Sedikit angin membawa suasana yang menakutkan, sepi. Sedang tetua
sibuk dengan diamnya sendiri. Angga berpikir kehidupan alam arwah
bakal mendatangi dan Angga tak tahu kemana harus lari.
"Ulun hanya memastikan bahwa semua dalam kondisi baik. Jangan takut" ujar tetua.
"Yup" Angga asal jawab menutupi rasa takut.
Sedang perasaan takut benar-benar menguasai. Hantu dan hantu itu saja
yang ada di kepala hingga liur terasa masam.
Benar tak berapa lama tetua mendadak bangkit karena dia merasa ada
yang datang. Rupanya kejut dari tetua mengakhiri ketakutan Angga yang
telah memuncak. Angga pingsan untuk yang kedua kalinya. Tetua
tersenyum mendapati Angga yang jauh diluar dugaan. Angga benar-benar
lemah juga tolol sedang setengah dari pertanyaan meragukan bagaimana
mungkin seorang perempuan bisa mencintai laki-laki yang jauh dari
untuk bisa diandalkan.
"Gegaraning wong akrami dudu rupa dudu banda..." suara perempuan
melantunkan tembang Jawa.
"salma" tetua mengenal jelas suara itu. Benar, salma sudah ada dibelakang tetua.
"Salam laika, dulu seorang sahabat mengajarkan padaku tembang itu,
ketika aku patah.
Yang menjadi pijakan dasar sebuah ikatan pernikahan untuk membentuk
keluarga sakinah, mewadhah, warohmah bukan atas dasar harta pun rupa.
Kira-kira seperti itu makna tembang tadi. Ikatan tali kasih yang
seharusnya berdasar pada hati yang tak menggunakan kalkulasi. Angga,
penakut pun tak pintar tapi dia memiliki kesungguhan atas ketetapan
hatinya sendiri, mengapa kau ragu tetua?"
Tetua benar-benar terkejut karena Salma bisa membaca apa yang sedang
ada di pikirannya.
11.15.2013
11.14.2013
Heran
“Pertemuan Pram dengan Nungkai hanya memberi gambaran betapa
kesombongan masih lebih menguasai, walau seseorang telah paham terhadap nilai
kehidupan sekalipun, walau ada kepentingan lain yang seharusnya lebih bisa
menekan kesombongan akan tetapi sifat dasar manusia yang selalu menjadikan
kerusakan dan pertumpahan darah semata tetap akan muncul mengambil ruangnya
sendiri.
Setiap dialog tak lebih hanya menunjukan prilaku meninggikan
keakuan, bahwa aku lebih tahu daripada kamu. Dorongan atas penguasaan akan
tetap terjadi ketika seseorang merasa ada kemampuan dalam pemikiran, materi
atau apa saja yang mereka bisa jadikan sarana penaklukan terhadap yang lain.
Tinggi ego.
Maka menjadikan diri sendiri
bodoh dengan membuang apa yang seseorang itu telah pelajari bukanlah hal yang
buruk. Pun ketika seseorang menjadikan diri sendiri bodoh bukan berarti
seseorang tersebut benar-benar bodoh karena sewaktu seseorang melakukan sesuatu
tentu naluri akan menuntun pada penyelesaian terhadap suatu masalah yang mereka
sedang hadapi. Pun pengetahuan yang mereka
lupakan tak jua sepenuhnya hilang dan
akan menjadi perbandingan dengan sendirinya, terjadi peleburan yang mematangkan”
ujar tetua.
Angga hanya mengatakan ya, ya saja. Angga sebenarnya lebih
tertarik dan bertanya-tanya bagimana cara kerja air dalam mangkuk hingga bisa
berfungsi layaknya cctv yang ada di rumahnya, sehingga mereka berdua bisa melihat
apa yang dilakukan Pram dengan Nungkai. Dalam benak "kok bisa ya, wah..." maka terpikir, sudah barang tentu Angga ingat kekasihnya dan ingin memanfaatkan kemampuan tetua.
