4.23.2013

Tak Duga

Hanya sumpah-serapah Mudya yang sama sekali tidak enak untuk didengar
memecah, Nungkai benar-benar kewalahan menghadapi perempuan tua itu
juga Mudya yang agresif
Tapi Nungkai bukan orang yang mudah dijatuhkan, terbukti dengan masih
ada pertahanan dan sedikit upaya melawan. Pun seburuk apa pribadi
Nungkai masih ada tersisa rasa setia membela kawan, terlihat dari
caranya melindungi Nisa dari ancaman yang dianggap serius. Setiap
kali perempuan tua itu hendak melempar mantra pada Nisa maka selalu
pula Nungkai telah mendahului menjadikan dirinya sebagai perisai,
hingga tak sekalipun perempuan itu pernah bisa menyentuh Nisa.

Ada sedikit yang mengejutkan Nungkai, karena dia tidak mengira jika
Mudya ternyata juga bisa menggunakan sihir, sedang sepengetahuannya
selama ini Mudya hanya seorang yang banyak bicara dan sibuk mengurusi
selera makan dengan gayanya yang sok borju.
Seharusnya Nungkai tidak boleh menganggap rendah orang lain, sedang
dia sangat tahu jika sesuatu itu dianggap remeh maka sesuatu itu pula
suatu ketika bisa berubah menjadi sangat serius.

4.22.2013

Isyarat

Helai daun kering jatuh tertiup angin, kedua pihak masih saling
melempar senyum ejek yang sebenarnya lebih pada kehati-hatian dari
mereka untuk menunggu kemungkinan, sebelum keputusan yang jelas akan
fatal, tak ada suara mereka lagi, terasa sekali jika mereka bakal
kehilangan tata krama. Barang kali akan menjadi harga yang pantas
untuk mendapatkan monyet empat muka yang disebut sebagai monyet
keseimbangan itu, walau mereka juga sadar jika akan ada kemungkinan
terburuk sekalipun itu berarti harus menjadikan jiwa mereka sebagai
tumbal.

Nungkai menoleh kearah Nisa berharap Nisa mengerti apa yang harus
dilakukan tanpa harus memancing Mudya yang bisa memperburuk keadaan.
Benar tanpa ada kalimat dari Nungkai sekalipun Nisa sudah mengerti apa
yang dimaksud oleh Nungkai, namun Nisa ragu mengambil tindakan karena
dia melihat perempuan tua yang bersama Mudya sedang memejamkan mata,
dan itu terlihat seperti sedang mempersiapkan sihir.
"Percayalah" ucap Nungkai pada Nisa.

Tak mungkin rasanya jika Mudya tidak mengerti gelagat dari keduanya,
namun Mudya yang merasa diatas angin karena ditemani perempuan tua itu
hanya tertawa merendahkan, seolah sudah pasti Mudyalah yang akan
memenangkan.

4.20.2013

Mudya Juga

"Menurut cerita monyet itu ada didalam perut bumi, tak aku sangka Nisa
Halimah binti Dahlan keturunan ke lima dari juriat KH. Maksum yang
kesohar itu telah bisa memeliharanya, dan sekarang dengan ringan
bersedia meminjamkan monyet itu pada Nungkai dari Tanah Tanah Luar
seorang ahli pertahanan dengan menggunakan sihir hitam yang licik"
suara laki-laki dari balik pohon jingah terdengar cempreng.
Nungkai sedikit mendorong Nisa untuk surut kebelakang, Nungkai
mengenal suara itu, dan itu berarti bukan hal baik.

"Aku dengar kau pecinta makanan dan sangat tahu selera. Mengenal
berbagai resep rahasia dari penyaji makanan terkemuka, kau bukan
sekedar bertahan hidup, tapi tahu bagaimana cara menikmati hidup.
seharusnya kau memilih keju atau kaviar dari ikan terbaik demi
penyempurna cita rasa.
Lihatlah dirimu, kau sangat tahu bagaimana membangun masa depan" balas Nungkai.
"Masa depan, batasnya ada di jiwa.
Anggap saja kita punya pendapat berbeda. Tapi aku datang jauh-jauh
kemari karena mendengar ada informasi yang tidak diketahui banyak
orang, dan... , rupanya tidak salah" Mudya tak kalah sambut.
Mudya menampakkan diri, tapi bukan sendiri, melainkan ditemani
perempuan tua jangkung yang terlihat eksentrik.
Rupanya Mudya sedang bukan berlibur, tapi untuk hal yang mungkin
dianggap penting sehingga perlu ditmani perempuan yang kelihatannya
ahli.

