4.23.2012

Catatan kecil

Perempuan yang sekarang berada disampingku memberikan teduh atas lemahnya aku. Walaupun dia seorang pelacur tapi dia memiliki nafas ikhlas atas kehidupan.
Mungkin kehidupan selalu begitu, sesuatu yang kita inginkan seolah akan dapat diraih, tapi kenyataan justru menghadirkan yang lain dari keinginan awal.
Jika aku mulai sadar sesungguhnya keyakinan hanya konstruksi sangka yang selalu memberi gambaran seolah semua nyata pun kecerdasan logika dan insting ikut menuntun, ketika giliran kehidupan yang nyata menyatakan wujudnya maka hasilnya tak jarang kita menolak kenyataan yang sekarang ada.

4.21.2012

Kopi pagi


Aroma kopi menyapa lebih awal sebelum aku membuka mata diantara segarnya udara yang mesuk melalui jendela. Uap tipis tampak dari cangkir warna putih di ujung meja sudut kamar. Terlihat dia didepan cermin sedang menyisir rambut, dari pantulan cermin matanya mulai melihat aku yang terbangun.
“Hai…, kau tampak cantik tanpa make up” sapaku, dia masih tak lepas pandang dari pantulan cermin.
“Gombal.. laki –laki selalu pintar merayu” dia alihkan pandang pada deretan make up di meja riasnya.
“Jam berapa turun kerja?” tanyaku.
“Juragan hari ini mengunjungi saudaranya di Kalimantan Barat, mungkin bisa seminggu aku libur” dia menoleh kearahku.
“Semalam belum kau jawab, apa dia cantik sekali” dia masih penasaran, malah aku merasa jika dia cemburu, bukan sedang menanyakan. Bukankah aku dan dia baru sehari semalam mengenal, terlalu dini jika cemburu, mungkin dia iri soal nasib.
Aku bangkit untuk menikmati kopi hangat yang dihidangkan dan sesaat beradu pandang , aku merasa dilubuk hatinya merindukan kehadiran teman hidup, untuk dilayani dan disapa disetiap pagi hari. Terlihat dari wajahnya ada kekosongan arah tujuan, seolah aku ditarik kedalam catatan hidup yang dilalui.

“Sering orang mengartikan hubungan sebagai cinta, yang ujungnya kecewa mungkin juga bosan. Sering cinta hanya merupakan  keinginan penguasaan atau sekedar ingin saja yang terekayasa menjadi rindu, sering cinta memaksa pasangannya untuk seirama dengannya, dan akan marah ketika pasangannya tak bisa mewujudkan apa yang diinginkan, tidak sesuai dengan pikirannya dan lupa jika masing-masing individu dilahirkan berbeda dan kemudian untuk saling mengisi dan memahami demi kehidupan.
Cantik bukan dari ukuran rupa, rupa akan segera sirna. Kerinduan yang tak akan pernah sirna ketika seorang kekasih ikhlas di kehadirannya, tanpa mengeluhkan tentang pasangannya, menerima apapun pasangannya. Kekasih adalah tempat istirahat dari segala lelah pengejaran duniawi, tempat berbagi bahagia, tepat bersandar ketika kita tak berdaya, lemah, bahkan saat sakaratul maut.
Kau telah memberi  teduh kepadaku, kau lakukan semua ini tanpa kulihat keluhan diwajahmu, dan aku bisa merasakannya, tentu aku akan selalu mengingat dan merindukanmu. Aku tak bisa membayangkan jika kau berwajah seperti bidadari namun kau bangunkan aku dengan menyiramkan air di wajahku sambil menyumpah.
Aku tak melihatmu sebagai status sosial, tapi bagaimana kau tersenyum, ketika kau peduli, ketika ikhlas menghiasi setiap nafasmu. Kau sudah lebih dari bidadari” 

Ceritaku terhenti ketika terlihat sorot matanya melemah  lalu dia menundukan kepala. Sesaat aku berfikir, salah cerita aku rupanya. Ini  mungkin yang tak pernah aku fahami tentang perempuan.
“Selama ini hubungan kalian seperti apa?”
Aku hanya tersenyum, mencoba merubah suasana, mencari kondisi yang agak nyaman, agar rilex kembali tapi tetap saja seolah terlanjur suasana berganti. Aku hela nafas panjang melepas muatan perasaan.

4.20.2012

Tanyanya

"Kau tadi banyak bicara, kenapa sekarang diam" tanyanya sambil dia baringkan tubuhnya dengan posisi miring membelakangiku.
"Siapa dia, kelihatannya kau sangat mencintainya"
Aku tak menjawab, aku masih bingung terhadap dia, kenapa dia tampak seolah biasa saja.

Sinar kilat sesekali tampak diikuti suara gemuruh, sisanya hanya bisu dan badanku yang terasa kotor, maka perasaan salah dan dosa terasa lebih lekat. Aku tak menduga sampai sejauh ini.
"Aku habis berapa loki tadi" tanyaku memastikan sejauh mana kesalahanku.
"Nggak kehitung" sambil dia memindah posisi setengah menghadapku, matanya mencermati wajahku seolah ingin menggali.
"Perempuan itu pasti cantik" tanyanya lagi.
Aku menghela nafas.
"Dia di Belanda" aku masih belum siap menjawab pertanyaannya, dia masih asing bagiku, tapi aku merasa menjadi tamu, tak mungkin aku diam.