11.11.2013
Selisih
"Aku berpikir kau sok tahu dan kau juga lebih jahat dari yang aku kira
sebelumnya"
"Ya, kau boleh berpikir seperti itu, seperti yang kau dengar, Nungkai
peneluh, Nungkai pengikut ilmu hitam" jawab Nungkai.
Nungkai mengakhiri ucapan bersamaan dengan munculnya seekor ular warna
hitam dari dalam lengan baju Nungkai, tampak mengkilat seperti
berminyak.
Pram tahu jika Nungkai sedang ingin menunjukkan siapa dirinya.
"Tak satupun di bumi tempat berpijak sesuatu ada dengan seketika, pun
tak satupun sesuatu lenyap begitu saja. Adanya sesuatu berdasar ubah
wujud, pun sirnanya sesuatu, yang ada perubahan wujud. Materi kekal.
Mendengar belum tentu melihat, melihat belum tentu mengetahui,
mengetahui belum tentu percaya, perca...."
belum lagi selesai Pram melepas kalimat namun tubuh Nungkai terlihat
seperti mengeluarkan asap, seperti ada yang terbakar dari dalam tubuh
Nungkai.
"Wyusimamubi, tatalangkup ikau, tabalik mantra nang taucap!" Nungkai
mengcover mantra Pram.
Ancaman sudah terlalu dekat pada keduanya. Tinggal menunggu siapa yang unggul.
sebelumnya"
"Ya, kau boleh berpikir seperti itu, seperti yang kau dengar, Nungkai
peneluh, Nungkai pengikut ilmu hitam" jawab Nungkai.
Nungkai mengakhiri ucapan bersamaan dengan munculnya seekor ular warna
hitam dari dalam lengan baju Nungkai, tampak mengkilat seperti
berminyak.
Pram tahu jika Nungkai sedang ingin menunjukkan siapa dirinya.
"Tak satupun di bumi tempat berpijak sesuatu ada dengan seketika, pun
tak satupun sesuatu lenyap begitu saja. Adanya sesuatu berdasar ubah
wujud, pun sirnanya sesuatu, yang ada perubahan wujud. Materi kekal.
Mendengar belum tentu melihat, melihat belum tentu mengetahui,
mengetahui belum tentu percaya, perca...."
belum lagi selesai Pram melepas kalimat namun tubuh Nungkai terlihat
seperti mengeluarkan asap, seperti ada yang terbakar dari dalam tubuh
Nungkai.
"Wyusimamubi, tatalangkup ikau, tabalik mantra nang taucap!" Nungkai
mengcover mantra Pram.
Ancaman sudah terlalu dekat pada keduanya. Tinggal menunggu siapa yang unggul.
11.09.2013
Nungkai
"Setiap terjawab dari apa yang kau tanyakan selalu menyisakan
pertanyaan baru, lalu bagaimana aku bisa memenuhi pertanyaan yang
sebenarnya kau sendiri buat?
Angga lebih cerdas dari kau. Dia diam dia tidak bertanya, apalagi
menjawab. Angga temanmu tahu bahwa apa yang dia tidak mengerti malah
jawaban yang sebenarnya, karena mengerti hanya ada di pikiran dan itu
semu. Setinggi apapun yang kau cari akan berakhir pada tidak tahu.
Maka diamlah, luruhkan apa-apa yang ada di kepalamu. Biar, biar tak
perlu kau pikirkan esok atau apa yang telah berlalu, niscaya semesta
sekalian alam akan mengajari apa yang kau tidak pernah tahu" terdengar
agak parau suara laki-laki yang sudah berdiri di depan Pram.
"Siapa kau?"
"Bukankah kau mencariku? aku Nungkai"
Jauh dari yang Pram bayangkan, Pram tidak menyangka akan bertemu
Nungkai secepat itu.
"Angga pun kekasihnya sudah siap dengan segala kemungkinan sejak awal
mereka berjumpa, mereka sudah tahu jika segalanya tidak akan mudah,
tapi permainan yang mereka mainkan setidaknya akan memberi arti akan
hidup, setidaknya mereka menemukan arti dari apa itu kekasih"
"Bagaimana kau bisa tahu Angga" Pram terkejut karena Nungkai banyak
mengetahui tentang Angga.
