"Selalu memiliki alasan setiap kejadian, tak sekalipun kejadian
berdiri sendiri tanpa adanya komponen yang cukup untuk membentuk
kejadian tersebut.
Pula bagaimana seseorang bisa meniadakan kejadian tanpa menyusun
komponen yang cukup untuk meniadakannya.
Meniadakan kejadian merupakan kejadian yang wajib memiliki komponen
penyangga untuk membentuk peniadaan itu sendiri.
Sekarang aku bertanya, apakah kau sudah merasa menyatukan komponen
yang cukup untuk sampai pada tidak mengingat dia lagi.
Aku ragu jika kau melupa.
Kau katakan ingin membuatnya bahagia. Apa kau yakin dengan tidak
bertemu dengannya lagi bisa membuat dia bahagia? Aku ragu rasanya.
Kau sebenarnya sangat mengetahui jika dia hanya perlu kau ada. Pula
aku rasa dia akan gagap ketika kau tiada"
Urip tertunduk membenarkan apa yang Beng katakan.
"Aku buta tanpa dia tapi petaka ketika aku tetap bersamanya. Aku tak
punya pilihan" jawab Urip.
"Bukan tak punya pilihan, kau tak mengambil pilihan akan lebih tepat
menurutku" cela Beng dengan nada kecewa.
Gerah udara terasa sangat tidak nyaman sedang nyamuk terus mengerubut
tak mempan oleh asap obat nyamuk bakar. Urip mengenggam perasaan tak
karuan sambil sesekali membuang pandang jauh-jauh mengingat apa yang
telah ia lakukan sedang ingatannya tak pernah lepas dari perempuan
yang telah pernah membengkokkan jalan hidupnya.
3.25.2017
3.18.2017
2.17.2017
Luka
"Coba angkat dagumu, aku pernah lebih buruk dari apa yang kau alami. Aku tahu sulit bukan sekedar ucap, tentu sangat buruk ketika semua jalan telah buntu dan menyisakan satu-satunya harapan yang berarti hanya menyerah.
Aku tahu ucapanku tak membantu"
Matahari panas menyengat sedang ilalang menari. Tak jauh tampak burung pipit terbang melawan arah tiup angin yang menerbangkan kerinduan tentang negeri elok tempat pulang, kenang yang hanya menenggelamkan perasaan pada setiap dosa dan luka.
Aku tahu ucapanku tak membantu"
Matahari panas menyengat sedang ilalang menari. Tak jauh tampak burung pipit terbang melawan arah tiup angin yang menerbangkan kerinduan tentang negeri elok tempat pulang, kenang yang hanya menenggelamkan perasaan pada setiap dosa dan luka.
2.03.2017
Pri
Aku membuka dasbort dan hanya menemukan serenteng kemasan kopi instan dan dua bungkus mi goreng instan. Yang penting ada dan bisa aku berikan pada Pri.
Orang sekitar mengatakan Pri gila, mungkin karena penampilannya yang tampak tak layak. Pakaian lusuh pula celana yang sudah rusak dibagian reselting ditambah ikat pinggang tali rafia alakadarnya belum lagi topi dengan bendera kecil merah putih yang dijahit asal.
Pri tinggal di gubuk kecil di tengah tanah kosong miliknya dengan ukuran sekitar 4 hektar. Gubuk di dirikan diatas bekas pondasi rumah miliknya yang telah pernah di bakar oleh orang.
Pri bukanlah gila, setiap kali aku dengar dia berbicara apa yang diucap memiliki susunan yang terarah, tak sekalipun lepas dari rel. Memiliki alur, runut yang sesuai.
"Ada orang yang melapis sertifikat tanahku dan mau memperkarakan. Kau tahu apalah artinya aku. Barangkali mereka akan mudah untuk mengusir aku karena mereka punya banyak duit untuk mendapat kemenangan di pengadilan.
Aku dengar tanah ini telah ada yang bersedia membeli dengan harga 25 milyar. Ah..."
Sejenak Pri memandang langit dan kemudian terdiam.
Aku sodorkan rokok barangkali akan bisa membantu sedikit mencairkan rasa sedih Pri.
"Tak perlu aku mendengar dari yang manusia katakan, aku sudah tahu apa yang mereka mau dengan tanah ini.
Ada dua pilihan, aku bunuh mereka atau aku menjauh. Kau tahu taklah mereka menganggapku sedang sekarangpun mereka sudah menyebutku orang gila, bagaimana mungkin aku bisa menang di pengadilan. Mungkin sebelum aku menginjak masuk pengadilan mereka telah menangkapku terlebih dahulu untuk di serahkan pada dinas sosial"
Pri terdiam lagi dan menghisap rokok dalam-dalam.
"Kau menyimpan gejolak yang rumit. Garis di keningmu mencatat urusan hati. Cinta?
Gak perlu kau ceritakan. Aku rasa dia yang disanapun juga tak benar-benar yakin dengan apa yang ia lakukan denganmu, barangkali dia hanya perlu teman untuk meledakkan perasaan. Dia hanya perlu teman yang seimbang untuk gelisah dan ketidak tahuannya tetang hidup. Perjalanan hidup yang seharusnya telah bisa ia nikmati seperti teman-temanya yang lain.
Dia hanya berharap kau ada, sehigga dia tak merasa hampa"
Orang sekitar mengatakan Pri gila, mungkin karena penampilannya yang tampak tak layak. Pakaian lusuh pula celana yang sudah rusak dibagian reselting ditambah ikat pinggang tali rafia alakadarnya belum lagi topi dengan bendera kecil merah putih yang dijahit asal.
