2.06.2016

DI Balkon

Malam telah tinggi tapi gerimis masih belum mau berhenti  di kota Batulicin. Di balkon atas  dari penginapan sederhana tepi kota Urip sengaja membiarkan waktu terus mengalir bersama Andi juga Uji. Walau bukan akhir pekan dan jelas pekerjaan esok hari menunggu ketiganya tampak tak hirau.

" Sebulan yang lalu salah satu dari mahasiswaku mengajukan pertanyaan yang sebenarnya hampir tak pernah aku tahu jawaban secara tepat. Dia menanyakan relefansi dari kebijakan ekonomi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah anjloknya pasar global. Pula dia tanyakan perubahan  pola yang terbentuk dari mekanisme pasar dan dampaknya terhadap ekonomi mikro yang jelas menyentuh langsung kehidupan masyarakat" Ujar Uji

Sambil menahan pedih mata dari asap rokok yang di hisap Andi berusaha mengajak Uji untuk melupa apa yang mengganggu pikiran

"Sudahlah, hampir semua sektor di negeri ini tertekan. Jika berkaitan dengan ekonomi maka para pelaku usaha yang diingat hanya hutang-piutang, tentu itu akan meninggikan tensi. Sudah jelas sekarang serba tak menentu sedang kewajiban tehadap perbankkan sudah tentu harus mereka selesaikan" ujar Uji.

Tawa Urip keras terdengar, tawa yang lebih menunjukkan pada dia  tak mau kalah, tawa yang lebih pada mengajak kedua temannya untuk menjadikan pembicaraan lebih ringan.

Benar setelah itu ketiganya bisa tertawa menertawai apa yang baru mereka bicarakan sendiri, terasa melapang.

 

Sudah hampir jam 3 tapi gerimis masih tak henti.

"Besok ada tamu dari Jakarta dan aku seharus datang ke kantor. Kabarnya  GM jakarta yang akan turun kesini dan kabarnya lagi akan diadakan perombakan menegemen. Tahun kemarin dan sampai saat inipun memang sangat berat, penjualan merosot. Itu terjadi di seluruh distributor di Indonesia. Apalagi Fort yang tak terduga hengkang dari Indonesia, sedang fort termasuk rekan pengguna produk kami yang cukup tinggi permintaanya.

Ya sudahlah, mungkin sejam lagi aku akan pulang ke Banjarmasin" ujar Andi dengan nada rendah menunjukkan sudah dia kelelahan.

"Kita tak akan pernah tahu esok bahkan kaum analis yang kesohorpun kesulitan menentukan variabel yang memungkinkan untuk dianalisa, mereka saat ini hanya bisa membuat prediksi yang masih mengambang. Aku tidak lagi menggunakan kemungkinan. Aku juga gelap, tapi percalalah setiap dari detik putaran waktu akan ada hal baru dan masing-masing dari kita siap apa tidak tetap harus berbentur dengan hal baru.

Masing-masing dari kita memiliki kecerdasan yang kita sendiri hampir tak pernah sadari, kita punya autoproteksi terhadap setiap kemungkinan buruk. Kau , aku pun yang lain sama.

Barangkali aku terlambat terhadap apa yang sekarang aku sadari, aku gagal justru karena akademis yang telah tertanam di otakku terlalu sering mengambil alih keputusan. Aku terlalu banyak pertimbangan yang justru mematikan langkahku, aku tak pernah bisa all aout. Walau aku sadar jika akademis hanya piranti pendukung dan yang seharusnya dominan kemampuan adaptasi tapi apa nyatanya, aku tetap tak bisa seperti yang aku telah pahami.

Aku tahu jika banyak dari pengusaha sukses atau mereka yang berhasil mencapai apa yang diinginkan justru bukanlah orang yang memiliki latar belakang kemampuan akademis. Mereka yang berhasil justru mereka yang memiliki kesederhanaan, justru mereka yang tak memiliki kemampuan presentatif.

