Sedang cinta tak ubahnya bisik iblis akan kebahagian dan berjuta harapan untuk memberi warna dikehidupan. Arya sejak awal telah faham dengan apa itu yang disebut dunia adalah kemewahan palsu.
Lalu untuk apa lari jika telah nyata palsu.
Arya pilih setia menyimpan sebuah nama dengan apik, untuk dijadikan nafas disetiap gerak dan ucap dari bibirnya, sehingga menyempurnakan dusta demi dusta yang dilontar.
Arya masih taat dengan cintanya walau itu sulit bahkan tak mungkin, pun tahu itu hanya menyiksa diri. Bukankah cinta akan indah dan bahagia selama masih ada luka, lalu mengapa harus menghindar saat dilumuri luka.
Cinta bukanlah pasangan yang telah dijanjikan. Tidak ada disebutkan dalam kitab tuntutan umat beragama tentang cinta asmara, melainkan pasangan yang telah dihalalkan bagimu.
Lalu mengapa masih diagungkan cinta bahkan seolah kudus.
Setidaknya cinta telah memberi gairah dan goda dengan aroma yang diharamkan bagimu lebih dari pandangan pertama.
6.19.2012
6.17.2012
Yang Seharusnya
Kemala bernafas untuk sesuatu yang berharga, tak mungkin sedemikian jauhnya terbang jika mencari sesuatu yang sia-sia. Lalu dengan alasan apa sehingga harus mengucapkan selamat tinggal kepada Arya.
Kemala mungkin akan sungguh sangat menghargai jika Arya bisa berlalu dari pandangan.
"Semoga kau menemukan apa yang kau cari dan tak akan pernah lagi menciptakan perasaan" gumam Kemala
Kemala mungkin akan sungguh sangat menghargai jika Arya bisa berlalu dari pandangan.
"Semoga kau menemukan apa yang kau cari dan tak akan pernah lagi menciptakan perasaan" gumam Kemala
6.16.2012
Senyum Yang Terlepas
Kehadiran Arya lebih merupakan kelukaan, kebencian demi kebencian terbentuk seiring putaran waktu yang terus berjalan, kebencian yang setengahnya justru berubah wujud menjadi rindu, rindu yang pahit bila tersirat dihati, satu rindu yang justru membangkitkan sepi dan kedinginan yang tak bertepi.
Semua benda-benda bisu yang ada seolah tertawa melihat Kemala, terasa mengejek atas ketidak mampuan Kemala mengurai kusutnya permainan yang tidak pernah dimengerti pun tidak pernah sekalipun terlintas dalam bayangan sebelumnya.
“Aku tahu apa itu cinta, tapi bukan untuk Arya yang setengah gila” teriak Kemala dengan lantang dan wajah yang memerah mengambarkan tumpahnya seluruh kemarahan. Tapi tak begitu lama wajah marah Kemala mendadak berubah drastis setelah tersadar dirinya yang ngomel sendiri dan terasa aneh.
Perlahan muram Kemala berlalu setelah otaknya kembali waras, ingatannya kini membangkitkan kesadaran akan adanya ritual tertinggi dari prosesi sunah yang telah menunggu dirinya untuk menjalankan peran sebagai perempuan seutuhnya, perempuan yang akan melahirkan keturunan-keturunan penyelamat dikemudian hari, seperti yang telah dijanjikan dari tiga perkara yang menyelamatkan di hari akhir.
Yang ada malah terasa makin jauh ketika Arya yang setengah gila hadir disebagian perasaaanya, Arya tak lebih dari pengganggu keseimbangan dalam kehidupan. Ada penyesalan dihati Kemala karena telah meremehkan Arya yang ternyata lebih gila dari yang diperkirakan.