Nungkai tidak menjawab, tapi senyum Nungkai sudah menjelaskan lebih
dari yang Pram harap.
pertanyaan baru, lalu bagaimana aku bisa memenuhi pertanyaan yang
sebenarnya kau sendiri buat?
Angga lebih cerdas dari kau. Dia diam dia tidak bertanya, apalagi
menjawab. Angga temanmu tahu bahwa apa yang dia tidak mengerti malah
jawaban yang sebenarnya, karena mengerti hanya ada di pikiran dan itu
semu. Setinggi apapun yang kau cari akan berakhir pada tidak tahu.
Maka diamlah, luruhkan apa-apa yang ada di kepalamu. Biar, biar tak
perlu kau pikirkan esok atau apa yang telah berlalu, niscaya semesta
sekalian alam akan mengajari apa yang kau tidak pernah tahu" terdengar
agak parau suara laki-laki yang sudah berdiri di depan Pram.
"Siapa kau?"
"Bukankah kau mencariku? aku Nungkai"
Jauh dari yang Pram bayangkan, Pram tidak menyangka akan bertemu
Nungkai secepat itu.
"Angga pun kekasihnya sudah siap dengan segala kemungkinan sejak awal
mereka berjumpa, mereka sudah tahu jika segalanya tidak akan mudah,
tapi permainan yang mereka mainkan setidaknya akan memberi arti akan
hidup, setidaknya mereka menemukan arti dari apa itu kekasih"
"Bagaimana kau bisa tahu Angga" Pram terkejut karena Nungkai banyak
mengetahui tentang Angga.
Nungkai tidak menjawab, tapi senyum Nungkai sudah menjelaskan lebih
dari yang Pram harap.
11.07.2013
Sulit
Pram merasa jika dirinya bukan siapa-siapa dan itu sangat menyakitkan
baginya, dia berharap untuk lebih bisa berarti. Pram telah berusaha
keras untuk menemukan arti hidup namun upaya yang dilakukan justru
menjadikan dirinya makin kehilangan arah, semakin jauh tersesat. Dia
berfikir bisa memperbaiki segalanya, tentang hidupnya.
baginya, dia berharap untuk lebih bisa berarti. Pram telah berusaha
keras untuk menemukan arti hidup namun upaya yang dilakukan justru
menjadikan dirinya makin kehilangan arah, semakin jauh tersesat. Dia
berfikir bisa memperbaiki segalanya, tentang hidupnya.
11.04.2013
Pram Lenyap
Wajah Angga tampak pucat, tetua tahu apa artinya itu sehingga dia
segera menahan dari belakang lalu merebahkan tubuh Angga diatas
rumputan.
Kali ini Pram mulai sedikit panik perasaan was lebih menguasai, ada
sesuatu yang tidak seharusnya. Naluri mengambil alih kesadarannya
hingga dia segera mengambil dan menghidupkan kamera untuk cepat
mengambil gambar takut kehilangan moment. Tetua hanya sedikit melirik
kearah Pram.
"Wyusimamubi taungkap, tabuka ikau nang tatutup wan daun" ucap tetua.
Segera langit mendung dan terlalu cepat seorang perempuan sudah
berdiri menepuk bahu tetua hingga tetua segera menoleh dan sedikit
kejut
"Salam" tetua menunduk santun.
"Alaika salam" jawab perempuan itu lebih santun.
Pram kali ini seperti patung mendapati keterkejutan berlebih hingga
tak terasa kamera yang ada di tangannya terjatuh.
"Murdi, tetua dari wilayah Hulu Tengah, ada apa jauh-jauh hingga
sampai di Tanah Luar ini? Siapa yang pian cari?"
"Nungkai" jawab tetua.
"Dia tidak sedang berada disini, dia bersama Urip dan yang lain sedang
berada di Tanah Dalam, tapi aku bisa membatu pian lebih dari yang pian
harapkan" lanjut perempuan itu yang dengan cepat sudah terlalu dekat
dengan wajah Pram.
