaan.
Ah... sudahlah, kau memang ada, untuk apa keluh.
2.19.2014
2.18.2014
?
Meninggalkan Angga, Pram, Salma juga tetua didalam hutan.
Kopi masih hangat, setelah hujan mereda dingin sudah jamak menguasi.
Aku memilih duduk di teras, tak ingin memikirkan apapun. Tak lama, apa
yang aku harapkan dari awal telah berubah, seluler menggoda, mengajak
membuka gmail kemudian mengetik susunan kalimat.
Untuk apa?
Kamu?
Jalan hidup semakin mengantarku pada penuaan, namun masih saja
menyisakan bodoh, seolah lebih menegaskan bahwa aku yang tak pernah
mau belajar dari yang telah terjadi. Sama sekali tak bisa menjadikan
lebih nyata dari apa yang sudah susah-susah aku pahami tentang
kehidupan. Aku tidak pernah mau memetik pelajaran. Hanya berusaha
mencari sebab dan akibat dari kejadian hidup.
Tahun demi tahun sudah terlalui, juga semua kenyataan jelas terpampang
seharusnya sudah cukup untuk aku juga kau memutuskan yang terbaik.
Kenyataannya tidak, aku malah takut kehilanganmu. Egois.
Alih-alih perbaikan, yang ada malah menyusun pembenar, meminta
diwajarkan, dan jika sudah terpepet maka aku akan mengatakan bahwa tak
bisa mendustakan hati dan perasaanku.
Aku suka kau, tak pernah peduli jika itu semua jauh dari kemungkinan.
Apa akibatnya.
Sedang esok menanti, lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang? aku tak
bisa menjawab. Aku hanya tahu masih sulit kehilanganmu.
Esok biar esok.
Entah bagaimana denganmu
Kopi masih hangat, setelah hujan mereda dingin sudah jamak menguasi.
Aku memilih duduk di teras, tak ingin memikirkan apapun. Tak lama, apa
yang aku harapkan dari awal telah berubah, seluler menggoda, mengajak
membuka gmail kemudian mengetik susunan kalimat.
Untuk apa?
Kamu?
Jalan hidup semakin mengantarku pada penuaan, namun masih saja
menyisakan bodoh, seolah lebih menegaskan bahwa aku yang tak pernah
mau belajar dari yang telah terjadi. Sama sekali tak bisa menjadikan
lebih nyata dari apa yang sudah susah-susah aku pahami tentang
kehidupan. Aku tidak pernah mau memetik pelajaran. Hanya berusaha
mencari sebab dan akibat dari kejadian hidup.
Tahun demi tahun sudah terlalui, juga semua kenyataan jelas terpampang
seharusnya sudah cukup untuk aku juga kau memutuskan yang terbaik.
Kenyataannya tidak, aku malah takut kehilanganmu. Egois.
Alih-alih perbaikan, yang ada malah menyusun pembenar, meminta
diwajarkan, dan jika sudah terpepet maka aku akan mengatakan bahwa tak
bisa mendustakan hati dan perasaanku.
Aku suka kau, tak pernah peduli jika itu semua jauh dari kemungkinan.
Apa akibatnya.
Sedang esok menanti, lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang? aku tak
bisa menjawab. Aku hanya tahu masih sulit kehilanganmu.
Esok biar esok.
Entah bagaimana denganmu
2.15.2014
Percaya
Ada ketetapan hati yang membuat keras kepala, bukanlah dari apa yang
diyakini, sama sekali bukan, bukan seperti agama yang berpegang pada
keyakinan. Bagi Angga Nirmala adalah sebuah kepercayaan, Angga sangat
percaya dan tak memerlukan keyakinan untuk mencinta.
Walau kadang dia berfikir jika cinta yang terbentuk lebih mewakili
konflik, wujud dari mimpinya yang sama sekali janggal namun
benar-benar ada, sedang menentukan bentuk dan rumusnya sendiri.
Cinta telah benar-benar memutus logika. Kecerdasan berlaku hanya
sebagai instrumen yang tidak harus, namun terasa hampa bila tidak
disertakan diantaranya.
Tidak mudah, tapi bukankah keduanya telah selalu dengan sengaja
memilih hal yang tak pernah mudah.