"Menurut cerita satu rupa terlihat kaku dan dingin sama sekali tidak
bersahabat, satu yang lain dari rupa itu terlihat menyenangkan bahkan
mudah diajak bicara, sedang rupa yang ketiga terlihat tolol tapi apa
yang dia kehendaki pasti didapat dan yang keempat terlihat sangat
cerdas.
Monyet keseimbangan" sela perempuan tua .

4.19.2013

Pasrah

"Jika telah datang kepadamu seseorang yang meminta padamu monyet
bermuka empat maka tidaklah akan jauh seseorang lain pula di waktu
yang berbeda akan datang padamu pula untuk meminta sebagian jantung
yang ada padamu" Nisa menghentikan kalimat yang pernah dia dengar dari
Datu Kalai tujuh tahun yang lalu.
Wajah Nisa sedikit pucat dan bibirnya bergetar. Nungkai memahami jika
monyet itu adalah hal serius bagi Nisa, tapi Nungkai tak punya
pilihan.

"Aku tidak memaksa, bagaimana mungkin aku mengorbankanmu demi
menyelamatkan yang lain" ujar Nungkai.
"Ambillah monyet itu, aku siap dengan segala hal, barangkali inilah
jalanku" jawab Nisa.

4.18.2013

Sulit

"Orang-orang sudah memandang kita sebagai orang aneh yang memiliki
fantasi berlebih, sadarlah Kai" Nisa mulai bisa membaca diamnya
Nungkai.
Nungkai hanya bisa menunduk, Nungkai masih merasa segan untuk mengucap
apa yang menjadi tujuan atas kedatangannya. Nungkai sangat tahu Nisa
yang telah menjauh dari kehidupan sosial.

"Tempat sempurna untuk tinggal. Jika malam telah tiba tentu sangatlah
indah di sini, taburan berjuta bintang yang terlihat lebih terang,
gugusan bima sakti dengan mudah terlihat oleh mata dan angin malam
selalu mambawa jiwa pada masa lalu, juga rindu" Nungkai masih sulit
mengutarakan.

"Nisa, aku tak memiliki banyak pilihan, aku datang kemari untuk
meminta bantuan" ucapan Nungkai terasa berat.
Kalimat sederhana Nungkai terasa begitu rumit untuk dijawab Nisa,
walaupun sebelumnya Nisa juga sudah tahu kemana arah pembicaraan
Nungkai.
Keduanya kembali terdiam dan tak tahu bagaimana cara berkomunikasi
yang seharusnya, Nungkai sadar jika ini akan sulit.

"Pertengkaran dan bau anggur kuat yang tersisa di gelas pada malam itu
telah membawaku pada kesendirian untuk menghabiskan malam yang terasa
selalu panjang, dan setelah setahun berlalu yang aku dengar dia telah
mencuri kitab sihir milik seorang tokoh dari Tanah Dalam yang
sekaligus guru sihirku. Sedang yang diketahui orang dari Tanah Luar
pun orang Tanah Dalam seharusnya hanya aku yang mengetahui keberadaan
kitab itu. Persekongkolan, itu yang mereka pikirkan tentang diriku.
Itu tidak mudah bagiku. Sejak itu pula aku memilih diam disini.
Kai, aku bersusah payah melupakan semua" ucap Nisa.
"Aku hanya ingin meminjam monyet empat muka" suara Nungkai sedikit parau.
Nisa terdiam, Nisa kali ini berada pada posisi yang benar-benar sulit.
Berharap Nungkai mengerti apa yang menjadi alasan ketidak sedianya
melepas monyet bermuka empat pada Nungkai rasanya mustahil. Sedang
Nisa mengenal Nungkai sebagai pribadi yang lembut tapi juga licik.
Nisa melepas nafas panjang, ada terbersit rasa menyerah di hatinya.