Harum aroma melati menyebar, sedang perempuan itu makin menggoda Pram.
Gaun yang terbuat dari kain satin warna merah menampakan lekuk tubuh
perempuan dewasa.
"Kau sama seperti kawanmu, aku tahu kau menyimpan tali asamara yang
sulit kau wujudkan, katakan permohonanmu, aku akan mengabulkan" lembut
ucap perempuan itu.
Hilang, setelah kedip mata tak lagi tetua melihat Pram, hanya ada
Angga dan kamera Pram yang tergeletak di tanah.
Senyum tetua tipis, tetua tahu sedang dimana Pram berada, tetua bukan
orang bodoh.
segera menahan dari belakang lalu merebahkan tubuh Angga diatas
rumputan.
Kali ini Pram mulai sedikit panik perasaan was lebih menguasai, ada
sesuatu yang tidak seharusnya. Naluri mengambil alih kesadarannya
hingga dia segera mengambil dan menghidupkan kamera untuk cepat
mengambil gambar takut kehilangan moment. Tetua hanya sedikit melirik
kearah Pram.
"Wyusimamubi taungkap, tabuka ikau nang tatutup wan daun" ucap tetua.
Segera langit mendung dan terlalu cepat seorang perempuan sudah
berdiri menepuk bahu tetua hingga tetua segera menoleh dan sedikit
kejut
"Salam" tetua menunduk santun.
"Alaika salam" jawab perempuan itu lebih santun.
Pram kali ini seperti patung mendapati keterkejutan berlebih hingga
tak terasa kamera yang ada di tangannya terjatuh.
"Murdi, tetua dari wilayah Hulu Tengah, ada apa jauh-jauh hingga
sampai di Tanah Luar ini? Siapa yang pian cari?"
"Nungkai" jawab tetua.
"Dia tidak sedang berada disini, dia bersama Urip dan yang lain sedang
berada di Tanah Dalam, tapi aku bisa membatu pian lebih dari yang pian
harapkan" lanjut perempuan itu yang dengan cepat sudah terlalu dekat
dengan wajah Pram.
Harum aroma melati menyebar, sedang perempuan itu makin menggoda Pram.
Gaun yang terbuat dari kain satin warna merah menampakan lekuk tubuh
perempuan dewasa.
"Kau sama seperti kawanmu, aku tahu kau menyimpan tali asamara yang
sulit kau wujudkan, katakan permohonanmu, aku akan mengabulkan" lembut
ucap perempuan itu.
Hilang, setelah kedip mata tak lagi tetua melihat Pram, hanya ada
Angga dan kamera Pram yang tergeletak di tanah.
Senyum tetua tipis, tetua tahu sedang dimana Pram berada, tetua bukan
orang bodoh.
Gerbang Tanah Luar
Lebih menjelaskan jika Pram terbiasa mengunakan logika dan analisa,
segala yang disampaikan mengarah pada yang bersifat ilmiah. Obsesi
psikologi melalui pendekatan teologi pun mitologi kuno. Tetua sedikit
meragu jika upaya akan mengarah positif. Beberapa sampel dari
benda-benda ritual yang telah dikoleksi dan cara pendokumentasian
Pram setidaknya sudah cukup untuk menjadi alasan atas keraguan tetua.
Benar, ketika tiba di tempat pelatihan suci maka Pram segera
mengeluarkan kamera digitalnya dan mengambil gambar yang menurutnya
penting.
Tetua tersenyum, tetua sangat yakin jika Pram tidak akan mendapat
apapun kecuali dia akan segera sadar bahwa kecerdasan yang dimiliki
tak akan banyak membantu.
"Sihir tak sepenuhnya sihir sama seperti yang pian katakan jika ilmu
pasti bukanlah hal yang pasti.
Sekarang kita memulai ekplorasi sisi hidup yang sesungguhnya telah
mati oleh pikiran, hati, naluri pun ego yang pian sebut-sebut itu.
Ulun berharap keempat perkara tak menjadi hijab" ujar tetua.
Pram berusaha memahami apa yang baru saja dikatakan tetua.
