4.03.2020

Tak Sama

Lehar membuang puntung rokok lalu menginjak untuk memastikan bara rokok benar-benar mati.
"Aku telah pernah meninggalkannya agar dia bisa dengan yang lain. Setiap kali aku merindu aku hanya mengintip dari jauh untuk memastikan dia tetap baik-baik sambil berharap dia bisa menemukan yang lain.
Waktu berlalu, setiap kali aku rindu  maka aku selalu menelan lagi rinduku padanya. Selalu membayang saat dia tersenyum atau marah padaku dan kini yang ada jelas tidak berjalan dengan baik" ujar Urip, entah pada siapa dia berkeluh.
"Benar kata Salma. Untuk apa kau kembali. Bukankah kau tidak mungkin bersamanya. Lalu untuk apa?
Setelah sekian lama kau menghilang apa kau berharap semua masih sama seperti yang dulu.
Aku rasa tidak akan" timpal Lehar

"Ya benar. Tidak akan sama dan aku tahu.
Tapi kenapa tidak kau biarkan aku sekedar ingin mendengar dia marah atau menamparku? Dan itu rasa yang masih sama"

4.02.2020

Sesal Mereka

Bukan hanya Dewi, sudah pasti yang lain juga muak, maka Urip sudah tahu itu.
Urip ada sudah salah ketika dia menghilang juga menyisakan tanya yang berujung pada salah. 

"Aku tidak tahu kembali kesini untuk apa. Yang aku tahu setiap di diamku selalu ada yang menyentuh pudakku dan terdengar sayup tanya" ujar Urip.
"Lalu untuk apa kau lalukan sesuatu jika kau sendiri tidak tahu apa yang kau lakukan. Apa setiap tanya harus ada jawab. Tidakkah kau sadar jika tanya itu tak lebih dari benci yang telah dia lontar padamu. Tidakkan kau sadar ketika dari jauh dia sentuh pundakmu hanya untuk melempas serapah? Tidakkah kau sadar?
Aku muak! Kau tak memiliki perasaan" serapah Salma berakhir tampar di pipi kiri Urip.
Urip tak bergeming dan sesaat kemudian membuang pandang sejauh mungkin untuk mengumpulkan dosa lalu menelan bersama liur dan memastikan satu persatu kesalahan itu memang ada padanya.
"Pergi!!"
"Aku muak!"
Salma benar-benar membeci Urip.

Setelah sesaat hening benci Salma perlahan melemah tapi tidak Dengan Dewi yang sedari tadi hanya diam. 
Air mata Dewi jatuh, kini berdiri lagi dihadapannya seorang penecut yang pernah ia temani. Dewi telah salah memilih.
"Aku dulu sedia menemanimu untuk bisa menyatukanmu dengannya. Aku berfikir kau bisa bahagia bersamanya di kemudian hari. Aku salah.
Bahkan aku sempat terpesona padamu orang yang seharusnya aku dampingi.
Kau bukan seperti yang aku rasakan waktu itu. Ada yang menyesak di dada ketika aku merasa telah pernah bersamamu Rip" lirih Dewi berucap.

4.01.2020

Untuk Apa

"Lalu untuk apa kau kembali? Aku hanya melihatmu yang tidak benar- benar ingin menjadikan sesuatu lebih baik." ujar Lehar.
Urip hanya bisu tak bisa menjawab.
"Kau sadar jika kau kembali maka ada yang benar-benar tidak baik akan bangkit? Kau sadar?" 
Lehar mulai tidak suka dengan keberadaan Urip yang memang sudah seharusnya tidak kembali.

Seharusnya Urip sudah cukup belajar untuk membaca diri sediri. Menilai obyektik akan apa yang ia pernah lakukan. 
Sedang orang lain mulai curiga jika Urip akan berulah seperti yang dulu.


3.27.2020

Pandora

Aku terlalu bodoh. Baru sadar ketika semua sudah terlambat. Pandora bukan untuk coba-coba jika tak mau menelan resiko. Pandora menyimpan iblis berwajah menawan penuh tabur aroma syurga yang selalu menuangkan minuman memabukkan.
Pandora bukanlah mainan dan hanya untuk yang ada di jalan yang lurus.

Egoisnya Aku

Daun anggur di depan rumah basah oleh gerimis namun rasa gerah masih lebih ingin mendominasi. Itulah yang ada sebelum aku mengetikkan jari pada seluler. 
 
Rasanya ingatanku tak akan pernah bisa melupa pun apa iya aku mudah membolak- balikkan hatiku sedang sesuatu yang benar- benar telah mengisi hati dengan mudah bisa aku sisihkan begitu saja.
Tentu hatiku hanya satu dan susuatu akan berlaku sistematis berada pada posisi yang seperti seharusnya. Yang ada di kiri tetap di kiri pula yang kanan tak mungkin pindah ke kiri. Yang ada hanya kiri akan tahu yang kanan dan kanan tahu apa yang terasa di kiri. 
Ya sudahlah...aku tak ingin membahas bagian-bagian otak. Hanya sekendar bekalimat "Mau kemana aku sisihkan yang ada di hati, tak ada tempat yang sesuai untuk mendudukkan arsip yang tercatat di hati, aku pindah ke jantung gak bisa, ke lambung juga gak bisa. Sedang aku tak memiliki penghapus untuk menghapus rasaku"

Aku memilih berhenti ketika semua sudah terlambat aku tak memberi kesempatan kepadanya untuk sekedar mengucap selamat jalan. Aku salah itu sudah pasti.
Kini aku mengetik perkata demi kata untuk yang aku sendiri tidak tahu untuk apa. Atau mungkin sekedar melepas senyumnya yang masih saja ada ketika aku menyentuh selular atau mungkin sebaliknya.

Jalan yang sebenarnya aku sudah tahu tidak mungkin untuk bersama tapi entah mengapa waktu itu yang aku tahu hanya harum wangi dari tubuhnya.
Entah mengapa aku hanya bisa nyaman ketika dia mengembangkan senyum, ketika cemberut atau apa saja yang ia lakukan selalu menarik dimataku.

Aku egois. Ketika aku suka dia dan yang kulakukan justru membawanya kedalam hampa bukannya membiarkan dia tetep indah seperti yang seharusnya. 
Seharusnya aku diam.

9.20.2018

Menepi

Aku tidak lupa siang itu. Aku sembunyi di bawah pohon ara ketika terik matahari serasa pintu neraka terbuka dan ingin membakar setiap kehidupan dimuka bumi.
Lalu setelah sore dan matahari mulai menepi sebelum malam mengabil alih peran aku malah rasa tak ingin malepas dan takut kehilangan.

9.18.2018

Bunga

Terkadang ia tidak tahu untuk alasan apa berusaha tampil lebih. Yang ia tahu banyak hal indah telah teringgal di masa lalu tanpa ia bisa bawa untuk hari esok. Aku rasa semua hanya menyisakan tanya yang mengganjal dan tak pernah bisa ia ucap apalagi berbagi dengan sahabat.


Mengambil Gambar

Aku sempatkan mengambil gambar sederhana  pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...