Lalu ketika setiap kecupan di bibir lembut hanya menyisakan sesak maka
keduanya tak akan pernah berani mengeluh.
diyakini, sama sekali bukan, bukan seperti agama yang berpegang pada
keyakinan. Bagi Angga Nirmala adalah sebuah kepercayaan, Angga sangat
percaya dan tak memerlukan keyakinan untuk mencinta.
Walau kadang dia berfikir jika cinta yang terbentuk lebih mewakili
konflik, wujud dari mimpinya yang sama sekali janggal namun
benar-benar ada, sedang menentukan bentuk dan rumusnya sendiri.
Cinta telah benar-benar memutus logika. Kecerdasan berlaku hanya
sebagai instrumen yang tidak harus, namun terasa hampa bila tidak
disertakan diantaranya.
Tidak mudah, tapi bukankah keduanya telah selalu dengan sengaja
memilih hal yang tak pernah mudah.
Lalu ketika setiap kecupan di bibir lembut hanya menyisakan sesak maka
keduanya tak akan pernah berani mengeluh.
2.14.2014
Angga
"kau tak belajar tahu diri"
"Sudah terlambat dan aku suka membiarkan semua, aku suka dia, aku tahu
jika semua makin jauh dari rasional. Setiap usahaku melupa malah lebih
menyatakan bahwa aku tak bisa melupa.
Aku tak bisa melawan hatiku. Aku hanya tahu dia selalu ada.
Biarkan aku bergabung dengan iblis jika itu harus menjadi pilihan"
ujar Angga makin gelap mata.
Angga tak ingin berpaling. Nirmala telah ada disepruh hidupnya.
Sebagian nafas yang dimiliki sangat jelas hanya demi Nirmala.
"Kasih maafkan aku, telah mencintaimu" Angga menarik nafas, membiarkan
bayangan senyum Nirmala menguasi darah.
"Sudah terlambat dan aku suka membiarkan semua, aku suka dia, aku tahu
jika semua makin jauh dari rasional. Setiap usahaku melupa malah lebih
menyatakan bahwa aku tak bisa melupa.
Aku tak bisa melawan hatiku. Aku hanya tahu dia selalu ada.
Biarkan aku bergabung dengan iblis jika itu harus menjadi pilihan"
ujar Angga makin gelap mata.
Angga tak ingin berpaling. Nirmala telah ada disepruh hidupnya.
Sebagian nafas yang dimiliki sangat jelas hanya demi Nirmala.
"Kasih maafkan aku, telah mencintaimu" Angga menarik nafas, membiarkan
bayangan senyum Nirmala menguasi darah.
2.13.2014
Iblis Bertahta
Nirmala sadar apa yang sedang dilakukan tapi dia tidak tahu apa yang
sedang terjadi pada dirinya. Akumulasi dari semua yang mengendap dalam
kesadaran darah dan sumsum menyata, memberontak dari akal cerdas.
Nirmala hanya merasa ada kebenaran tanpa logika.
Sedang Angga hanya tahu bahwa Nirmala adalah perempuan yang begitu
mandiri, perempuan yang memiliki beribu spesifikasi dari apa yang
diinginkan laki-laki. Angga sangat tahu jika Nirmala tak sekalipun
boleh disentuh olehnya tapi perasaan kagum lebih menggoda, mengajak
kesadarannya untuk menggapai.
Angga tak kuasa menghentikan kekaguman, hingga dari mulutnya terus
menerus mengalir kalimat puja.
Iblis benar-benar sempurna mengambil peran.
Dahulu Ibrahim as pernah mendapat perintah dari Tuhan untuk
menyembelih Ismail as, anak yang sangat dicintai.
Sedikit gambaran yang menjelaskan betapa cinta adalah bentuk
persekutuan dengan iblis. Manisnya cinta yang terbentuk justru menjadi
candu yang sengaja iblis tiupkan. Cinta merupakan esensi hati dan
orang-orang yang memahami mengatakan jika ibis berada disetengah hati
manusia dan setengahnya lagi ada di qomer.
sedang terjadi pada dirinya. Akumulasi dari semua yang mengendap dalam
kesadaran darah dan sumsum menyata, memberontak dari akal cerdas.
Nirmala hanya merasa ada kebenaran tanpa logika.