Kesadaranku yang terlambat. Sudahlah, esok adalah esok dan jika aku makin tenggelam biar tenggelam sedalam-dalamnya. Setidaknya aku masik memiliki auto proteksi terhadap kemungkinan buruk " Urip mengakhiri pembicaraan bersamaan dengan dia berdiri lalu membuang puntung rokok

2.05.2016

Arya



“... menurut cerita Arya bukan orang yang memiliki lingkungan untuk presentasi kecerdasan, dia hidup bersama orang-orang yang memiliki latar belakang ketertinggalan, pun dia sendiri bukan orang yang cerdas. Bagaimana mungkin dia bisa berubah menjadi memiliki kapasitas hinggga tampak berbudaya dan dengan waktu yang begitu cepat, apa mungkin secepat itu perubahan  pemikiran Arya”
Datu tersenyum tipis mengerti arah pertanyaan yang diajukan Dimah, berbeda dengan Dewi yang justru menampakkan mimik cela, seolah ingin mengatakan tahu apa kau soal Arya.

“Benar, Arya bukan orang yang memiliki kapasitas, sama sekali bukan. Tapi bayangkan jika kamu yang tampak lembut tiba-tiba di kejar anjing hutan yang ganas kira-kira apa tindakanmu, tetap berprilaku lemah lembutkah atau justru sebaliknya. Tak usah dijawab kira-kira kita sudah tahu jawabannya.
Arya sama sekali tidak berubah. Waktu itu dia memiliki kesempatan dekat dengan perempuan yang memiliki kecerdasan lebih, apa mungkin seorang laki-laki mau disebut bodoh dihadapan perempuan yang telah menarik perhatiannya. Aku kira laki-laki manapun akan berusaha membuat dirinya tampak lebih baik dihadapan perempuan yang dia suka supaya dia bisa diterima perempuan itu.
Arya tetap Arya tak sekali-kali berubah menjadi orang lain, hanya saja orang terkejut ketika Arya menggunakan cara komunikasi yang berbeda, pun aku waktu itu juga sempat terkejut. Cara komunikasi yang sebenarnya dia sendiri telah miliki tapi tak pernah sekalipun dia gunakan sebelumnya. Sama seperti kau yang bisa lari sangat cepat  ketika di kejar anjing, sedang yang sebelumnya orang lain ketahui hanya kau yang lemah lembut, orang lain tak pernah sekalipun mengetahui kau mampu berlari sangat cepat atau bahkan kau sendiri tak pernah sadar jika memiliki kemampuan itu. Bukankan sebenarnya manusia normal  tak perlu diajari sekalipun suatu ketika akan menggunakan kemampuannya untuk berlari walau kesehariannya dia selalu berjalan. Lalu ketika kamu berlari apa berarti kau berubah sehingga tidak menjadi kau lagi.
Pun Arya, dia tetap bukan orang yang cerdas tapi dari situ aku memahami  jika pada waktu itu Arya telah bersungguh terhadap perempuan yang bernama Kemala.  Arya telah pernah berdiri di sisi lain selain dari kebodohan yang telah melekat pada dirinya” datu menghentikan cerita dan tampak berusaha mengambil lagi ingatan yang dimiliki. Datu menyalakan rokok untuk lebih menata apa yang di ingat .
"Tak pula jauh beda dengan Urip yang telah meninggalkan kalian bersama dengan keributan soal Tanah Dalam pun Tanah Luar. Urip mengambil keputusan tentu memiliki alasan yang memadai. Kau, aku atau siapapun bisa tampak sangat berubah tapi jika kau menyimak ceritaku tadi sebenarnya tidak sama sekali dari kita bisa berubah. Kita hanya beralih pijak di deretan angka negatif atau sebaliknya di angka positif dan sungguh angka-angka itu adalah kita yang seutuhnya. Sama halnya kiri atau kanan. Kiri ya kiriku, kanan ya kananku, bodoh ya bodohku cerdas ya cerdasku.
Arya, Urip, kau semua dari kita pernah berurusan dengan rasa cinta. Sudah tentu cinta yang memiliki sisi tangis, tawa, sakit, berbunga yang lekat dan benar ada sehingga bisa di sebut cinta"
Ujar datu menyisakan sepi dan kejut ketika tiba-tiba suara serangga malam berhenti, sama sekali tak terdengar dan udara berubah terasa sedikit gerah sedang seharusnya hutan tak pernah henti dari keributan suara serangga juga seharusnya dingin menyelimuti.
Kojin menoleh kearah Dimah tapi alangkah kejut karena justru Dewi telah tepat di depan mata
"Dan kau tau apa yang terjadi dengan Kemala sekarang. Arya meninggalkan ingatan yang membusuk di ruang hati Kemala, menjadi duri dan sangat menggagu di setiap langkah Kemala" bisik Dewi.