Sedang Angga hanya mendengar dan mendorong kursi roda Pram sambil
berharap ada keajaiban yang memberi rasa takjub untuk menuntaskan rasa
ingin tahunya.
Tetua menahan Pram pun Angga agar berhenti, sedang tetua tetap
melangkah mendekati pohon asam besar yang tinggi menjulang.
"Salam laika salam" ucap tetua.
Betapa terkejut Angga ketika tercium harum melati lembut bersamaan
dengan hangat nafas yang telah dekat dengan telinga kirinya, sedang
tubuh seperti terhanyut. Ada yang berbeda dari apa yang di retina mata
Angga terima, sepertinya berubah situasi disekitar dia berdiri.
"Kau terlalu takut untuk mendapatkannya, sedang dia tak lagi bisa
melupa, perempuan itu sedia atasmu tapi kau penakut" suara seorang
perempuan terdengar jelas, namun ketika Angga menoleh namun dia tak
menemukan siapa pun dan apa yang dipandang dari sekitar telah kembali
seperti sedia kala. Normal.
Angin berhembus lembut menerpa wajah Angga.
segala yang disampaikan mengarah pada yang bersifat ilmiah. Obsesi
psikologi melalui pendekatan teologi pun mitologi kuno. Tetua sedikit
meragu jika upaya akan mengarah positif. Beberapa sampel dari
benda-benda ritual yang telah dikoleksi dan cara pendokumentasian
Pram setidaknya sudah cukup untuk menjadi alasan atas keraguan tetua.
Benar, ketika tiba di tempat pelatihan suci maka Pram segera
mengeluarkan kamera digitalnya dan mengambil gambar yang menurutnya
penting.
Tetua tersenyum, tetua sangat yakin jika Pram tidak akan mendapat
apapun kecuali dia akan segera sadar bahwa kecerdasan yang dimiliki
tak akan banyak membantu.
"Sihir tak sepenuhnya sihir sama seperti yang pian katakan jika ilmu
pasti bukanlah hal yang pasti.
Sekarang kita memulai ekplorasi sisi hidup yang sesungguhnya telah
mati oleh pikiran, hati, naluri pun ego yang pian sebut-sebut itu.
Ulun berharap keempat perkara tak menjadi hijab" ujar tetua.
Pram berusaha memahami apa yang baru saja dikatakan tetua.
Sedang Angga hanya mendengar dan mendorong kursi roda Pram sambil
berharap ada keajaiban yang memberi rasa takjub untuk menuntaskan rasa
ingin tahunya.
Tetua menahan Pram pun Angga agar berhenti, sedang tetua tetap
melangkah mendekati pohon asam besar yang tinggi menjulang.
"Salam laika salam" ucap tetua.
Betapa terkejut Angga ketika tercium harum melati lembut bersamaan
dengan hangat nafas yang telah dekat dengan telinga kirinya, sedang
tubuh seperti terhanyut. Ada yang berbeda dari apa yang di retina mata
Angga terima, sepertinya berubah situasi disekitar dia berdiri.
"Kau terlalu takut untuk mendapatkannya, sedang dia tak lagi bisa
melupa, perempuan itu sedia atasmu tapi kau penakut" suara seorang
perempuan terdengar jelas, namun ketika Angga menoleh namun dia tak
menemukan siapa pun dan apa yang dipandang dari sekitar telah kembali
seperti sedia kala. Normal.
Angin berhembus lembut menerpa wajah Angga.
Langganan:
Postingan (Atom)
Mengambil Gambar
Aku sempatkan mengambil gambar sederhana pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...
-
Tubuh Dewi masih terlihat sangat letih, letih tubuh juga perasaan. Dewi masih enggan untuk menemui Arya. Selalu timbul perasaan malu jika t...
-
Waktu dan ruang selalu setia memberi kesempatan kepada alam dan seisinya untuk larut dalam pencariannya masing-masing, mempersilahkan hidup ...
-
Segala kemampuan yang dimiliki Beng bukanlah berarti menjadikan sesuatunya bisa lebih mudah. Jantung Urip berdegub lebih kuat begitu meng...