Angin berhembus lembut menyapa dengan ramah, masih banyak hal yang lebih penting untuk diselesaikan. Eropa dulu pernah diidamkan dan sekarang kaki telah berpijak, masih bayak kawan yang bisa disapa. Kemala menghela nafas lalu bangkit untuk melangkahkan kaki dengan tujuan bergabung dengan senyum dari komunitas warga Indonesia di Eropa, berbagi salam hingga perasaan sekedar pengobat rindu akan tanah kelahiran.
“Arya” senyum tipis terlepas dari bibir lembut Kemala, menghanyutkan segala nostalgia.
Kemala
Bayangan masa lalu sebelum mata terlelap perlahan berubah menjadi rindu akan masa-masa menghabiskan waktu bersama ibunya nun jauh di tanah kelahiran, lalu orang-orang istimewa bermunculan dalam ingatan seakan masih belum terlalu lama. Ada kerinduan yang dalam pada mereka semua, ingin Kemala mengulang andai dia bisa mengundur waktu.
Namun semua berantakan ketika ingatannya memunculkan nama Arya, nafas tak lagi nyaman, masam liur berubah menjadi pahit, terrampas semua kenangan.
Sungguh Kemala tersadar jika pertemuannya dengan Arya menjadi kisah paling buruk dari semua yang pernah dilaluinya.
"Arya, mengapa kau singgah dalam hidupku" sesal dalam hati Kemala setengah menyalahkan. Kemala masih memiliki hati dan perasaan, bukan melulu matematis dan science dikepalanya. Entah apa yang menjadi daya tarik Arya sehingga Kemala rela memberi ruang untuknya. Atau mungkin Arya merupakan hukuman bagi Kemala.
"Arya kau brengsek" Kemala menutup mata rapat-rapat berusaha membuang.
Namun semua berantakan ketika ingatannya memunculkan nama Arya, nafas tak lagi nyaman, masam liur berubah menjadi pahit, terrampas semua kenangan.
Sungguh Kemala tersadar jika pertemuannya dengan Arya menjadi kisah paling buruk dari semua yang pernah dilaluinya.
"Arya, mengapa kau singgah dalam hidupku" sesal dalam hati Kemala setengah menyalahkan. Kemala masih memiliki hati dan perasaan, bukan melulu matematis dan science dikepalanya. Entah apa yang menjadi daya tarik Arya sehingga Kemala rela memberi ruang untuknya. Atau mungkin Arya merupakan hukuman bagi Kemala.
"Arya kau brengsek" Kemala menutup mata rapat-rapat berusaha membuang.
6.14.2012
Arya
Tidakkah Arya sadar jika Kemala tak akan pernah menjadikan dirinnya sebagai prioritas. Sudah sangat jelas Kemala berasal dari kasta yang berbeda, lagipula Kemala bukan perempuan bodoh yang mudah terlarut dengan perasaan, tak akan mungkin terjatuh dengan rayu murahan Arya, Kemala berjalan dengan logika dan realita kehidupan modern yang sangat bertolak belakang dengan pola pikir Arya yang sempit dan sangat tradisional, Arya selalu mengandalkan perasaan bahkan mudah menyerahkan nasib pada kehidupan.
Kegilaan Arya hanya makin mempertegas kebodohannya yang tak lagi mampu berpikir jernih. Otak cerdasnya terlalu kecil dihadapkan dengan prilaku sosial modern. Jelas jika otak primitifnya menjadi makin dominan, alhasil menerjang semua aturan yang berlaku secara umum.
Ataukah mungkin perlakuannya terhadap Dewi adalah satu-satunya cara Arya untuk menumpahkan kesadaran cinta yang sejak awal telah disadari hanya rekayasa iblis yang bercokol dalam kepalanya.
Kegilaan Arya hanya makin mempertegas kebodohannya yang tak lagi mampu berpikir jernih. Otak cerdasnya terlalu kecil dihadapkan dengan prilaku sosial modern. Jelas jika otak primitifnya menjadi makin dominan, alhasil menerjang semua aturan yang berlaku secara umum.