Pri tinggal di gubuk kecil di tengah tanah kosong miliknya dengan ukuran sekitar 4 hektar. Gubuk di dirikan diatas bekas pondasi rumah miliknya yang telah pernah di bakar oleh orang.
Pri bukanlah gila, setiap kali aku dengar dia berbicara apa yang diucap memiliki susunan yang terarah, tak sekalipun lepas dari rel. Memiliki alur, runut yang sesuai.
"Ada orang yang melapis sertifikat tanahku dan mau memperkarakan. Kau tahu apalah artinya aku. Barangkali mereka akan mudah untuk mengusir aku karena mereka punya banyak duit untuk mendapat kemenangan di pengadilan.
Aku dengar tanah ini telah ada yang bersedia membeli dengan harga 25 milyar. Ah..."
Sejenak Pri memandang langit dan kemudian terdiam.
Aku sodorkan rokok barangkali akan bisa membantu sedikit mencairkan rasa sedih Pri.
"Tak perlu aku mendengar dari yang manusia katakan, aku sudah tahu apa yang mereka mau dengan tanah ini.
Ada dua pilihan, aku bunuh mereka atau aku menjauh. Kau tahu taklah mereka menganggapku sedang sekarangpun mereka sudah menyebutku orang gila, bagaimana mungkin aku bisa menang di pengadilan. Mungkin sebelum aku menginjak masuk pengadilan mereka telah menangkapku terlebih dahulu untuk di serahkan pada dinas sosial"
Pri terdiam lagi dan menghisap rokok dalam-dalam.
"Kau menyimpan gejolak yang rumit. Garis di keningmu mencatat urusan hati. Cinta?
Gak perlu kau ceritakan. Aku rasa dia yang disanapun juga tak benar-benar yakin dengan apa yang ia lakukan denganmu, barangkali dia hanya perlu teman untuk meledakkan perasaan. Dia hanya perlu teman yang seimbang untuk gelisah dan ketidak tahuannya tetang hidup. Perjalanan hidup yang seharusnya telah bisa ia nikmati seperti teman-temanya yang lain.
Dia hanya berharap kau ada, sehigga dia tak merasa hampa"
1.23.2017
Tak Beralasan
"Rip, Urip..., apa yang kau inginkan, bukankah ia mulai terbiasa untuk tanpa kau, lalu mengapa kau memulainya lagi?"
Urip terlihat tak memiliki alasan dari apa yang telah ia lakukan. Ia menutup mata rapat mungkin ia berharap bisa restart hingga bisa memulai lagi dari awal lalu semua akan lebih baik.
Urip terlihat tak memiliki alasan dari apa yang telah ia lakukan. Ia menutup mata rapat mungkin ia berharap bisa restart hingga bisa memulai lagi dari awal lalu semua akan lebih baik.
1.16.2017
Tak Mengerti
"Jika itu fiksi maka semua akan logis, semua kejadian akan berjalan seperti seharusnya nalar bisa mencerna, bahkan untuk suatu kebetulanpun masih memiliki alasan yang logis jika itu sebuah dongeng, apa kau masih berpikir hidup ini logis?
Ada kompleksitas sitem dalam hidup yang sulit untuk bisa kau baca arahnya dan jika aku menginginkan sesuatu maka aku akan pilih keluar dari sistem, karena aku jelas tidak akan bisa menyentuh sesuatu yang ada dalam sistem itu.
Begini saja, jika aku masuk pada sesuatu dan kemudian aku tak menemukan jalan keluar maka aku akan pilih masuk lebih dalam untuk apapun yang bakal terjadi"
Urip mengalihkan pandang membongkar isi otak untuk menyangkal.
"Aku seperti tersesat tak tahu arah tanpa dia pula aku hanya menuangkan pestisida ketika dia menginginkan seteguk air" ujar Urip dengan setengah menahan nafas.
"Ya, kau masih menggunakan logika, ini hidup..., bukan fiksi. Bagaimana aku menjelaskan agar kau faham"
12.21.2016
Aku
Hapir tak pernah aku temukan cahaya ketika aku berusaha lari dari sisi gelap, malah pekat hitam aku dapat.
Tapi ketika iblis membuka perjanjian lama dan membacakannya untukku malah jalan yang lapang terang-benderang terbentang, justru lembut angin syurga sejuk menerpa. Ah...
Benar, bukankah setengah dari nafasku telah terikat lembut harum aroma tubuhmu.
Bukankah ketika aku diam justru alir darahku makin mematri lebih nyata tentang lebar senyummu.
Ah. Aku bersembunyi, aku takut.
Sangat takut, mengingatmu malah lebih pada membakar sayap lembutmu. Sedang ingatanku hanya tentangmu
Langganan:
Postingan (Atom)
Mengambil Gambar
Aku sempatkan mengambil gambar sederhana pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...
-
Tubuh Dewi masih terlihat sangat letih, letih tubuh juga perasaan. Dewi masih enggan untuk menemui Arya. Selalu timbul perasaan malu jika t...
-
"Sakiti aku dengan tanganmu. Hanya itu yang Kemala mau, tak lebih. Mungkin Kemala tak pernah mencintai Arya tapi dengan melihat A...
-
Waktu dan ruang selalu setia memberi kesempatan kepada alam dan seisinya untuk larut dalam pencariannya masing-masing, mempersilahkan hidup ...