2.04.2016

Dewi

Datu Yana menyalakan tiga bilah dupa lidi kemudian menancapkan pada mangkok yang berisi beras. Kopi manis, kopi pahit, kelapa, gula merah, jajanan juga ayam jantan yang sudah dipotong jadi satu dalam nampan besar.
Kojin menunduk dengan menyatukan kedua tangannya di dada, sedang rosario terselip menjuntai diantara tangannya.
"Tuhan Bapa yang ada di surga berkatilah kami" ucap Kojin lirih.
Dimah paham jika Kojin mulai meninggikan rasa was. Sedang sang datu hanya kecut melihat Kojin terburu, sedang masih belum ada yang perlu dihawatirkan.
"Benarkah arwah Arya akan bisa datang" bisik Kojin pada Dimah.
"Entah,  kita tunggu saja"
Dimah juga mulai was tapi rasa penasaran lebih menguasai sehingga dia tampak lebih tenang.
Tanah juga rumput masih basah sisa dari air hujan sejam yang lalu, burung-burung tampak pulang menuju peristirahatan malam, pula matahari  tenggelam bersama langit yang memerah. Dari jauh terdengar kumandang adzan sayup terbawa tiup angin yang menerpa lembut ketiganya.
"Kau ragu" suara setengah berbisik terdengar di telinga kanan, Kojin menoleh ke arah Dimah untuk memastikan apa yang baru didengar, namun Kojin meragu setelah melihat posisi Dimah yang agak jauh, lagipula Dimah sedang sibuk mencari sesuatu dari dalam tas. Kecil kemungkinan suara itu berasal dari Dimah. Makin jauh lagi kemungkinan suara itu datang dari datu yang jelas berada di depan Kojin lagipula datu sibuk menari sambil mulutnya meranyau membaca mantra.
Waktu merambat mengantar remang menuju gelap sebentar lagi malam, udara terasa berubah lebih hangat.
Kejut terulang pada Kojin ketika membuka pejam mata dan mendapati  datu sudah menari bersama perempuan yang terus mengumbar senyum dan sesekali tertawa ringan. Tari keduanya makin cepat dan tak teratur tapi tawa perempuan itu lambat laun terdengar berubah seperti tangis. Datu Yana melambat kemudian berhenti mengakhiri tari sedang mulutnya masih tetap mengucap mantra sedang perempuan itu malah mempercepat tarian dengan makin meninggikan jerit. Aroma dupa makin menyebar, entah mengapa rasanya Kojin seperti terhanyut untuk ikut menari. Dimah segera meraih Kojin. Dimah merasa jika itu bukan sesuatu yang wajar.
"Apa yang kau ragukan, aku tahu apa yang kau rasakan, mintalah kepadaku maka akan aku penuhi apa yang kau mau" ucap perempuan itu.
"Siapa kau?" Dimah mundur tiga langkah menjauh.
"Dewi, aku Dewi. Kau ingin bukti?"
Perempuan itu mendekati Kojin dengan tak sedikitpun ragu membuka gaun bermotif bunga-bunga warna ungu dengan dasar kremnya tepat dihadapan Kojin.
Kulit kuning langsat dengan buah dada yang tak terlalu besar bersih menggoda juga senyum lembut mengghias bibir membuat Kojin lemah. Tapi tidak dengan apa yang Dimah lihat. Punggung perempuan itu penuh luka, seperti luka bakar membentuk rajah. Jelas didominasi huruf arab tapi juga tak sedikit huruf jawa.
"Waktu itu aku diikat dan kemudian dibakar menggunakan mantra. Lebih lagi dengan Arya. Dia dipukuli dan dibakar hidup-hidup oleh orang-orang yang merasa dirinya benar dengan mengatasnamakan agama. Arya tewas pun aku hasilnya seperti apa yang kau lihat di punggungku sekarang, sakitnya masih aku rasakan sekatang"
Sambil menutup lagi tubuhnya perempuan itu kembali mendekati Dimah.
"Arya bukanlah orang yang pintar, dia berubah sedikit lebih cerdas setelah bertemu seorang gadis benama Kemala. Semenjak kebersamaannya dengan Kemala banyak perubahan pada pola pikir Arya. Kemala menuntun Arya pada budaya.
Ya, kemudian mereka melibatkan perasaan dan segalanya menjadi tak mudah. Arya bukanlah orang yang memiliki latar belakang jelas. Asal dari hutan tentu dasar tatanan sosial tak banyak menahan rasa cintanya. Arya hanya tahu rasa cinta namun tidak bagi Kemala. Sangat sulit.
Setinggi apa Arya mencinti Kemala maka setinggi itu pula rasa sakit yang Kemala rasakan" ujar perempuan itu.
Cerita resiko pahitnya cinta dari Kemala yang Dewi ceritakan membuat Dimah diam.