Ataukah mungkin perlakuannya terhadap Dewi adalah satu-satunya cara Arya untuk menumpahkan kesadaran cinta yang sejak awal telah disadari hanya rekayasa iblis yang bercokol dalam kepalanya.
6.12.2012
Benarkah Arya
Sang waktu terus berjalan mengantar kehidupan pada satu masa yang gelap dan dingin, tak mungkin ada manusia yang abadi. Tetapi Arya terus menerjang apa-apa yang dilarang dan seolah melupa akan adanya hari pembalasan, yaitu di hari yang telah dijanjikan. Ataukah mungkin terlalu rapuh keimanan Arya ketika dihadapkan dengan perasaan cinta yang diagungkan oleh anak cucu Adam sehingga mengambil langkah di jalan sekutu setan dengan bisiknya yang mampu membolak-balik kalimat suci untuk dijadikannya berkelit lalu minta dibenarkan, sedang setengah dari hatinya sendiri meragukan apa yang diucapkannya.
Seharusnya Arya segera sadar untuk membuang jauh gambaran tentang Kemala lalu melupakannya karena segala pelampiasan dan pelarian yang dilakukannya justru menjadi petaka ketika di hati dan pikirannya masih menyimpan nama Kemala. Mustahil jika Arya tidak mengetahui arti pungguk merindu bulan.
Ataukah mungkin Arya memang gila, tapi mengapa dia bisa sedemikian gila.
Seharusnya Arya segera sadar untuk membuang jauh gambaran tentang Kemala lalu melupakannya karena segala pelampiasan dan pelarian yang dilakukannya justru menjadi petaka ketika di hati dan pikirannya masih menyimpan nama Kemala. Mustahil jika Arya tidak mengetahui arti pungguk merindu bulan.
Ataukah mungkin Arya memang gila, tapi mengapa dia bisa sedemikian gila.
6.10.2012
Kegelapan
Arya telah benar-benar kehilangan hasrat dan hormat terhadap akidah yang seharusnya menopang akhlak dalam kehidupan makhluk sosial.
Sungguh petaka ketika kehidupan cerdas justru mengikuti insting dan naluri purba di jaman yang sedemikian modern dan kompleks. Menjadi ironi bagi Dewi yang berwujud seperti iblis malah merasa sedih dan terpukul ketika tersadar telah melakukan sesat dalam perbuatan.
Sedang bulan terlihat seolah enggan menyaksikan dan memilih sembunyi di balik awan yang hitam.
Mungkin kegelapan akan kembali mengambil wujud aslinya yang sudah terlalu lama dipenjara oleh kalimah suci milik para syuhada, aulia dan wali-wali.
Sungguh petaka ketika kehidupan cerdas justru mengikuti insting dan naluri purba di jaman yang sedemikian modern dan kompleks. Menjadi ironi bagi Dewi yang berwujud seperti iblis malah merasa sedih dan terpukul ketika tersadar telah melakukan sesat dalam perbuatan.
Sedang bulan terlihat seolah enggan menyaksikan dan memilih sembunyi di balik awan yang hitam.
Mungkin kegelapan akan kembali mengambil wujud aslinya yang sudah terlalu lama dipenjara oleh kalimah suci milik para syuhada, aulia dan wali-wali.
Langganan:
Postingan (Atom)
Mengambil Gambar
Aku sempatkan mengambil gambar sederhana pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...
-
Tubuh Dewi masih terlihat sangat letih, letih tubuh juga perasaan. Dewi masih enggan untuk menemui Arya. Selalu timbul perasaan malu jika t...
-
Waktu dan ruang selalu setia memberi kesempatan kepada alam dan seisinya untuk larut dalam pencariannya masing-masing, mempersilahkan hidup ...
-
Segala kemampuan yang dimiliki Beng bukanlah berarti menjadikan sesuatunya bisa lebih mudah. Jantung Urip berdegub lebih kuat begitu meng...