4.18.2012

Tersadar

Rupanya aku tadi kebanyakan minum arak. Entah dirumah siapa aku sekarang, tampak asing.
Terdengar suara lirih, aku palingkan kepala, terlihat perempuan masih mengenakan mukena diatas sajadah tampak kusuk berdoa, kedua tangan menyatu didada, begitu damai.
Ada rasa aneh dari tidurku, dan ketika aku pastikan ternyata benar, aku tak berpakaian sama sekali, hanya selimut menutupi.
"Apa..tadi.."aku malu menaya.
Perempuan itu menoleh dan tersenyum.
"Ya, tadi kita melakukannya, temanmu mengantar kita kerumah ini, dia memintaku melayanimu. Jangan kawatir dia sudah bayar semua"
Terkejut aku mendengar. Aku ingat jika dia perempuan yang di kedai arak, aku ingat Jabis tadi datang menemani aku minum.
"Heran ya, kalau pelacur gak boleh sholat? Gak boleh berdoa?. Aku pelacur yang mencoba berTuhan, bukan Islam, jangan salah paham"
"Bukan begitu maksudku" aku bangkit tapi kepala masih berat.
"Sudah tidur saja, di rumah ini hanya ada kita, lagian masih jam dua, diluar juga hujan, mau kemana ?"

4.17.2012

Lupa

Udara bergerak menuju tempat yang kosong atau tempat dimana udara lebih renggang selama ada akses, begitu teorinya jika tak salah.
Sedang aku hanya mengandalkan nalar dan insting, perasaan rendah, sangka baik tak, buruk tak.
Mungkin dia bisa memutuskan untuk tidak bertemu lagi, tapi bisakah perasaannya juga berlaku sama. Sayangnya dia lupa jika lini luarku saja yang tampak penuh dan mengisi dalam wujud kalimat yang membosankan, tapi lini dalamku kosong. Rasaku lemah, sedang dia punya rasa apapun itu wujudnya. Alhasil rasa yang dimilikinya mengalir mengisi kosong perasaanku.
Lalu salahkah ketika aku merasakan apa yang dia rasa, ketika dia merasa makin bosan dan ingin berhenti tercampur rasa goda, walau dia tak berkalimat sepatahpun.
Sama seperti teori gerak udara.

Dia diam ukuran mata, tapi sisi dalamnya tak pernah diam, sehingga memberitahukan padaku apa yang dibenaknya, lupa jika akses terlanjur dibuka.
Yang memiliki memberi kepada yang tidak memiliki, tak mungkin sebaliknya.

4.16.2012

Mengingat

Di warung sudut pasar tradisional di daerah Sungai Pinang aku duduk menghadap meja kecil dengan 12 gelas loki yang sudah kosong, mata rasanya ingin terpejam menikmati hanyut dikepala, seorang perempuan tengah baya menghampiri dengan tangan membawa dua loki arak memenuhi permintaanku.
"Ingin melupakan sesuatu?" tanyanya, sambil meletakan gelas, dan duduk dipangkuanku tanpa ada rasa canggung.
"Bukan, hanya ingin mengingat" jawabku.
"Apa aku bisa mengingatkan sesuatu itu" sambungnya dengan senyum nakal dari bibir yang dilapisi lipstik tebal murahan. Aku hanya menggeleng. Dan diapun pergi dengan perubahan drastis pada wajah menjadi masam.

Mirip menghitung potensi variabel linier individu. Menetapkan besaran kapasitas maksimum juga minimum , dari pengaruh variabel luar maupun dalam individu itu sendiri. Menentukan kemungkinan, dari kesadaran tertinggi hingga terendah.
Membiarkan logika juga insting menafikan kecerdasannya.
Seperti membuktikan teori kemungkinan darinnya yang dulu diucap.

4.14.2012

Embun malam

"Dia perempuan yang membuatku kehilangan arah, setengah nafasnya selalu terhembus ditelinga kiriku dan bayangannya mengisi di tiap denyut nadi" jawabku lirih dan guru Wahab hanya manggut-manggut nampak mencermati ceritaku.
Bulan tampak terang sempurna, burung malam sesekali bersuara diantara derik serangga, sedang embun mulai turun, terasa tokoh malam yang sebenarnya ingin mengambil alih peran.
Aku menutup wajah dengan kedua telapak tangan, rasa berat mengungkapkan tentang dia, perasaan masih tak karuan
" Ya... Memang susah kalau menyangkut perasaan, disimpan menyakiti dibuang sayang" kata guru Wahab sambil menepuk bahuku.
"Namanya Kemala; dan aku sangat mengaguminya"
Tak mampu lagi sudah rasanya melanjutkan cerita, hanya ada nafas yang terasa makin sesak .

"Maafkan aku Kemala, aku bodoh" lirih aku ucapkan.

Mengambil Gambar

Aku sempatkan mengambil gambar sederhana  pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...