1.27.2016

Maya

"Maya ada tak tersentuh di awang. Awang ada di hayal, di angan. Hayal ada di kemampuan otakmu mengkonstrusi. Sekarang aku bertanya adakah belahan lain dari alam semesta ini. Kalau ada disebut apa semesta yang lain itu, ada dimana belahan itu.
Aku rasa tidak. Kalau dimensi lain mungkin ada dan aku rasa dimensi lain itu satu ruang dengan kita, memiliki waktu yang berlaku paralel dengan kita.
Tak beda dengan dirimu. Kau juga memiliki dimensi berlapis. Kau memiliki mayamu sendiri. Kau selalu memiliki ruang kosong untuk mencipta hayal, ruang yang tak akan pernah bisa penuh karena memang maya yang tak pernah memiliki wujud ruang apalagi batas. Ada tapi tak memiliki hingga.
Berawal dari angan manusia itu sendiri  manusia memulai pembentukan segala yang ia perlukan dikehidupannya.

Maya nyata ada dan benar-benar nyata. Apa kau masih berpikir maya adalah dunia yang berbeda" ujar datu yang diakhiri dengan tersenyum tipis dan terasa lebih pada menyeringai.

1.26.2016

Maya Nyata

Setelah dohor keduanya baru sampai di desa Tumbang Nusa. Diantara pohon tinggi menjulang tampak kediaman datu Yana yang sederhana, rumah kayu tanpa ada cat pewarna dan menggunakan atap daun rumbia, memang kebanyakan bangunan di desa itu sangat sederhana cenderung menggunakan bahan yang ada tersedia di hutan, mereka tak memiliki akses yang memadai untuk mendapat material bangunan rumah yang pabrikan seperti kehidupan perkotaan.
Langit mulai gelap, mungkin sebentar lagi hujan. Datu mempersilahkan kedua tamunya untuk minum kopi sebelum mendingin.
"Dunia maya yang ada di selular pintarmu itu sebenarnya juga nyata bukan benar-benar maya, hanya penyebutannya saja yang maya. Nyata karena dunia maya di kehidupan modern sangat mempengaruhi prilaku psikologis juga memiliki dampak sosial bahkan memiliki dampak pada kemajuan ekonomi juga politik pada dunia nyata. Bukankah kau bisa berbelanja barang yang nyata dari selular pintarmu itu. Bukankah itu nyata. Bukankah dunia usaha tidak bisa mengabaikan periklanan dari dunia maya.
Sama halnya dengan hubungan Arya dengan Dewi. Banyak orang menilai Dewi adalah kehidupan sebelah yang cenderung menyebar sesat. Dewi hanya maya.
Aku tahu sejauh mana hubungan Arya dengan kekasihnya yang ada di Belanda juga bagamana hubungan Arya dengan Dewi.
Arya menjalin hubungan degan perempuan melalui dunia maya tapi apa rasa cinta mereka juga maya. Aku rasa tidak. Aku rasa jika Arya atau perempuan itu mengatakan hubungan mereka sebenarnya tak nyata barangkali Arya atau perempuan itu harus memahami lagi perasaan mereka sendiri.
Jika mereka mengatakan tidak, seharusnya mereka juga menyertakan alasan mengapa diantara keduanya sedia meluangkan waktu untuk kebersamaan. Bukankah jika tidak seharusnya mereka sudah melupa sejak setelah pertemuan pertama mereka. Untuk apa hingga berlarut. Untuk mengenal lebih jauh. Untuk hal apa sehingga harus dikenal lebih jauh.
Maya bukanlah maya yang seperti orang dahulu kala pahami. Dunia maya sekarang ini berarti nyata" ujar datu.
Dimah menyelam dalam perasaannya sendiri. Entah mengapa dia seperti di sindir.