4.14.2013

Rawa

"Hati yang tak kenal takut hanya milik orang yang sudah tak memiliki hasrat, pun berani juga tak beda.
Dalam keadaan sulit keraguanlah yang akan membinasakan" ucap Nisa dibarengi senyumnya yang manis.
Nungkai tahu bibir Nisa memang tersenyum tapi Nungkai juga tahu kalau hati Nisa lain. Ada terbersit sesuatu yang berat sedang menghimpit hati dan perasaan Nisa. Tapi Nunngkai berusaha mengabaikan, sambil berharap suasana tidak berubah buruk.
" Aku sulit membedakan dari apa yang kau ucapkan, kau lebih seperti bhikuni daripada muslimah" ucap Nungkai.
Apa yang Nungkai ucapkan rupanya cukup beralasan, karena kalimat yang disampaikan Nisa memang mirip ajaran Bhuda, apalagi bekas pembakaran dupa dalam ruang itu masih menyisakan aroma khas.

Bunga teratai putih bermekaran di antara rumput air rawa, burung pelikan menari dihadapan betinanya yang telah siap dicumbu.
"Kau selalu bisa membaca hati dan perasaan orang lain, tentu aku tak bisa menyembunyikan apa yang aku rasakan. Tapi aku yakin kau datang kemari bukan untuk itu. Katakan. Apa soal Tanah Dalam" Nisa menyerah, membiarkan Nungkai mengetahui isi hatinya.
Nungkai tak menjawab, dia hanya membiarkan angin yang terasa lembut menerpa wajahnya.
"Awal, tak mungkin kembali awal lagi. Selalu awal kemudian Akhir. Apapun yang terasa gelap tentu kemudian akan terang, jika awalnya benci tentu suatu ketika kau akan merindu atau sebaliknya. Itu ketetapan alam. Dulu aku mencintai seseorang dan sekarang menyisakan kebencian yang tak pernah bisa aku buang" Nisa mempertegas apa yang Nungkai rasakan tentang dirinya, berharap Nungkai berhenti menelanjangi perasaannya yang sebenarnya dia tak ingin orang lain tahu. Nisa menyerah.

Waktu seperti terhenti, dari semua yang telah dilakukan hanya memberi terdiam pada keduanya, harmoni alam membiarkan perasaan masing-masing teraduk. Langit cerah dengan sedikit awan penambah keindahan.




4.12.2013

Terhenti

"Dia lebih dari yang kau duga. Ini hutan, berhati-hatilah" bisik Beng
pada Urip, seketika itu pula Urip menghentikan langkahnya untuk
mendekat pada perempuan kecil yang sedang mengulurkan tangan meminta
sesuatu.
Bukan kekecewaan yang terlihat diwajah perempuan kecil itu mengetahui
Urip menghentikan langkah untuk mendekat padanya tapi justru dia
tersenyum lalu memalingkan wajah membuang pandang dan berucap
"Roh kegelapan lebih menguasaimu, kau selalu didatangi rasa takut dan
bersalah. namun logika yang kau depankan untuk mendapatkan alasan, kau
lupa jika logika memiliki batas atas kadarnya masing-masing yang
menjadikan keraguan atas benar atau salah dari apa yang kau putuskan"
ujarnya.
Sesaat kemudian perempuan kecil itu mengeluarkan sisir perak dari
balik bajunya untuk merapikan rambutnya yang terlihat kumal dan tak
lagi hirau pada ketiganya. Halus aroma kenanga menyebar setelah itu.
Dimah merapatkan tubuh pada Urip, Dimah merasa ada sesuatu yang tidak
beres hingga menjadikan rasa takut yang tak terjelaskan. Dimah hanya
berpikir setidaknya masih ada Beng yang memiliki kemampuan sihir,
berharap ada kemungkinan yang menguntungkan dan tinggal melihat
bagaimana peluangnya.

Sedang Beng memilih untuk tidak terlibat lebih jauh, Beng memberi
isyarat pada Urip untuk tidak terlalu hirau pada perempuan kecil itu
dan meneruskan perjalanan.
Sedang bagi Urip pun Dimah yang belum lagi selesai rasa ingin tahunya
menjadikan mata dari keduanya masih tak bisa lepas, namun keduanya lebih baik
jika menanggapi ajakan Beng, karena itu pilihan terbaik walau mereka
masih enggan berlalu.

Mengambil Gambar

Aku sempatkan mengambil gambar sederhana  pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...