4.12.2012

Dingin malam

Malam semakin larut dan dingin mulai terasa, sedang bulan telah di atas kepala, guru Wahab masih belum tampak lelah. Kami berdua terdiam kehabisan bahan canda, aku nyalakan rokok sekedar mengisi kekosongan suasana, aku dengar desah nafas dari guru Wahab yang lebih terasa sedang melepaskan beban pikiran, suasana menjadi lengang.
"Tadi ibu memintaku menemuimu disini. Ujar ibu kau sedang kacau. Tapi setelah melihat kau tertawa, apa yang dicemaskan" beliau menatapku dengan sedikit senyum lalu menambahkan kayu ke api.
"Kau mau berbagi, siapa perempuan itu"
Aku terdiam, udara semakin terasa dingin, entah apa yang akan kusampaikan tentang Kemala, sedang aku hanya menyimpan rindu atau benci yang tak pernah aku mengerti.

4.11.2012

Wahab.

"Mengambil kesempatan dari dua pertiga malam yang dijanjikan" suara dari kejauhan yang tak terlalu jauh. "salam alaika ya salam" menyambung kalimatnya dari hela nafas.
Aku curiga, sedang seharian aku larut dalam halusinasi, apa mungkin masih tak beres otakku " jangan kau dahulukan sangka, sedang yang kau hadapi nyata"
Guru Wahab menghampiri dudukku lalu mengambil ranting dari api unggun untuk menyalakan rokonya.
" Santai man.." beliau menepuk punggungku dengan keras dan aku mulai yakin jika ini benar guru Wahab, terasa dari hangat dan santainya komunikasi.
Walau usia beliau sudah diatas enam puluhan lebih namun beliau sangat energik, kritis, dan sering bercanda, aku sering berhati-hati jika berkata sesuatu, bisa-bisa aku diulas habis-habisan. Sering aku memilih aman dengan kalimat canda.
"Apa... Be te mikir dia" di susul ketawanya yang terasa membunuh sang malam

Bulan

Sekitar sudah mulai gelap. Aku tetap tak ingin beranjak, hanya berdiam merasakan segenap alam mengganti episode dengan tokoh-tokoh malam. Aku tak memerlukan alasan lain, selain membiarkan segala indra hanyut sejajar dengan perasaan.
Mudah aku menemukan ranting-ranting untuk menyalakan api sekedar menghangatkan badan. Tampak bulan mulai mengintip disebelah timur, di balik pepohonan. Langit tampaknya cerah sehingga bintang-bintang tampak bertabur. Malam yang sempurna, semakin sempurna ketika tampak bayangan bulan di alir air sungai yang perlahan.
Aku hisap rokok dalam-dalam ketika menatap kecantikan bulan. "Kemala" kusebut namanya lirih.
Setengah dari hatiku mengharap dia bahagia di sana.
Yang aku ingat hanya senyumnya yang sering disembunyikan ketika dia merasa bahagia.
Tak terasa aku tersenyum ketika mengingat kebahagiaannya.
Bulan yang setia bersama malam, dulu sering menjadi saksi.
Dan sekarangpun menyaksikan.

4.08.2012

Kembang

Aku mencoba melupakan semua. Mengalihkan pandangan pada hamparan luas kebun jagung yang hijau, terasa damai, alam begitu santun, aroma ladang menyusup di sela kedamaian yang alam berikan.
Tertuju mata pada kuntum kembang liar, rasa tergerak hati untuk mendekati.
Warnanya putih dengan kuning lembut tipis pada ujung mahkota, menampakan ekspresi yang menggoda dibalik lembut pesonanya. Naluriku lebih menguasai dan aku menciumnya, ada bau yang lumbut, ada kudus didalamnya bercampur dengan tipis sapa menggoda.
Serasa mencabut perasaan. Serasa membawa terbang, mengembalikan hayalku padanya.
Lembut harum ini terasa seperti lembut harumnya. Ya sama.
Dia yang di belanda dan kini aku takluk dibuatnya.

Bisu

Aku dan dia hanya bisa saling pandang dari jendela, tak mampu berkalimat, tapi dari sinar mata yang lebih jujur, dan sama-sama tahu apa artinya dan tak perlu bicara.
Kebisuan mewakili sentuhan, mewakili bisik perasaan, larut dalam cemooh ketidak mampuan.

Aku mulai bertanya, inikah akhirnya konstruksi. Tapi setengahnya hati mengatakan bukan ini.

4.05.2012

Cinta Telah Mati

Jika telah satu wadah dua hati, apa mungkin masih saling gapai, bukankah menggapai hanya berlaku jika masih terpisah.
Bukankah ini berarti cinta telah mati, bukankah cinta hanya dorongan reproduksi atau hasrat penguasaan terhadap materi.

Cinta bukanlah kekal. Aku dan dia telah bersama membunuhnya dengan tali rindu.

Sedang disisi lain Kasih dan Sayang menunggu menawarkan aroma yang menggoda dan disisi yang lainnya lagi sibuk mencemooh dengan pertanyaan " mungkinkah tanpa darah dan tulang"

Benar katanya

Sekarang tinggal menyisakan rindu yang membingungkan. Kehadiran justru melukai dan kepergian justru merobek hati.
Segala sisi telah buntu. Iblis tak tak lagi memerlukan persetujuan, dia sudah tak sabar dan mendahului langkah dengan menyatukan kedua hati dalam satu cawan. Cawan milik dewi.
Ada kalimat darinya yang sering terlintas dalam ingatan" tak selalu mengambil wujud darah dan tulang" begitu bunyinya.
Kalimat darinya itu sekarang terjadi. Hubungan tanpa darah dan tulang.

Mengambil Gambar

Aku sempatkan mengambil gambar sederhana  pagi tadi. Sekedar rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Aku gunakan lensa canon 55 - 250mm pula ap...