Sedang Angga hanya tahu bahwa Nirmala adalah perempuan yang begitu
mandiri, perempuan yang memiliki beribu spesifikasi dari apa yang
diinginkan laki-laki. Angga sangat tahu jika Nirmala tak sekalipun
boleh disentuh olehnya tapi perasaan kagum lebih menggoda, mengajak
kesadarannya untuk menggapai.
Angga tak kuasa menghentikan kekaguman, hingga dari mulutnya terus
menerus mengalir kalimat puja.
Iblis benar-benar sempurna mengambil peran.
Dahulu Ibrahim as pernah mendapat perintah dari Tuhan untuk
menyembelih Ismail as, anak yang sangat dicintai.
Sedikit gambaran yang menjelaskan betapa cinta adalah bentuk
persekutuan dengan iblis. Manisnya cinta yang terbentuk justru menjadi
candu yang sengaja iblis tiupkan. Cinta merupakan esensi hati dan
orang-orang yang memahami mengatakan jika ibis berada disetengah hati
manusia dan setengahnya lagi ada di qomer.
Nirmala
"Manusia lebih memiliki kemampuan adaptasi dari makluk lain. Manusia
bisa hidup di padang pasir, lautan atau daerah yang paling dingin
sekalipun. Manusia bisa menjadi apapun yang manusia itu mau.
Di awal menghirup udara manusia hanya kosong, fitrah. Setelah eksis
maka manusia bisa membentuk esensinya sendiri. Manusia bisa dibentuk
menjadi kristiani, majusi atau muslim. Manusia bisa membentuk dirinya
sendiri sebagai maling, pemimpin, pendakwah atau apa saja yang mereka
mau untuk adaptasi mempertahankan eksistensinya.
Konsep dasar kebebasan manusia.
Mirna, aku sama seperti kau. Kau memiliki optimisme yang hanya kau
sendiri ketahui, pun aku. Dan kita merdeka atas nafas kita
masing-masing, semua orang juga sepakat akan hal itu.
Ketika kenyataan menuntunku pada kondisi terburuk dari kehidupan yang
telah aku lalui aku sama sekali tak kuasa menolak, walau aku sadar,
aku masih waras.
Cinta telah menancapkan jarum berkarat di hatiku, perasaanku seperti
dihimpit batu besar hingga terasa susah untuk bernafas.
Angga bodoh tapi dia bisa menyakiti aku dengan sempurna, aku hampir
tak bisa bergerak aku lemah dibuatnya.
Aku sangat tahu jika Angga tidak bangga dengan itu, karena dia juga
terbelenggu, hatinya terpenjara hingga dia juga hampir tak mampu lagi
bernafas.
Angga bodoh tapi dia memiliki kesetiaan, kesetiaan yang tidak dimiliki
laki-laki cerdas yang ada disekitarku.
Angga bodoh tapi dia sedia menahan sakit demi aku.
Aku sadar jika tidak akan mendapat apapun dari Angga kecuali berbagi
rasa sakit, rasa sakit yang tidak bisa aku beli di swalayan.
Kau benar Jika Angga merupakan presentasi dari apa yang telah hilang
dariku. Benar, aku tidak mencintai Angga, tapi aku mendapat apa yang
aku rindukan, sesuatu yang orang lain tidak akan mengerti.
Inilah esensiku Mir"
"Ih.. Keluar taringnya, Nirmala yang cantik ternyata bisa lebih galak
dari Salma ya!" tawa Mirna setengah tertahan, jelas itu ledek. Sedikit
salju yang turun diluar membawa dingin namun sama sekali tidak bisa
memberikan warna indahnya kecuali terasa tetap menyudutkan Nirmala,
terasa mencibir atas pembelaan diri Nirmala, pembenaran yang telah
disusun dan telah keluar dari bibirnya yang lembut.
bisa hidup di padang pasir, lautan atau daerah yang paling dingin
sekalipun. Manusia bisa menjadi apapun yang manusia itu mau.
Di awal menghirup udara manusia hanya kosong, fitrah. Setelah eksis
maka manusia bisa membentuk esensinya sendiri. Manusia bisa dibentuk
menjadi kristiani, majusi atau muslim. Manusia bisa membentuk dirinya
sendiri sebagai maling, pemimpin, pendakwah atau apa saja yang mereka
mau untuk adaptasi mempertahankan eksistensinya.
