4.23.2012
Catatan kecil
Mungkin kehidupan selalu begitu, sesuatu yang kita inginkan seolah akan dapat diraih, tapi kenyataan justru menghadirkan yang lain dari keinginan awal.
Jika aku mulai sadar sesungguhnya keyakinan hanya konstruksi sangka yang selalu memberi gambaran seolah semua nyata pun kecerdasan logika dan insting ikut menuntun, ketika giliran kehidupan yang nyata menyatakan wujudnya maka hasilnya tak jarang kita menolak kenyataan yang sekarang ada.
4.21.2012
Kopi pagi
4.20.2012
Tanyanya
"Siapa dia, kelihatannya kau sangat mencintainya"
Aku tak menjawab, aku masih bingung terhadap dia, kenapa dia tampak seolah biasa saja.
Sinar kilat sesekali tampak diikuti suara gemuruh, sisanya hanya bisu dan badanku yang terasa kotor, maka perasaan salah dan dosa terasa lebih lekat. Aku tak menduga sampai sejauh ini.
"Aku habis berapa loki tadi" tanyaku memastikan sejauh mana kesalahanku.
"Nggak kehitung" sambil dia memindah posisi setengah menghadapku, matanya mencermati wajahku seolah ingin menggali.
"Perempuan itu pasti cantik" tanyanya lagi.
Aku menghela nafas.
"Dia di Belanda" aku masih belum siap menjawab pertanyaannya, dia masih asing bagiku, tapi aku merasa menjadi tamu, tak mungkin aku diam.
4.18.2012
Tersadar
Terdengar suara lirih, aku palingkan kepala, terlihat perempuan masih mengenakan mukena diatas sajadah tampak kusuk berdoa, kedua tangan menyatu didada, begitu damai.
Ada rasa aneh dari tidurku, dan ketika aku pastikan ternyata benar, aku tak berpakaian sama sekali, hanya selimut menutupi.
"Apa..tadi.."aku malu menaya.
Perempuan itu menoleh dan tersenyum.
"Ya, tadi kita melakukannya, temanmu mengantar kita kerumah ini, dia memintaku melayanimu. Jangan kawatir dia sudah bayar semua"
Terkejut aku mendengar. Aku ingat jika dia perempuan yang di kedai arak, aku ingat Jabis tadi datang menemani aku minum.
"Heran ya, kalau pelacur gak boleh sholat? Gak boleh berdoa?. Aku pelacur yang mencoba berTuhan, bukan Islam, jangan salah paham"
"Bukan begitu maksudku" aku bangkit tapi kepala masih berat.
"Sudah tidur saja, di rumah ini hanya ada kita, lagian masih jam dua, diluar juga hujan, mau kemana ?"
4.17.2012
Lupa
Sedang aku hanya mengandalkan nalar dan insting, perasaan rendah, sangka baik tak, buruk tak.
Mungkin dia bisa memutuskan untuk tidak bertemu lagi, tapi bisakah perasaannya juga berlaku sama. Sayangnya dia lupa jika lini luarku saja yang tampak penuh dan mengisi dalam wujud kalimat yang membosankan, tapi lini dalamku kosong. Rasaku lemah, sedang dia punya rasa apapun itu wujudnya. Alhasil rasa yang dimilikinya mengalir mengisi kosong perasaanku.
Lalu salahkah ketika aku merasakan apa yang dia rasa, ketika dia merasa makin bosan dan ingin berhenti tercampur rasa goda, walau dia tak berkalimat sepatahpun.
Sama seperti teori gerak udara.
Dia diam ukuran mata, tapi sisi dalamnya tak pernah diam, sehingga memberitahukan padaku apa yang dibenaknya, lupa jika akses terlanjur dibuka.
Yang memiliki memberi kepada yang tidak memiliki, tak mungkin sebaliknya.
4.16.2012
Mengingat
"Ingin melupakan sesuatu?" tanyanya, sambil meletakan gelas, dan duduk dipangkuanku tanpa ada rasa canggung.
"Bukan, hanya ingin mengingat" jawabku.
"Apa aku bisa mengingatkan sesuatu itu" sambungnya dengan senyum nakal dari bibir yang dilapisi lipstik tebal murahan. Aku hanya menggeleng. Dan diapun pergi dengan perubahan drastis pada wajah menjadi masam.
Mirip menghitung potensi variabel linier individu. Menetapkan besaran kapasitas maksimum juga minimum , dari pengaruh variabel luar maupun dalam individu itu sendiri. Menentukan kemungkinan, dari kesadaran tertinggi hingga terendah.
Membiarkan logika juga insting menafikan kecerdasannya.
Seperti membuktikan teori kemungkinan darinnya yang dulu diucap.
4.14.2012
Embun malam
Bulan tampak terang sempurna, burung malam sesekali bersuara diantara derik serangga, sedang embun mulai turun, terasa tokoh malam yang sebenarnya ingin mengambil alih peran.
Aku menutup wajah dengan kedua telapak tangan, rasa berat mengungkapkan tentang dia, perasaan masih tak karuan
" Ya... Memang susah kalau menyangkut perasaan, disimpan menyakiti dibuang sayang" kata guru Wahab sambil menepuk bahuku.
"Namanya Kemala; dan aku sangat mengaguminya"
Tak mampu lagi sudah rasanya melanjutkan cerita, hanya ada nafas yang terasa makin sesak .
"Maafkan aku Kemala, aku bodoh" lirih aku ucapkan.
Mengambil Gambar
Aku sempatkan mengambil gambar sederhana pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...
-
Tubuh Dewi masih terlihat sangat letih, letih tubuh juga perasaan. Dewi masih enggan untuk menemui Arya. Selalu timbul perasaan malu jika t...
-
Waktu dan ruang selalu setia memberi kesempatan kepada alam dan seisinya untuk larut dalam pencariannya masing-masing, mempersilahkan hidup ...
-
Segala kemampuan yang dimiliki Beng bukanlah berarti menjadikan sesuatunya bisa lebih mudah. Jantung Urip berdegub lebih kuat begitu meng...