1.21.2016

Ruang Di Hati

Mungkin ada ruang di hati Dimah yang belum  penuh oleh pemuas dan dari ruang hati yang masih kosong itu setengahnya terisi oleh tanyanya sendiri tentang apa-apa yang dia rasa suka tapi tak pernah termiliki dan setengahnya lagi terisi oleh harap yang tak memiliki bidik.
Tapi rasanya disetiap hati manusia tak jauh beda, bukankah ruang hati yang tak pernah penuh itu yang menjadikan hasrat. Apa mungkin manusia tanpa hasrat. Aku rasa tidak.
Hasrat tetap ada dalam diri manusia. Hasrat yang menjadikan perubahan. Hasrat menjadi komponen utama kehidupan.
Ya, disetiap detik dari putaran waktu hasrat selalu ada untuk perubahan baru.
Atau barangkali hati Dimah memang benar kosong atau dia telah kehilangan rasa cinta, kasih dan sayang sehingga tampak jelas ungkap kecewa.  Tapi aku rasa tidak.

Beng tampak mencapi apa yang dia mau tapi sebenarnya tidak. Beng sama seperti yang lain, di hatinya masih ada yang kosong tapi kekosongan itu di isi dengan apa yang bisa ia lakukan dan setengahnya lagi di isi dengan kalimat "ya sudahlah". Kalimat sederhana yang dia pahami sebagai pengakuan atas kebenaran Tuhan.

1.18.2016

Tak Bisa

"Tak mau berpihak sama sekali tak seperti yang orang lain jalani, entah mengapa jalanku terasa sulit sedang orang lain terlihat mudah mengambil pilihan dalam hidup, entah mengapa rasanya hanya aku yang tidak bisa memilih untuk banyak pilihan, seharusnya aku bisa memilih tapi mengapa yang aku ingin raih hanya seperti asap yang tak pernah bisa aku tangkap.
Peduli apa dengan mimpi, aku hanya dalam gerbong kereta yang terus berjalan, lajunya tak pernah bisa aku hentikan dan juga merubah arah. Aku hanya bisa melihat yang aku suka dari setiap yang aku lalui dari balik jendela. Ah, sudahlah"
Dimah tak terlalu bersemangat untuk lebih jauh.

"Dulu semasa prasekolah aku ingin sekali menjadi superman, kemudian ketika sudah sekolah dasar setiap ditanya apa cita-citaku maka aku selalu menjawab ingin menjadi guru.
Itu dulu, sekarang aku bukan anak kecil lagi tentu, aku sudah terlalu tua dan kenyataannya aku tak pernah menjadi guru apalagi superman. Aku tak pernah bisa menjadi apapun aku hanya hanyut tak tentu arah, entah kemana. Aku tetap aku seperti yang ada dihapanmu.
Bahkan jika kau tahu Beng yang begitu menyatu dengan kehidupan laut yang sangat menjiwai pelayaran pernah menceritakan padaku jika semasa muda dia sangat ingin bekerja di post indonesia sebagai pengantar surat, bahkan dia dulu sangat takut dengan gelombang laut.
Kita menyangka laut adalah pilihan Beng, kita salah, Beng pernah bilang jika dia terjebak oleh langkahnya sendiri dan berakhir pada suka apa tidak dia harus berusaha menjalani dengan seluruh kemampuan yang dia miliki.
Barangkali aku, Beng, Urip dan mungkin banyak sekali manusia tidak beruntung yang memiliki nasib tak jauh beda denganmu. Tak bisa memilih jalan hidup seperti yang mereka, aku pun kamu mau" ujar Kojin yang mulai sadar jika pembicaraan sudah tidak perlu dilanjutkan.
"Ada apa dengan Urip, mengapa dia lebih pendiam akhir-akhir ini?" tanya Dimah berusaha memecah suasana yang terasa sulit dilarut.
"Andai aku tahu"

Mengambil Gambar

Aku sempatkan mengambil gambar sederhana  pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...