Konsep dasar kebebasan manusia.
Mirna, aku sama seperti kau. Kau memiliki optimisme yang hanya kau
sendiri ketahui, pun aku. Dan kita merdeka atas nafas kita
masing-masing, semua orang juga sepakat akan hal itu.
Ketika kenyataan menuntunku pada kondisi terburuk dari kehidupan yang
telah aku lalui aku sama sekali tak kuasa menolak, walau aku sadar,
aku masih waras.
Cinta telah menancapkan jarum berkarat di hatiku, perasaanku seperti
dihimpit batu besar hingga terasa susah untuk bernafas.
Angga bodoh tapi dia bisa menyakiti aku dengan sempurna, aku hampir
tak bisa bergerak aku lemah dibuatnya.
Aku sangat tahu jika Angga tidak bangga dengan itu, karena dia juga
terbelenggu, hatinya terpenjara hingga dia juga hampir tak mampu lagi
bernafas.
Angga bodoh tapi dia memiliki kesetiaan, kesetiaan yang tidak dimiliki
laki-laki cerdas yang ada disekitarku.
Angga bodoh tapi dia sedia menahan sakit demi aku.
Aku sadar jika tidak akan mendapat apapun dari Angga kecuali berbagi
rasa sakit, rasa sakit yang tidak bisa aku beli di swalayan.
Kau benar Jika Angga merupakan presentasi dari apa yang telah hilang
dariku. Benar, aku tidak mencintai Angga, tapi aku mendapat apa yang
aku rindukan, sesuatu yang orang lain tidak akan mengerti.
Inilah esensiku Mir"
"Ih.. Keluar taringnya, Nirmala yang cantik ternyata bisa lebih galak
dari Salma ya!" tawa Mirna setengah tertahan, jelas itu ledek. Sedikit
salju yang turun diluar membawa dingin namun sama sekali tidak bisa
memberikan warna indahnya kecuali terasa tetap menyudutkan Nirmala,
terasa mencibir atas pembelaan diri Nirmala, pembenaran yang telah
disusun dan telah keluar dari bibirnya yang lembut.
2.11.2014
Mirna
"Kau bukan menyukainya tapi kau merindukan dirimu sendiri ketika masih
belia, kau merindu orang-orang disekitarmu waktu dulu atau mungkin kau
merindu kehidupan di negerimu sendiri. Bukan Angga.
Angga hanya presentasi dari apa yang telah hilang dari dirimu" ujar
Mirna dengan keras.
Mirna sudah tidak bisa lagi mendengar sahabatnya makin terpuruk
gara-gara laki-laki yang tak pernah jelas.
Nirmala mengerinyit dahi, terkejut mendengar nada tinggi Mirna.
Nirmala tak bisa membaca penyebab emosi Mirna yang tiba-tiba berubah.
"Nah.., kok jadi tinggi nadanya"
"Bukan begitu Mala, cobalah berpikir!"
belia, kau merindu orang-orang disekitarmu waktu dulu atau mungkin kau
merindu kehidupan di negerimu sendiri. Bukan Angga.
Angga hanya presentasi dari apa yang telah hilang dari dirimu" ujar
Mirna dengan keras.
Mirna sudah tidak bisa lagi mendengar sahabatnya makin terpuruk
gara-gara laki-laki yang tak pernah jelas.
Nirmala mengerinyit dahi, terkejut mendengar nada tinggi Mirna.
Nirmala tak bisa membaca penyebab emosi Mirna yang tiba-tiba berubah.
"Nah.., kok jadi tinggi nadanya"
"Bukan begitu Mala, cobalah berpikir!"
Langganan:
Postingan (Atom)
Mengambil Gambar
Aku sempatkan mengambil gambar sederhana pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...
-
Tubuh Dewi masih terlihat sangat letih, letih tubuh juga perasaan. Dewi masih enggan untuk menemui Arya. Selalu timbul perasaan malu jika t...
-
"Sakiti aku dengan tanganmu. Hanya itu yang Kemala mau, tak lebih. Mungkin Kemala tak pernah mencintai Arya tapi dengan melihat A...
-
Waktu dan ruang selalu setia memberi kesempatan kepada alam dan seisinya untuk larut dalam pencariannya masing-masing, mempersilahkan hidup ...